Sayang Tubuh dan ‘Dompet’ di Inan Salon

Dalam satu bulan, saya selalu menyempatkan diri untuk merawat tubuh, dan saya ini sangat suka mencoba perawatan dari tempat spa yang satu ke yang lainnya, di Minggu ketiga bulan April saya memutukan untuk melakukan perawatan di “Rumah Cantik Citra” di Tebet. Dengan semangat 2013, saya berangkat dari kampus ke Tebet, dan ketika sampai di sana saya kecewa, bukan karena tempatnya penuh, tapi saya tidak diperbolehkan melakukan perawatan karena sedang haid. Saya baru tahu ternyata wanita yang sedang berhalangan dilarang untuk melakukan pemijatan, bahkan di hari-hari terakhir haid.

Dengan bersungut-sungut, saya pun memutuskan pergi ke daerah Ragunan (bukan untuk menengok monyet dkk), tapi pergi ke Inan  Salon & Spa yang lokasinya dekat dengan kantor saya yang dulu, tepatnya di Jl. Harsono R.M No. 2 Ragunan, Jakarta Selatan. Di sana tidak mempermasalahkan saya sedang haid atau tidak, jadi perawatan must go on! Yeayyy…. Namun saya tidak mengambil perawatan sauna karena saya tahu wanita yang sedang haid tidak boleh melakukan sauna agar darahnya tidak naik ke mata.

Inan Salon ini selalu ramai meski mereka tidak ada promosi sama sekali, jadi mereka terkenal berdasarkan pelanggan yang melakukan word of mouth. Di sini mereka membiarkan pelanggan yang memasarkan produknya (Waduh, jadi menulis tentang marketing… Maaf. Maaf… Ga bermaksud 😀 ). Saya pun tau Inan Salon ini dari saudara saya yang memang pelanggan setia di sana.

Pasti pembaca yang selalu happy ini (amiiinnn) penasaran sama harganya. Harganya sangat terjangkau! Dengan mengeluarkan uang sebesar Rp. 60.000 – Rp. 150.000  teman-teman bisa melakukan perawatan tubuh. Pada kunjungan saya kesana, saya mengambil paket “Keraton Spa” dengan harga Rp. 90.000,- sudah termasuk sauna, massage, scrub, dan masker tubuh.

Sesuai yang tertera di daftar perawatan, Keraton Spa berfungsi untuk mencerahkan tubuh, menghaluskan kulit, selayaknya Putri Keraton karena dasar untuk scrub dan maskernya menggunakan rempah-rempah. Total waktu perawatan 90 menit (cukuplah buat persiapan malam minggu-an atau ke kondangan). Meski tanpa reservasi, kita bisa datang langsung ke Inan Salon tanpa harus menunggu lama, cukup 5 – 15 menit karena Inan Salon mempunyai banyak ruangan dan theraphyst.

Yuk ramai-ramai perawatan di salon lokal agar kita juga turut membantu perekonomian para karyawannya.

 

Photo by : rileks.com

This entry was posted in Review.

Alhamdulillah Masih ada Orang Jujur dan Sudah Ada Sistem yang Canggih!

Siapa di sini yang pernah kehilangan ‘gadget’? Atau mungkin kehilangan barang kesayangan? Pasti di antara pembaca yang budiman pernah ada yang merasakan kehilangan-kehilangan. Kehilangan pacar, sampai kehilangan file buat skripsi atau tugas. Pastinya nyesek banget, kan? Itulah yang saya rasakan ketika iPad saya tercinta (karena satu-satunya) ketinggalan di taksi. Pasti teman-teman langsung nanya taksi apa? Jawabannya Blue Bird! Daaaannn teman-teman saya yang mendengarnya langsung tidak peduli karena mereka tahu jika barang tertinggal di Blue Bird, mayoritas aman dan selalu kembali kepada yang punya, ada lagi yang tidak peduli karena saya adalah karyawan Blue Bird yang mana mereka tidak khawatir barang saya hilang di ‘taksi sendiri’.

Jadi kejadiannya begini, Selasa 17 Februari 2013 sekitar pukul 8 malam lebih sedikit, saya menggunakan taksi Blue Bird (tentunya) dari Mampang ke rumah (Pejaten Barat), lalu saya menyimpan iPad di sebelah saya (tidak dimasukkan ke dalam tas karena penuh). Ada yang aneh pada malam itu,

Apa yang aneh, Lan? Pengemudinya berubah jadi Superman?

Bukaaaannn…. Jadi, selama dalam perjalanan, saya sama sekali tidak menyentuh iPad, padahal biasanya saya selalu ‘menyentuh’ iPad saya yang tidak pernah mati (kecuali ketika saya sakit parah). Sesampainya di rumah, saya langsung ke kamar dan masuk toilet karena ada ‘urusan pribadi’ yang tidak bisa ditahan lagi. Sesudah ‘urusan-yang-sangat-penting’ itu selesai, saya mau update status nih ceritanya… Eh, si iPad ga saya temukan di tas hitam saya. Saya panik dan mengobrak-ngabrik seluruh isi kamar, bahkan saya mereka  kejadian ketika saya masuk rumah sampai saya ke toilet.

