Weekend Getaway Femina & BII (Day 2)

Setelah sempat beristirahat selama 3 jam, pukul 03.00 kami harus berkumpul di lobi hotel untuk berangkat ke Magelang karena akan menyaksikan sunrise di Candi Borobudur. Beruntung saya mempunyai room-mate yang disiplin dengan waktu, kami saling membangunkan dan mengingatkan waktu. Setelah sampai lobi, ternyata baru saya dan room-mate yang hadir di sana. Tidak disangka, kedisiplinan kami berdua dihargai oleh Femina.  Kami yang disiplin mendapatkan kenang-kenangan kain cantik khas Sumatera (lupa namanya apa :p ).

Horeee dapat bingkisan karena paling disiplin (With Ibu Petty S Fatimah, Pemred Femina)

Sunrise di Borobudur

Pukul 04.30 kami sudah berada di Manohara Resort dan diberikan sarung batik untuk dipakai ke candi. Pukul 05.00 tepat kami mulai ‘mendaki’ candi sampai ke puncaknya. Pukul 05.30 matahari mulai muncul diiringi kabut yang lumayan tebal sehingga gunung Merapi tidak terlihat dari candi. Oh ia, ini pertama kalinya saya kesini, lho.. Senang banget bisa wisata sejarah ke Candi Borobudur, apalagi perjalanan kami di Borobudur ditemani oleh guide yang sangat menguasai sejarah Candi Borobudur.

Muka bantal mendaki Candi Borobudur

Turun dari candi, banyak yang menawari kami souvenir berbentuk candi dan berbagai macam gantungan kunci. Saya pun membeli miniature candi Borobur seharga Rp. 25.000,- (Awalnya 50.000).

Sarapan di Manohara Resort

Capai mendaki, kami disuguhi oleh santapan untuk sarapan di Manohara Resort. Resort ini awalnya digunakan oleh UNESCO sebagai tempat menginap para ahli dan peneliti, pasca ledakan Gunung Merapi. Setelah proyek selesai, maka resort ini dapat disewakan untuk umum dan menjadi balai ilmu pengetahuan mengenai Candi Borobudur. Jangan dibayangkan resort yang megah dengan kolam renangnya ya, karena resort ini berbentuk seperti kamar kos-kosan dan lorongnya seperti rumah sakit. Kalau saya sih sepertinya berpikir dua kali untuk menginap di sini karena suasanya yang mistis (hehe..), ya mungkin ke-mistis-annya itu yang membuat daya tarik pengunjung menginap di Manohara.

Makan Siang di Sekar Kedathon, A Luxurious Touch of A Royal Javanese Majesty

Sekar Kedathon adalah sebuah restoran yang mempunyai arsitektur unik campuran Jawa, Cina, Portugis, dan Belanda yang berlokasi di Kotagede, Yogyakarta. Bangunannya yang kuno sangat unik karena menyatukan unsur Jawa dan Belanda. Menurut teman saya yang memang orang asli Yogya, makanan di Sekar Kedathon adalah favorit dari raja-raja dan keluarganya di Keraton. Di kompleks ini tidak hanya ada restoran, tapi juga ada toko perak beserta pabriknya dan toko souvenir khas Yogyakarta.

Sekar Kedathon beserta kompleksnya

Belanja di Malioboro

Ini pasti kegiatan yang ditunggu-tunggu… Belanja! Kenyang disuguhi santapan khas Keraton, rombongan kami termasuk saya mulai memasuki area Malioboro dan tour-guide kami menyarankan untuk berbelanja di Toko Mirota karena lebih nyaman (Huh, siapa bilang.. Wong penuh kok dan tetap berdesak-desakan) dan lengkap. Meskipun harganya lebih mahal daripada yang di pinggir lain, kualitas produk yang dijual di toko lebih baik. Saya memborong oleh-oleh untuk keluarga dan membeli sepasang boneka tokoh wayang yang unik banget.

