Saya, Salah Satu Turis Lokal di Perayaan Waisak

Nekat, baru tiba dari Bali, saya langsung melakukan perjalanan darat ke Yogyakarta untuk menyaksikan prosesi waisak dan pelepasan lampion di Borobudur. Pukul 18.00 saya tiba di bandara Soekarno Hatta dan untungnya saya tidak perlu pesan taksi karena saya sudah menggunakan jasa Airport Transfer dari Golden Bird.  Perjalanan dari bandara ke Plaza Festival (Meeting point) memakan waktu 2 jam karena kemacetan yang merenggut kota Jakarta.

Mengapa saya nekat? Tahun ini berbagai macam kesempatan dapat membawa saya ke Borobudur, yang pertama adalah dari segi kesehatan yang memungkinkan saya bepergian; waktu, karena pada saat itu kuliah sedang libur; ekonomi, karena kondisi isi atm dan dompet Alhamdulillah baik; dan transportasi, ada Big Bird dari Blue Bird Group yang mendukung terselenggaranya acara ini. Oh ya, ada satu lagi yang membuat saya melangkah ke Borobudur, yaitu @TravelingID , sebuah komunitas traveler yang salah satu pengurusnya adalah teman saya.

Dari dulu saya ingin sekali pergi ke Borobudur dan menyaksikan prosesi yang dilangsungkan dalam perayaan waisak karena saya menyukai sesuatu yang berhubungan dengan kebudayaan dan hal-hal yang bersifat seremonial. Sesampainya di Borobudur, saya kaget dan kecewa mendengar pelepasan lampion ditunda karena hujan yang melanda kota Magelang dan sekitarnya pada malam itu.

Saya tidak tahu kehadiran kami di sana apakah mengganggu umat Budha yang sedang beribadah atau tidak, yang jelas kami dari TravelingID sudah mencoba sebaik mungkin untuk menjalankan responsibility-tourism, contohnya kami semua berpakaian dengan sopan, memotret sekedarnya dan sebagainya.

Saat itu kami datang telat dan hujan masih menghujani kota Magelang. Payung dan jas hujan menjadi teman kami saat itu. Saya baru tahu ternyata untuk memasuki pelataran candi  Borobudur dikenakan biaya tiket masuk sebesar Rp. 30.000,-, namun karena situasi yang sudah tidak memungkinkan dengan membludaknya jumlah pendatang, kami dari Traveling ID tidak dikenakan biaya tiket masuk. Sembari menunggu hujan reda, kami bersantai di tenda sambil menyantap nasi ayam Kalasan yang ternyata enak banget ditambah dinginnya Magelang saat itu.

Pukul 22.00 hujan mulai mereda namun air dari langit masih menetes (baca:gerimis) kami pun nekat untuk ke atas, ke pelataran candi. Baru sampai gerbangnya, kami terhambat oleh orang-orang yang berduyun-duyun turun karena mereka tahu pelepasan lampion tidak dilakukan pada hari itu.

Di balik itu semua, terselip rasa bahagia yang amat sangat karena saya dapat berkenalan dengan traveler lain, dan yang makin membuat spesial adalah adanya Mas Fikri yang menemani saya. Bayangkan, 17 jam perjalanan Jakarta-Jogjakarta dilalui dengan berudaan dan sungguh luar biasa bisa satu payung berdua, ia menenangkan dan menghiburku ketika mendengar berita yang kurang baik tersebut :’).

Untuk ke depannya saya pribadi berharap prosesi waisak ditutup untuk umum dan acara pelepasan lampion dipisahkan dari prosesi waisak sehingga masyarakat dapat menikmatinya sambil berwisata malam di Candi Borobudur.

Meskipun tidak sempat naik ke atas, tapi bersyukur ditemani pria ini ^_^

 

One comment

Leave a Reply