Rectoverso

Poster Film Rectoverso

Di tengah-tengah kesibukan, saya menyempatkan diri untuk menonton film Indonesia di bioskop dan saya pun memilih Rectoverso, sebuah film Omnibus yang diangkat dari novel berjudul sama yang dikarang oleh Dewi Lestari. Omnibus adalah penggabungan beberapa cerita terpisah dengan sebuah benang merah, menjadi sebuah tontonan yang menarik dan menyegarkan.

Film ini hanya mengambil 5 kisah yang diambil dari novel Rectovers

1. Malaikat Juga Tahu – Angel Knows

Director : Marcella Zalianty

Writer : Ve Handojo

Sinopsis : Abang (Lukman Sardi) adalah penderita autism yang tinggal dengan ibunya yang memiliki kost-kostan. Salah satu anak kost adalah Leia (Prisia Nasution), satu-satunya yang bisa mengerti Abang. Abang jatuh cinta padanya sementara Bunda (ibu Abang) sangat cemas karena tahu hubungan yang diharapkan Abang tidak akan pernah terjadi. Kecemasan Bunda bertambah ketika Han, adik Abang, datang. Hubungan Leia dan Han pasti akan membuat Abang terluka.

Menurut mwulan : Aktingnya Lukman menjadi nilai plus di cerita ini, ia sangat menghayati perannya sebagai seorang autis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2. Firasat – Premonition

Director : Rachel Maryam

Writer : Indra Herlambang

Sinopsis: Senja (Asmirandah) bergabung dalam Klub Firasat, dimana setiap minggu para anggotanya berkumpul untuk berbagi cerita dan berbagai pertanda. Senja bergabung ke dalam klub itu karena ia selalu mendapat firasat setiap akan ditinggal oleh orang terdekatnya. Ini terjadi sebelum bapak dan adiknya meninggal dunia dalam kecelakaan.   Alasan lain yang lebih kuat adalah pemimpin Klub Firasat yang bernama Panca (Dwi Sasono). Seorang lelaki kharismatik yang ketajaman intuisi dan pengalamannya soal mendalami firasat begitu mengagumkan. Senja jatuh cinta pada Panca. Hingga suatu saat ia mendapat firasat buruk bahwa seseorang akan meninggal.

Menurut Wulan : Lagi-lagi ceritanya tertolong oleh kualitas acting pemerannya, yaitu dari Asmirandah. Selain acting, yang lumayan oke wardrobe pemain. Selain dari itu, biasa saja..

 

3. Cicak di Dinding — Lizard on the Wall

Director : Cathy Sharon
Di suatu malam, Taja (Yama Carlos), seorang pelukis muda yang masih lugu, bertemu dengan Saras (Sophia Latjuba), seorang perempuan free-spirit yang jauh lebih tahu dan lebih berpengalaman. Saras memberikan malam yang sangat berkesan saat itu. Tanpa direncanakan, mereka bertemu lagi. Kali ini mereka berusaha membangun pertemanan, meskipun akhirnya Taja tak kuasa untuk jatuh cinta pada Saras. Saras memutuskan untuk pergi, menghilang dari hidup Taja, dan meminta Taja untuk tidak mencarinya. Enam tahun kemudian, Taja yang sekarang telah menjadi pelukis terkenal bertemu Saras di pamerannya, namun Saras membawa kejutan yang menentukan hidup mereka berdua.

Menurut Wulan : Kisah yang orisinil, ada unsur cicak di dalamnya, di mana cicak menjadi benda bersejarah di antara mereka, tanpa mereka sadari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4. Curhat buat Sahabat — Stories for My Best Friend

Director : Olga Lidya

Writers : Ilya Sigma & Priesnanda Dwi Satria

Meskipun berbeda sifat, Amanda (Acha Septriasa) yang supel dan ceria mampu menjalin persahabatan dengan Reggie yang sabar, kalem, dan siap mendengarkan curhat Amanda kapanpun itu. Kapanpun Amanda butuhkan, Reggie selalu hadir. Suatu saat, Amanda jatuh sakit. Ia sadar bahwa tidak ada satu orangpun yang bisa ia mintai tolong bahkan pacarnya. Hanya Reggie yang bisa menolongnya. Pertolongan Reggie membuat Amanda menyadari bahwa yang ia butuhkan selama ini hanyalah orang yang menyayangi dia apa adanya dan orang tersebut adalah Reggie. Namun di lain pihak, diam-diam Reggie mulai menyadari bahwa cinta ini sudah terlalu tua untuk dirinya.

Menurut Wulan : Kisah ini kisah yang paling membosankan dan standard banget. Ketika menyaksikan cerita ini, rasanya seperti nonton FTV di siang hari!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5.  Hanya Isyarat — It’s Only a Sign

Director : Happy Salma

Writer : Key Mangunsong
Lima orang backpackers bertemu lewat forum milis. Meskipun baru beberapa hari bertemu, Tano, Dali, Bayu dan Raga tampak sudah akrab bagaikan sahabat lama, amat kontras dengan Al yang selalu menyendiri dan menjaga jarak.  Diam-diam, Al telah jatuh cinta pada Raga, sosok yang selama beberapa hari ini hanya mampu dikagumi dari kejauhan siluet punggungnya saja.
Di suatu malam, kelima orang ini mengadakan permainan kecil, yaitu berlomba menceritakan kisah paling sedih yang mereka punya. Saat Raga menceritakan kisahnya, Al semakin terpukul.
Meskipun Al keluar sebagai pemenang, namun Al semakin terseret pada daya tarik Raga, lelaki yang mungkin tak akan pernah ia miliki selamanya karena sebuah rahasia besar dalam diri Raga.

Menurut Wulan : Menonton kisah ini seperti nonton cerita yang sangat pendek yang biasanya ada di majalah remaja. Ga ada yang bikin greget!

Secara keseluruhan, menurut saya film ini membosankan, membuat saya ngantuk. Entah karena saya belum membaca novelnya atau karena memang begitu keadaannya. Yang jelas, baru kali ini saya mengantuk dan merasa bosan di bioskop. Ga ada yang bikin gregetan!

This entry was posted in Movies.

Leave a Reply