Bosan dengan barang-barang di toko, saya mencoba mengeksplor penjual-penjual di pinggir jalan namun 100 meter dari toko, saya tidak kuat dengan panasnya Yogya maka saya pun memutuskan balik arah ke bus dan memutuskan untuk menunggu di sana.

Berkunjung ke Museum Vredeburg

Di depan Museum Vredeburg

Sebenarnya Museum Vredeburg tidak ada dalam itinerary, namun berhubung bus yang kami gunakan berparkir di depan Museum tersebut. Sambil menunggu ibu-ibu yang berbelanja, saya memutuskan untuk berkunjung ke Museum dan senangnya ditemani oleh tour-guide jadi masuknya gratis karena dia kenal dengan petugas loket dan ia juga menjelaskan mengenai sejarah Museum Vredeburg.

Ini bioskop mini yang ada di dalam Museum Vredeburg. Di sini diputar sejarah Museum ini.

Saya di sini tidak akan menceritakan dari sisi sejarah karena sudah pasti banyak infonya di mesin pencari Google. Saya hanya ingin memberikan komentar bahwa museum ini terawat dan dikelola dengan baik sehingga Museum ini menjadi tempat edukasi bagi masyarakat Yogya, khususnya untuk para pelajar. Memang sih, tempatnya asyik banget buat belajar dan diskusi.

Taman Sari Royal Heritage Spa

Memang deh Femina dan BII itu sangat mengerti wanita. Sehabis dimanja dengan wisata sejarah, diberikan kesempatan berbelanja, disuguhi santapan yang lezat (sepanjang jalan dan setiap waktu selalu ada saja makanan enak yang bisa kami santap. Thanks Femina & BII!), kali ini kami diberikan kesempatan merasakan perawatan ala Putri Keraton di Taman Sari Royal Heritage Spa yang berlokasi di Hotel Sheraton, tempat kami menginap. Pijatan dari therapist-nya membuat kami semua terlelap hingga jadwal selanjutnya tiba.

Dinner di Sasanti Restaurant

Agenda awalnya adalah kami makan malam bersama Gusti Kanjeng Ratu Hemas sehingga kami semua harus mematuhi dresscode saat itu; kebaya/gaun/blouse dan sepatu tertutup. Saat itu saya memilih untuk menggunakan kebaya berwarna putih. Kami sudah tampil cantik, namun ternyata beliau tidak dapat menemani kami karena tugas ke-keratonan-nya. Kekecewaan kami terobati oleh lezatnya kudapan yang disediakan di restoran yang lokasinya di Jl. Palagan Tentara Pelajar 52 A, dekat dengan Hyatt Hotel. Selain itu Femina dan BII juga memberikan voucher discount untuk belanja di Gendhis Bag. Whuaaa nikmatnya menjadi wanita :D. Selesai belanja, kami kembali ke hotel dan bersiap untuk perjalanan hari terakhir keesokan harinya.

Asyik belanja di Gendhis Bag . Lokasinya di gerbang masuk Sasanti Restaurant. Photo: Femina Magazine

 

 

 

 

Weekend Getaway bersama Femina & BII (Day I)

Cuti, pasti itu merupakan ‘surga’ bagi para pekerja kantoran.  Selama saya berkarir, saya tidak pernah mengambil cuti hingga akhirnya saya mengambil hak cuti saya di tanggal 5 April 2-13 untuk mengikuti Weekend Getaway bersama majalah Femina dan BII (Bank Internasional Indonesia). Weekeng Getaway kali ini akan menjelajah Magelang, Yogya, dan Solo. Saya tertarik mengikuti program ini karena saya belum pernah ke Magelang dan Yogya, selain itu setiap peserta yang ikut kegiatan ini mendapatkan voucher BII My plan sebesar Rp.250.000 dan tabungan BII senilai Rp. 750.000,-. Enaaaak kann..