Saya cek rak pot tanaman, ah mana mungkin ada di sini, nanti disiram sama ibu..

Saya cek di kompor, ah tambah gak mungkin, nanti dijadiin penggorengan sama ayah..

Saya cek di kolong meja, mungkin juga siih.. Siapa tahu saat itu saya sedang khilaf.

Setelah dipikir-pikir, oh iya! Kemungkinan tertinggal di taksi yang tadi saya naiki. Naasnya saya tidak hafal nomor taksi tersebut, yang saya hafal nomor depannya saja,yaitu “BJ” yang poolnya di Warung Buncit (Satu tempat dengan kantor pusat, dan kebetulan pacar saya supervisor-nya. Hehhe….). Langsung saya menghubungi pacar saya yang kebetulan pada saat itu sedang istirahat karena sakit. Pacar saya menghubungi bagian operasi pool dan customer care Blue Bird Group untuk melacak nomor taksinya terlebih dahulu.

Saya senewen dan meminta ayah untuk mengantarkan saya ke kantor. Sesampainya di kantor, saya langsung menghampiri bagian checking sampai-sampai petugasnya keheranan. Harapan saya hilang karena mereka tidak menemukan adanya iPad berwarna putih. Harapan saya tumbuh kembali ketika berada di ruang operasi meter, saya dibantu oleh pembina pengemudi untuk mengecek pengemudi yang membawa saya dengan menyebutkan ciri-cirinya, tapi ternyata tidak ketemu.Harapan saya pecah lagi.. Dengan langkah-tidak-lebih-dari-seribu, saya menuju ke tempat customer care. Mereka mempunyai sistem yang bisa melacak taksi yang membawa saya, bahkan saya tidak ingat dengan nomornya. Hebaaattt kaaan…?! *promosi terselubung*. Sesampainya di sana, saya bertemu dengan petugas Customer Care bernama Mba Dian dan beliau mengabarkan bahwa iPad saya sudah ditemukan dan diamankan oleh Pak Mukhlis (pengemudi)dengan nomor lambung taksi BJ 5382 yang posisinya sudah berada di sekitaran Semanggi.

Tuh kaaan jauhnya Pejaten - Semanggi (9.8 km)

Tadinya saya menyuruh Pak Mukhlis untuk datang ke kantor saat itu juga karena saya tidak bisa tidur tanpa iPad saya (ini beneran sedikit lebay), namun keadaan tidak memungkinkan karena saat itu ia baru saja menaikkan penumpang dan kondisi sedang macet. Akhirnya setelah saya pamit-pamitan dengan tim customer care, lalu tim operasi, dan mengabari pacar saya, saya pulang ke rumah dengan hati tenang. Alhamdulillah Wa syukurillah…

Sebenarnya saya tidak meragukan Blue Bird dan pengemudinya, hanya saja saya takut sebelum pengemudi yang menemukan barang, ada penumpang naik dan dia mengambil barang tersebut. Untungnya selama dari Pejaten hingga Semanggi (yang jaraknya mencapai puluhan km), taksi dalam keadaan kosong dan pengemudi sudah ngeh kalau ada iPad saya yang tertinggal.

Akhirnya saya ke ruang operasi meter di pagi hari dan bertemu dengan Pak Jati (Supervisor Shift 1 yang sedang bertugas) untuk serah terima barket. Ahh,, akhirnya saya tanda tangan di atas kertas tanda terima barket, dan nanti pengemudi dan iPad saya ada di daftar barket yang ada di majalah Mutiara Biru :D.

Tanda Terima Barang Ketinggalan :)

Terima kasih untuk:

Mas Fikri, Supervisor Operasi Meter Pool Warung Buncit, merangkap pacar yang saya cintai, yang sudah saya bentak-bentak karena ga hapal pengemudinya yang rambutnya udah ubanan semua :p *peace*

Mba Dian dan tim Cust Care yang sigap mengatasi masalah

Pak Santoso, Pak Heru, dan ops meter pool Buncit yang ikut kerepotan atas complain barket (barang ketinggalan) dengan nomor B-38 ini.. hehe :p

Petugas checking yang membantu mencari data nomor mobil yang sudah masuk ke pool

Ayah yang mengantarkanku balik ke kantor

Pak Mukhlis dengan nomor taksi BJ 5362 yang sudah mengamankan iPad saya

Tips untuk teman-teman:

