Oh, Gini Tho Namanya “Nembung”

“Hanya Wulan Seorang” itulah yang diucapkan oleh pasanganku saat ditanya oleh ayah di acara yang orang Jawa bilang “nembung”. Sebelumnya ayah bertanya kepadaku terlebih dahulu apakah ada orang lain di hatiku/adakah orang yang melamarku selain mas Fikri?, sebelumnya aku tidak mengerti apa arti dari pertanyaan ayah, maka aku pun hanya senyum-senyum saja dan Salah satu om-nya Mas mengatakan jika senyum-senyum berarti tandanya “iya”. Aku pun mengiyakan dengan tersipu….

Jadi, pada tanggal 10 Maret 2013 diadakan pertemuan keluarga antara aku dan pasanganku. Sebelumnya, agenda acara hanyalah pertemuan keluarga saja, namun acara sedikit berubah menjadi acara nembung. Acara ini dihadiri oleh keluarga inti aku, dan bibi dari Garut beserta anak-anaknya yang masih kecil, sedangkan dari pihak Mas Fikri hadir orang tuanya dari Wonogiri beserta om-om dan tante-tantenya.

Sebelum acara berlangsung memang ada ‘tragedi’ yang cukup menguji kesabaran di antara kita, dan Alhamdulillah kami bisa menjalaninya sehingga acara saat itu tetap berjalan dengan lancar. Setelah Mas Fikri dengan lantang menjawab pertanyaan ayah, Bu dhe-nya yang tinggal di Cikupa mewakili keluarga untuk menyematkan cincin di jari manis sebelah kiri. Hari itu saya pun resmi ‘diikat’..

Beberapa hari kemudian, saya baru menyadari bahwa cincin yang sudah tersemat di jari ada inisial huruf A-nya yang letaknya di bagian dalam cincin… is it a sign? 😀  A for Ahmad Zainul Fikri..

 

 

Leave a Reply