Jam 04.00 di tanggal 5 April 2013 kami sudah berkumpul di Terminal 1A karena akan berangkat dengan Lion Air.  Cukup sulit bagi saya untuk bangun karena baru kali ini ikut ‘first flight’. Hooaaammmm… Tapi rasa kantuk tidak menyurutkan semangat saya dan teman-teman lain yang kompak berbaju warna kuning. Pukul 06.10 Kami take-off meninggalkan Bandara Soekarno-Hatta dan tiba  sekitar pukul 07.00 di Bandara Adi Sucipto.. Yeay, akhirnya saya bisa menginjakkan kaki diYogya.

Horeee.... Sampai Yogya!!!

Sarapan di Soto Kadipiro                              

Sampai di Bandara Adi Sucipto dan selesai dengan urusan bagasi, rombongan kami mengarah ke Jl. Wates untuk sarapan di Soto Kadipiro. Wah, gimana tuh rasanya sarapan soto ayam? Ini akan menjadi pengalaman menarik bagi saya. Ternyata sarapan soto ayam itu enak juga ya, dan memang soto Kadipiro yang menurut orang-orang di sana sudah menjadi legenda soto ayam ini enaknya bukan main. Lain kali kalau ke Yogya mau ke sini lagi, ah..!

Soto Kadipiro tampak depan

 

Enyaaak nih sarapan soto di pagi hari

Pagi-pagi udah rame aja..

 

Tea Time dan Lunch di Beukenhoff Restaurant

Restoran ini terdapat di dalam kompleks Museum Ullen Sentalu, Kaliurang. Selama tea time ini kami ditemani oleh Didik Nini Thowok dan Thomas Haryonagoro (Direktur Museum Ullen Sentalu) yang menjelaskan tentang sejarah dan kebudayaan Jawa. Di sesi ini saya berkesempatan diajari tari-tarian oleh Didik Nini Thowok dan ini kesempatan yang sangat langka mengingat beliau adalah pelaku kebudayaan Indonesia yang sangat terkenal di dalam dan luar negeri. Menurut Didik, badan saya masih bisa dilatih untuk menari dan di dalam diri saya sebenarnya punya bakat untuk menari, khususnya untuk menari sunda/jawa. Whuaaa senangnya menapat komentar seperti itu dari sang maestro. Usai belajar menari, saya diberikan kenang-kenangan buku berjudul “Sleman Wisata Seribu Candi.”

Makan siang dengan tante-tante cantik :)

Chicken Gordon Blue.... Kejunya sangat terasa dan ga bikin eneg... Nomm..nomm..

Dapat buku "Sleman Wisata Seribu Candi" dari Didik Nini Thowok :D

Diajari menari Didik Nini Thowok

Museum Ullen Sentalu

Ullen Sentalu terlihat dari balkon Beukenhof Restaurant

Satu-satunya lokasi untuk sesi foto

 

Di tengah rimbunnnya pepohonan di Taman Kaswargan berdiri sebuah bangunan yang didominasi warna hitam batu kali, itulah Museum Ullen Sentalu yang memiliki nama panjang Ulating Blencong Sejatine Lumaku yang bermakna “pelita kehidupan sejati bagi jalan hidup manusia”. Di tiap sudut bangunannya yang terdiri dari 7 bagian, tersebar benda-benda warisan dan seni budaya Jawa. Kita juga dapat melihat bagaimana kehidupan para bangsawan dari empat Keraton di Solo dan Yogyakarta, yakni Kasunan Surakarta, Istana Mangkunegaran Surakarta, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, dan Puro Pakualaman Yogyakarta. Sayangnya di sini kita tidak boleh mendokumentasikan isi museum dalam bentuk apapun.

Saya mendapapat informasi bahwa pembangunan museum tidak merusak ekosistem sehingga pembangunannya mengikuti kontur tanah (Y). Pertama-tama kami diajak ke Guo Selo Giri untuk melihat kisah kehidupan bangsawan dan tokoh Empat Keraton yang telah disebutkan di atas. Setelah itu kami beranjak ke Kampung Kambanng, yakni satu area terapung di atas Guo Selo Giri yang terdiri dari 5 ruang pameran; Ruang Tineke, Ruang Paes Ageng Gaya Yogyakarta, Ruang Batik Vorstendlanden, Ruang Batik Pesisiran, dan Ruang Putri Dambaan. Di tiap ruangan kami dapat mellihat surat-surat Tineke, lukisan pengantin Jawa,, berbagai macam kain batik (Keraton, pesisir, dan Cina), serta hidup seorang putri cantik Keraton Yogyakarta yang menolak Soekarno karena tidak mau di-poligami, Gusti Nurul Koesoemawardhani.