  1. Usahakan untuk naik taksi terpercaya seperti taksi dari Blue Bird Group
  2. Selalu mencatat nomor lambung taksi
  3. Jangan lengah di dalam taksi
  4. Ketika turun dari taksi, cek barang bawaan

(sumpah ini bukan advertorial!) :p

Sekian dan terima kasih ya para pembaca yang budiman… Semoga teman-teman tidak akan kehilangan apapun itu yang berarti. Jika memang harus hilang, ikhlaskanlah.. (Sok jadi motivator :p)

 

 

 

Belajar Membuat Pancake

Hari ini entah mengapa ada yang menggerakkan hati, otak, otot, jiwa, dan raga saya untuk belajar memasak (halah lebay :p). Target saya adalah memasak menu sarapan karena biasanya pagi hari seringkali bingung apa yang ingin disantap untuk sarapan, sementara kebanyakan penjual makanan baru menjajakan makanannya di siang hari.

10 April 2013 sepulang dari kantor saya memutuskan untuk pergi ke sebuah pusat perbelanjaan dan entah mengapa saya mengarah ke tempat bumbu dan bahan makanan mentah. Di sela bumbu-bumbu itu saya merasa asing karena tidak pernah ke sana (paling banter cuma buat beli bumbu penyedap). Pada akhirnya saya memutuskan untuk membeli bahan pancake, bahan membuat mashed-potato, dan bahan untuk membuat sup makaroni ayam. Sesudah membeli bahan-bahan itu saya baru sadar, terus peralatan yang digunakan untuk memasak ini semua pakai apa ya? Pergilah saya ke tempat display teflon, penggorengan dsb karena peralatan ibu di rumah belum lengkap.

Masih dalam perjalanan ke kasir, saya masih merasa heran mengapa saya membeli barang-barang ini. Ah entahlah, mungkin ini sebuah ‘hidayah’ untuk memulai masak. Sesampainya di rumah, saya langsung memncuci peralatan yang ada, lalu membuat adonan pancake. Saya mengikuti instruksi yang ada pada dus, namun untuk takarannya menggunakan feeling saja karena saya sudah terbiasa melihat kakak sepupu membuat kue.

Mulailah saya menggoreng  adonan, hasilnya….. hangus, pemirsa! Tapi setelah dicoba rasanya enak. Lalu saya coba batch 2, ternyata hasilnya lebih bagus dari yang pertama. Setelah diselidiki, percobaan pertama gagal karena apinya terlalu besar. Ternyata saya tidak bisa langsung berhasil membuat pancake. Perlu latihan beberapa kali.. Phew…

*Mau posting fotonya, tapi keburu kehapus di kamera gara-gara virus 🙁 *

Doakan saya untuk sesi berikutnya yaa pemirsa….

 

‘Numpang Tidur’ di D’Griya Hotel, Serang, Banten

Kenapa saya menyebutnya hanya menumpang? Karena hotel ini cocoknya untuk tidur saja setelah seharian beraktivitas di Serang, Banten. Pada saat kunjungan saya ke sana 8 – 9 Februari 2013, hotelnya sempat mengalami renovasi di bagian samping dan belakang sehingga saya tidak yakin bahwa hotel ini bisa disewakan. Ternyata hotel ini masih mempunyai banyak kamar yang bisa diisi dan kebetulan saya memerlukan kamar yang banyak untuk tamu dari Jakarta yang akan berkunjung ke Banten dan sekitarnya dalam rangka liputan acara salah satu budaya, yaitu “Panjang Mulud”.

Saya menempati kamar yang mini, disebutnya deluxe room. Kamarnya mempunyai ciri khas seperti kamar kos-kosan, kecil namun berisi padat. Fasilitas yang ada di dalam kamar:

  1. Toilet dengan air hangat yang dapat digunakan dengan lancar (tidak ada kendala apapun)
  2. Lemari
  3. Meja
  4. TV 14″
  5. AC . Berjalan dengan baik
  6. Wi-Fi (Belum dicobain, sih..)
  7. Sarapan untuk 2 orang

Ketika membuka pintu, pemandangan inilah yang akan dilihat

 

Lemari Menyimpan Baju ada di dekat toilet

 

Lagi-lagi tas keliatan :p

 

Kasurnya enak banget buat ditidurin.. Hm,, apa mungkin karena capek ya

 

Toilet di D'Griiya Hotel

Nah, hal yang unik adalah restorannya, karena restorannya menyatu dengan kawasan receptionist dengan meja makan yang seadanya seperti meja makan rumahan. Untuk menunya? Hm, rasanya hambar seperti nasi goreng dan ayam goreng. Karena lapar, sikaaat saja…!

Untuk harganya terjangkau bagi para backpacker, nih…. Untuk Deluxe Room saja harganya Rp. 275.000,-. Ya, lumayan lah.. Kan cuma buat numpang tidur :p .

