Melangkahlah dari Kantor Pos Cikini dan Kau akan Menemukannya, Kedai Tjikini.

Kedai Tjikini (tampak depan)

Melangkahkan kaki dari kampusku yang berada di seputaran Menteng, aku menemukan sebuah restoran dengan interior kuno yang menamakan dirinya “Kedai Tjikini”. Teringat dengan novel dan film karya Dewi Lestari, aku pun memasukinya dan penasaran dengan menu yang disediakan. Siapa tahu aku bisa bertemu dengan pria sekeren Tansen a.k.a Vino Bastian :p.

Lokasi: Jl Cikini Raya No 17 Menteng, Jakarta Pusat

Kedai Tjikini terletak berjajaran dengan toko lainnya dan jika orang-orang tidak jeli, maka kedai ini seperti kedai usang dengan penjaga tua. Nyatanya, kedai yang berlokasi di Jl. Cikini Raya No 17 Jakarta Pusat (percis di sebrang Menteng Huis) ini selalu ramai dikunjungi oleh para tamu, terlebih yang sering datang ke sini adalah para turis asing. Pelayan di toko ini juga muda dan menggunakan seragam berwarna hitam.

Ruangan dibagi ke dalam dua bagian: smoking room dan non-smoking room. Dan yang saya foto ini adalah non-smoking room

Kasir di Kedai Tjikini

Pada kunjungan keduaku, aku mencoba untuk memesan kentang goreng original, es cincau, dan banana split. Berikut beberapa komentar dari menu yang sudah aku pesan :

–          Kentang Goreng ada pilihannya, mau rasa jagung, barbeque, pedas-manis atau original. Pada saat kunjunganku ke sini, yang tersedia hanya yang original.

Harga: Rp. 30.000,-

Penilaian: Kentangnya garing dan rasanya enggak worth-it untuk harga yang mahal..

Kentang Goreng dengan saos secukupnya. Jika kurang, mintalah...

–          Es Cincau (bisa pilih cingcau hijau/hitam) dan aku memilih yang hitam karena termasuk favoritku.

Harga: Rp. 18.000,-

Penilaian : Isinya hanya cincau dengan sirop cocopandan dan susu. Rasanya biasa banget, malah lebih enak es cincau pinggir jalan.

Es cincau sederhana, tapi rasanya oke juga kok..

–          Banana Split (dengan ice cream coklat, strawberry, dan vanilla).

Harga : Rp. 25.000,-

Penilaian : Nah, rasanya lumayan nih… Es krimnya juga ga gampang mencair, rasa pisangnya pas. Recommended!

Banana Split yang akan menjadi favoritku nih!

Tapi yang minus di sini adalah penyajiannya yang lama, dan anehnya dari ketiga menu tadi, yang diantar duluan adalah es cingcaunya, kemudian Banana Split, dan yang terakhir kentang gorengnya. Aneh ya…?

Good news bagi fakir wi-fi nih karena jangan merasa khawatir mati gaya (dan mati gadget) di Kedai ini karena di setiap meja yang mojok ke tembok ada stop kontaknya, dan wi-fi di sini juga ‘kencang’, lho..!

Overall, tempat ini asyik untuk nongkrong, internetan, atau meeting. Kalau untuk memuaskan lidah dan perut? I don’t think so..

This entry was posted in Review.