Ruangan selanjutnya adalah Taman Ara Durga dan akan sampai ke Ruang Budaya yang brisi reca penari Jawa Klasik, patung pengantin wanita Jawa, dan berbagai lukisan lainnya. Setelah keliling museum selesai, kami dipersilahkan untuk minum khas keraton yang katanya dapat membangkitkan semangat dan memulihkan stamina yang telah terkuras. Nah, ini dia momen yang ditunggu-tunggu: foto-foto di area yang telah disediakan.

Hujan-hujanan berkeliling Ullen Sentalu

Harga tiket untuk masuk museum ini sebesar US$ 5 atau Rp. 45.000,- untuk wisatawan asing; Rp. 25.000,- untuk pelajar atau mahasiswa internasional, Rp. 25.000,- untuk pengunjung dewasa, dan Rp. 15.000,- untuk pelajar. Setiap kunjungan ke museum ini minimal dua orang. Jangan khawatir kesasar di sini karena Ullen Sentalu menyediakan pemandu yang anggun, cerdas, dan santun dalam bertutur kata.

Gak lupa untuk foto bareng :D

Eksplorasi Candi Boko dan Afternoon Tea di Abhayagiri Restaurant

Sembilan puluh menit perjalanan meninggalkan Kaliurang, kami sampai di kompleks Candi Boko dan sedihnya saat itu cuaca sedang tidak bersahabat dengan turunnya gerimis. Dikarenakan keterbatasan waktu, kami hanya sampai mengunjungi bagian depan dari Candi Boko dan melakukan sesi foto bersama fotografer Femina, Mas Honda. Ternyata gerimis tidak memyurutkan antusias dari seluruh peserta. Sambil menunggu giliran difoto, kami diajari menari oleh Didik Nini Thowok. Selesai sesi foto, kami ngemil dan ngeteh di Abhayagiri restaurant yang letaknya di parkiran mobil. Sayangnya makanan yang disajikan sudah asem (basi mungkin ya?)

Hujan-hujanan dan tetap narsis pakai payung

Dinner dan Menonton Pertunjukkan Sendratari Ramayana di Candi Prambanan

Cantiknya Prambanan di malam hari

Sendratari Ramayana di Pelataran Candi Prambanan

Perjalanan dari Candi Boko ke Candi Prambanan memakan waktu sekitar 30 menit dan sesampainya di sana kami mendapatkan welcome drink (yang enaaaak banget) sebelum menyantap makanan yang mengundang perut berbunyi keras. Makanan yang disajikan di Prambanan itu enaknya ga pakai bohong, deh! Kenyang dengan kudapan khas Jawa, kami disuguhi pertunjukkan Sendratari Ramayana dengan latar belakang Candi Prambanan yang megah. Selesai pertunjukkan kami berkesempatan untuk mengenal lebih dekat dengan penari-penarinya yang ternyata masih muda-muda, lho. Salut!

Pukul 22.00 seluruh kegiatan kami di 5 Juni berakhir dan saatnya pulang ke hotel. Mau tahu tempat kami menginap di mana? Lihat nih di sini.

 

Foto: Dokumen pribadi dan dokumen Femina Magazine

Bermalam di Sheraton Mustika Yogyakarta

Dalam perjalanan bersama Femina dan BII awalnya yang kami ketahui bahwa kami akan menginap di Phoenix Hotel, ternyata saat hari H kami diberitahu bahwa akan menginap di Hotel Sheraton Mustika. Yeay…!