Setelah check-out, kami pun siap-siap untuk mengikuti tradisi Panjang Mulud… Yuk ikuti kisah selama di Cilegon, Serang, Banten sekitarnya di cerita-cerita selanjutnya..

Skor : 1,5/5

Tingkat kebersihan : 2,5/5 . Sayangnya wallpaper yang ada di kamar ini sudah mengelupas 🙁

Tingkat ‘ke-horor-an’ : 3/5 karena di malam hari saya sempat merasakan dan melihat sesuatu yang aneh di kamar yang saya tempati (bukan bermaksud untuk menakuti, tapi hanya membicarakan fakta), siluet putih yang muncul, hilang, muncul, dan hilang kembali.. Mungkin dia ngefans dengan Vidi Aldiano dengan lagunya ‘Datang dan Kembali’…

Dalu Hotel, Alternatif Menginap di Semarang Timur

Dalu Hotel adalah salah satu dari rekanan tempat saya bekerja, maka ketika saya melakukan perjalanan dinas ke Semarang, saya menempati hotel yang terletak di Jl. Majapahit 282 Semarang. Kali ini adalah kali kedua saya menginap di sini (13 – 15 Maret 2013). Hotel yang mengusung tema “Simply Unique Hotel” ini memang benar-benar simple dan unik. Simple karena di dalam ruangan yang kecil, mereka memanfaatkannya dengan baik, dan unik karena eksterior bangunannya yang unik dan nyentrik dengan sentuhan warna ungu (kunjungan sebelumnya saya mendapatkan kamar dengan serba warna orange).

Saya menempati kamar 104 di lantai 1, jadi tidak perlu menggunakan tangga/lift, tapi yang membuat tidak nyaman adalah terdengarnya suara bising kendaraan dan lalu lalang orang. Iseng-iseng saya menghitung jumlah kamar yang saya lewati untuk menuju ke kamar saya, 101…102…104.Lho, kok langsung 104? Ternyata kamar yang saya tempati seharusnya mempunyai urutan ketiga. Mungkin karena masyarakat di sana masih mempercayai mitos angka 3 ya..

Saya jadi merasa tersugesti, namun saya banyak berdoa agar diberikan perlindungan oleh Allah. Sialnya pada malam pertama saya menginap, saya bermimpi kuntilanak (sudah lama sekali saya tidak bermimpi hantu), hiiiy.. Saya pun terbangun dan menunggu subuh tiba dan cepat-cepat mendirikan salat subuh (aduh, pencitraan banget ga sih? Hehe) hingga matahari mulai terbit saya bergegas mandi dan pergi ke lantai 2 untuk sarapan.

FASILITAS

Hotel Dalu adalah hotel berbintang 2 yang ada di Semarang Timur dengan mempunyai fasilitas sebagai berikut:

  1. Waroeng Punakawan (Restaurant) = Makanannya biasa saja, sih… Menunya lumayan lengkap, pelayanannya ramah, dan restaurantnya juga bersih dan tertata. Lokasinya di lantai 2 dan Anda dapat menikmati makanan dan minuman dengan menghadap ke sebuah gunung (sampai sekarang saya belum tahu itu gunung apa).
  2. Ruang Kepodan yang muat untuk 50 orang
  3. Wi-Fi & Hot-Spot (Belum sempat coba)
  4. Gratis Antar Jemput ke bandara (Saya ga coba karena sudah pakai GOLDEN BIRD dari BLUE BIRD GROUP alias mobil dinas) :p
  5. Gratis cuci mobil (yang ini saya juga belum coba)

Di kamar sendiri fasilitasnya ada : LCD TV 32’’, brankas, lemari terbuka dengan gantungan baju, AC, kamar mandi dengan air hangat.

Duh keliatan tasnya 'gelatakan' :p

Toilet dengan nuansa ungu

Ketika saya menginap tanggal 13 – 15 Maret 2013 kemarin merasakan ketidaknyamanan karena Acnya berisik dan ketika saya melewatinya, saya tersembur air yang cukup banyak, haha…. Pelayanan room servicenya juga kurang memuaskan karena apa-apa yang saya pesan tidak tersedia, akhirnya memesan kentang goreng dan Pandawa Juice (campuran wortel+tomat+jeruk nipis) dan pengantarannya lama sekali hingga kelaparan.

Kentang Goreng dan Jus Wortel+Tomat+Jeruk (Pandawa Juice)

Lokasi Hotel Dalu (katanya) 2 menit dari pusat perbelanjaan, 5 menit dari Pintu Tol Gayamsari, 10 menit dari RS Bhayangkara, dan 15 menit dari Masjid Agung Jawa Tengah.

Harga :

Simply Room = Rp. 450.000

Unique Room = Rp. 650.000

(Harga sudah termasuk pajak 21% dan sarapan di Waroeng Punakawan)

Score : 2/5