Ide yang Kreatif dari Pemilik Rumah di Heyday Pictures!

Siapa sangka bahwa salah satu rumah di kawasan Tanjung Duren Utara, Jakarta Barat terdapat studio foto yang mempunyai background dan tema foto yang unik. Tepatnya di Jl. Tanjung Duren Utara 3E No. 238. Rumah tersebut berpagar hitam dan terlihat seperti biasa.

Pemiliknya kreatif sekali karena ia menggunakan seluruh isi rumah menjadi set untuk foto. Dari halaman depan saja sudah dipakai set foto dengan tema taman disertai ayunan untuk berdua. Masuk ke ruang tamu, ruangan ini diset serba pink dengan sofa, boneka besar dan cupcakes yang bentuknya cantik-cantik.

Ada ruangan yang seharusnya dijadikan kamar di rumah biasa, oleh pemiliknya diubah menjadi set kamar dengan sofa seperti tempat tidur berwarna biru dengan bantal dan boneka yang unik-unik.

Ruang tengah dalam rumah ini dijadikan sebagai tempat menunggu dan tempat foto dengan background polos, dan di taman mini bagian belakang dibuat kembali set foto dengan tema garden, dan menurut pemiliknya set inilah yang menjadi favorit konsumen. Dan di tempat inilah saya beserta sahabat saya berfoto ria.

Set garden di halaman belakang (Komposisinya kurang oke nih...)

Foto yang saya suka hanya ini

Melongok ke ruang berikutnya, saya menuju dapur dan ternyata di dapur pun bisa dijadikan set foto, lho..! Kreatif ya nih orang-orang di balik layar Heyday Pictures! Puas melongok di lantai bawah, kami ingin melihat set yang ada di lantai atas. Oh ia, tangga menuju ke lantai 2 beserta koridor dan ruang kosong di sini dijadikan set untuk foto juga.. Ck…ckk… Kagum deh sama apa yang ada di kepala pemiliknya.

Di lantai 2 kebanyakan ruang untuk foto resmi nan anggun dengan wallpaper elegan, ada juga set di kamar mandi. Ada yang mengecewakan di sini ketika kami berfoto dengan set kamar mandi karena bath tub-nya ada airnya sehingga mau tidak mau baju kami harus kebasahan.

Fotonya jadi ga maksimal deh gara-gara bath-tubnya basah :(

Set kamar mandi. Good or no ?

Teman-teman mau lihat lebih lengkapnya? Bisa lihat di sini.

Kesimpulan dari saya, studio ini hanya bagus di set dan interior, tapi tidak bagus akan hasilnya. Fotografernya jutek, tidak komunikatif dengan model, terlihat terburu-buru (mungkin karena ada waiting-list), dan hasil fotonya tidak memuaskan (ngambil angle-nya seperti asal-asalan).

Foto-foto hasil pemotretan saya dan Achi bisa dilihat di : Facebooknya Wulan Muhariani

Aduh, ini keliatan banget kalau ngambilnya asal-asalan :(

Salah satu set di lantai 2

 

Pertunjukkan Padusi: 3 Kisah, 3 Perempuan, dan 1 Perjuangan

Akhir-akhir ini saya sangat menggemari pertunjukkan musical, setelah Gita Cinta the Musical, saya berkesempatan menyaksikan pertunjukkan “PADUSI: 3 Kisah, 3 Perempuan, dan 1 Perjuangan”. Kesempatan ini saya dapatkan dari kantor tempat saya bekerja untuk mendampingi para pengemudi wanita dan beberapa wanita yang telah bekerja selama 24 tahun di perusahaan. Acara nonton bareng ini merupakan salah satu wujud apresiasi perusahaan terhadap para srikandi-srikandi tersebut.

Sebelum acara dimulai, kami menyempatkan makan di Nanaban Tai, sebuah restoran Jepang di kawasan Sarinah dengan konsep all-you-can-eat. Di Nanaban Tai suasana mulai mencair karena antara satu dengan yang lainnya ada yang belum saling kenal sehingga acara makan ini menjadi acara perkenalan.

All-we-can-eat here... :)))

Pukul 19.15 kami sampai di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki untuk siap-siap menyaksikan pertunjukkan. Kami mendapatkan kelas Silver dan duduk di tribun paling atas. Ternyata menonton dari atas itu tidak enak karena banyak sekali halangannya, seperti saya yang terhalang oleh pembatas. Pertunjukkan berlangsung selama 2 jam dan para srikandi-srikandi ini mengaku senang karena hal ini merupakan hal yang baru bagi mereka.

Berfoto bersama karyawan yang telah bekerja selama 24 tahun. Wow...!

Potongan tiket pertunjukan Padusi

Cerita tentang Padusi:

Dalam bahasa Minangkabau, Padusi dapat diartikan sebagai perempuan. Pertunjukkan Padusi dikemas dalamm bentuk drama dan tari serta diiringi musik etnis Sumatera Barat. Tom Ibnur sebagai maestro tari Sumatera Barat mengangkat tiga legenda yang menampilkan perempuan sebagai tokoh utamanya.

Cerita pertama mengenai “Putri Bungsu” yang tidak dapat kembali ke kayangan setelah kehilangan sayapnya, dan ia pun terpaksa menerima pinangan Malin Deman, sosok pria kampung yang manja dan bergantung pada ibunya. Setelah memiliki seorang putra, Putri Bungsu menemukan sayapnya dan ia pun memakainya untuk kembali kekayangan. Dalam cerita ini, Putri Bungsu mewakili sosok perempuan yang terpaksa hidup dalam sebuah perkawinan yang belum tentu ada rasa cinta dan kasih sayang yang tulus di dalamnya.

Cerita kedua bercerita kisah “Siti Jamilah”. Ia menerima pinangan Lareh Simawang dengan rasa cinta yang dalam, namun setelah memiliki 2 anak dan 1 anak dalam kandungan, Lareh Simawang menikahi perempuan lain. Melihat hal itu, Siti Jamilah menepati sumpahnya untuk memilih mati bunuh diri bersama anak-anaknya apabila sang suami mengkhianatinya. Dalam kisah ini, Siti Jamilah adalah sosok perempuan yang menolak poligami sekaligus sosok yang teguh pada janjinya.

Cerita terakhir mengisahkan kisah “Sabai nan Aluih” yang menolak perjodohannya dengan Rajo Nan Panjang, seorang datuk tua. Penolakan Sabai berujung pada kematian ayahnya yang menjadi korban pembunuhan Rajo Nan Panjang akibat ketidakmampuan si ayah membayar hutang hingga dituntut untuk menjodohkan Sabai dengannya. Di akhir cerita, Rajo Nan Panjang tewas ditembak oleh Sabai sebagai balas dendam atas kematian ayahnya  sekaligus atas pemaksaan perjodohan. Sabai pun menuntut haknya sebagai perempuan dan sebagai seorang manusia seutuhnya.