Sepertinya Hotel Sheraton Mustika adalah hotel yang unik yang pernah saya kunjungi karena lobinya yang terletak di lantai 7. Jadi ternyata hotel ini posisinya lebih rendah dari gerbang masuk hotel (FYI dari gerbang ke hotel jaraknya sangat jauh).  Saya mendapat kamar 503 (Deluxe room) dengan Mbak Uchi (Mbak Uchi ini karyawati swasta yang sudah mempunyai anak) dan dia baik sekali karena menganggap saya seperti anak sendiri. Hehe…

Saat kami membuka pintu dan memasuki ruangan, kami melihat ada majalah, greeting dari Femina dan BII, serta pouch cantik dari BII dengan bordiran huruf W (saya kira W itu Wulan), ternyata W = Woman. Sebelum kami mengacak-ngacak kamar hotel, kami sepakat mendokumentasikan kamar beserta fasilitas di dalamnya. Fasilitas di kamar ataupun fasilitas hotel tergolong lengkap. Saking ngantuk dan capainya, kami langsung pulas di kasur yang empuk karena jam 03.00 kami harus bangun untuk berangkat ke Candi Borobudur.

Yang menyambut kami di kamar hotel :D

 

Greeting from Femina dan BII

Ini nih 'daleman' kamar di Hotel Sheraton

Halaman belakang, ada kolam renang dan lapangan tenis

Nilai  7,5/10

Yang disukai di sini: Menu sarapannya lengkap dan enak-enak.. hmmmm yummy….

Dan dekat dari bandara Adi Sucipto, lho….!

 

Hotel Sheraton Mustika:

Jl. Laksda Adisucipto YKAP – KM 8.7

Telp: +62274 488588

Mau tau informasi lebih lanjut atau mau langsung book ? Klik aja di sini

 

Pengalaman Terbang bersama Merpati

Garuda Indonesia? Sudah.. Lion Air? Sudah.. Sriwijaya? Sudah juga.. Citillink? Sudah! Sepertinya semua maskapai besar di Indonesia sudah pernah saya gunakan untuk ‘terbang’.

Sudah lama saya ingin merasakan ‘terbang’ bersama Merpati, dan pada satu kesempatan saya dapat ‘menaiki’-nya karena tur yang saya jalankan dengan sekelompok orang menggunakan pesawat Merpati tujuan Lombok (transit di Denpasar).

Telat bangun dan tergopoh-gopoh ke bandara….

Pengalaman yang tak terlupakan, saya telat bangun! Bayangkan dalam waktu kurang dari satu jam saya harus berada di bandara agar tidak tertinggal pesawat. Saya bangun pukul 04.50 dan dalam waktu 10 menit saya mandi. Pukul 5 teng menyelesaikan packing dan pukul 05.15 mencari taksi (entah mengapa taksi di jalan saat itu tidak ditemukan hingga pukul 05.20). Di jalan saya feel hopeless karena kondisi tol menuju bandara ramai dengan kendaraan. Saya semakin panik ketika pengemudi bilang biasanya di tol memasuki bandara macet.

Alhamdulillah nyatanya ramai lancar meski dag-dig-duer. Selama perjalanan tak henti-hentinya saya bertanya kepada pengemudi “pak ini sudah sampai mana?” “Pak ini berapa lama lagi sampainya?” sembari browsing tiket ke Bali pagi itu juga karena rombongan akan transit di Bali cukup lama.

Sampai di terminal 2 pukul 05.55, saya tergopoh-gopoh menenteng tas (yang sialnya pegangannya copot) menambah kesialan di pagi itu. Setelah check-in, saya lari ke gate (sialnya lagi dapat gate yang paling ujung) dan pas sekali dengan waktu boarding.

Ada Pramugari dari Indonesia Timur

Sesampainya di kabin, saya beserta penumpang lainnya disambut oleh flight attendant-nya yang ramah, dan yang mengejutkan adalah adanya seorang FA berkulit hitam dan berambut keriting seperti orang Indonesia Timur. Salut untuk maskapai Merpati yang mau menerima FA dari Indonesia Timur karena biasanya seorang FA adalah seorang yang tinggi, langsing, putih, berambut hitam panjang dan tentunya cantik. Dalam hal ini Merpati membuka kesempatan bagi siapapun untuk menjadi Flight Attendant (Y).

Pelayanan dari Flight Attendant ini juga ramah dan helpful. Pilotnya juga terlihat ramah dari suaranya yang menyapa kami dari ruang kendali dan kadang menginfokan kepada kami cuaca saat itu dan ada di ketinggian berapa kami berada (kabarnya pilot-pilotnya Merpati sudah senior).

Sudah 1 jam terbang saya mencari-cari cemilan saya dan ternyata ketinggalan karena ketika bangun tadi saya terburu-buru packing. Alangkah senangnya ternyata naik Merpati dapat snack dan minuman. Hurrayyy…!!!

Bagaimana dengan kondisi di dalam kabin?

–          AC, wuih AC-nya semriwing

–          Kursinya lega, antara kaki dengan kursi depan tidak terlalu sempit

–          Kondisi kursi dan kabin bagian dalam kurang bersih (mungkin karena pesawatnya sudah udzur yaa…)

Bagaimana dengan landingnya ?

Muluussssss….. Wussss sampailah di bandara Ngurah Rai Bali untuk transit dan berganti ke pesawat yang lebih cilik.

Sampai di Bali cuaca so hoootttt dan berhubung bandara sedang direnovasi, mendaratnya jadi jauh dan harus naik bis untuk ke bangunannya. Sampai di Bali pukul 09.00 WITA, sedangkan penerbangan selanjutnya pukul 13.30 WITA, maka saya dan rombongan memutuskan untuk makan siang sambil jalan-jalan di Discvery Mall Bali, Kuta. Dari airport kami naik airport taxi, yang sayangnya tidak menerapkan sistem argo sehingga kami harus bayar Rp. 50.000,- (Padahal nih kalau pakai taksi Blue Bird, argonya ga mencapai Rp. 20.000,-).

Nge-gaye dulu di Discovery Shopping Mall, Kuta

Pukul 12.00 kami kembali ke airport untuk melanjutkan penerbangannya selanjutnya ke LOMBOK! Yeay,,, Lombok! Akhirnya… 🙂

Boarding Pass

Pesawat yang digunakan adalah pesawat Merpati yang kecil (mungkin muat sekitar 30 orang) dengan konfigurasi kursinya 2-2. Baru pertama kali saya menggunakan pesawat yang kecil dan ternyata asyik juga ya, mungkin karena cuaca pada saat itu sedang cerah. Saya duduk di kursi nomor 7A (ternyata termasuk di barisan tengah) dan saya duduk tepat di samping baling-baling dan ban-nya. Selama penerbangan, mulai dari take-off sampai menit-menit mendarat, saya tidur dan tiba-tiba terbangun karena dari sebelah kiri saya seperti ada yang jatuh (aduh udik banget, Wulan!) dan ternyata yang ‘jatuh’ (baca: diturunkan dari tempatnya) itu ban karena pesawat akan mendarat. Alhamdulillah 45 menit kemudian kami tibaa di Bandar Udara International Lombok (FYI penerbangan dari Denpasar ke Lombok memakan waktu 45 menit). Nantikan kisah berikutnya ya 🙂

Duduk nyaman di dalam kabin

 

Ini dia yang membangunkan tidurku

 

Snack-nya enak lho, ga bikin eneg

 

Horeee mendarat dengan selamat di Bandar Udara International Lombok

 

Taraaa.. Ini dia foto depan pesawat Merpati yang cilik (wah, mas fotografer jadi photoboom . hehe)

Terima kasih Merpati, Terima kasih Venture Magz yang telah menyelenggarakan acara keren 🙂

(Lombok Trip: 26 – 28 April 2013)

Menginap di Hotel Daima, Padang

Bingung mencari tempat penginapan di kota Padang? Hm, saya juga bingung, tapi karena kunjungan saya kesana pada saat itu untuk business trip, maka untuk urusan hotel sudah disediakan oleh kantor cabang Padang, dan dipilihlah Daima Hotel sebagai tempat istirahat karena letaknya yang strategis (dekat dengan pool dan dekat dengan kantor Gubernur Sumatera Barat).

Daima hotel termasuk ke dalam hotel bintang 3 yang lokasi tepatnya berada di Jl Jend. Sudirman No 17 Padang. Fitur di kamar hotel ini standar seperti hotel bintang 3 lainnya, ada tv kabel, AC, mini bar, wi-fi, pembuat kopi/teh, dan air hangat. Sayangnya pada saat kunjungan saya di tanggal 17 Mei 2013, AC-nya sedang bermasalah sehingga ruangan terasa panas, dan kasurnya terasa kasar. Namun untuk room-service tergolong cepat tanggap. Baru saja complaint tentang AC, 2 menit kemudian teknisi datang ke kamar untuk memperbaiki, dan taraaaa… AC sudah kembali normal.

Double-bed room . Cantik ya ada hiasan kain khas Padang di kasurnya

 

 

Toilet dan kamar mandi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Untuk restorannya, makanan dan minuman yang disajikan enaaakkk banget, malah lebih enak makanan di restoran hotel daripada di luar. Saya memesan sup jagung kepiting, kentang goreng, dan ayam balado cabe hijau, dan yang lebih nikmat harganya sangat terjangkau dari dompet untuk hotel bintang 3. Setara lah sama harga di restoran luar dan hebatnya room service ini beroperasi 24 jam lho…. (Y).

Asparagus soup (oh ia makanan yang diantar ke kamar akan diberi wrap-plastic). Seperti di rumah sakit yaa..

Rupa kentang goreng yang disajikan. Lebih maknyos nih kalau ditambah mayonaise

Ini yang paling mantabbbb!!!! Ga terlalu pedas dan gurih. Favoritku banget!

Ice Cream 3-Scoopes . So nyumeeehhh

Ada kelebihan, pastilah ada kekurangan. Meskipun hotel ini mempunyai makanan yang enak, tapi stafnya ga enak (eh maksudnya ga ramah), jutek, ga helpful (kecuali teknisi), pelayanannya seperti terpaksa. Sayang ya….

Oh ia, kalau mau menggunakan jasa airport transfer, kalian cukup membayar uang Rp.150.000/orang (saran saya sih gunakan taksi Blue Bird saja :D).

Perlu dicatat bagi pengunjung yang muslim: Di setiap kamar disediakan sajadah, lho… Jadi ga perlu cari mushola atau ribet cari alas untuk salat. NICE!

 

 

 

 

 

 

 

Informasi wilayah:

200 m dari kantor gubernur (wah, bisa mengintip kegiatannya pagub nih..)

300 m dari Taman Imam Bonjol

320 m dari Balai Kota

500 m dari Pantai Padang

2 km dari Jembatan Siti Nurbaya (katanya kalau beli oleh-oleh di sini bisa menguras dompet karena mehong alias mahal)

6 km dari Pantai Air Manis (Legenda Malin Kundang)

8 km dari Pelabuhan Teluk Bayur

14 km dari Bandara Internasional Minangkabau (sekitar 45 – 60 menit)

15 km dari Pantai Nirwana

20 km dari Pantai Caroline

 

Info belanja:

150 m dari Souvenir Pandai Sikek

215 m dari Kripik Balado Rohana Kudus

500 m dari Plaza Suzuya

700 m dari Plaza Andalas

900 m dari Kripik Balado Shirley

1 km dari Batik Tanah Liek

1,8 km dari Kripik Balado Christine Hakim

 

Kalau saya sih beli oleh-olehnya di toko Mahkota, karena lokasinya percis samping pool Blue Bird 😀

 

Nilai: 8/10

 

Reservasi:

T: +62 751 892 700

reservation@daimahotel.com

www.daimahotel.com