Lombok, Suatu Hari Saya akan Mengunjungimu (Lagi) : Day 2

Betapa bahagia dan bersyukurnya saya ketika bangun di pagi hari dapat melihat matahari terbit di bagian Indonesia Wilayah Tengah sambil berjalan menyusuri pantai Kuta Lombok yang lokasinya tepat di belakang Hotel Novotel yang saya tinggali selama di Lombok. Pantai ini memiliki tekstur pasir seperti merica, sehingga ketika saya berjalan akan meninggalkan jejak yang lumayan dalam. Sebenarnya pantai ini tidak recommended untuk disusuri karena pasirnya yang akan membuat kaki kita ‘tenggelam’ sehingga akan terasa capai jika dibuat berjalan. Menurut saya pantai ini sangat cocok jika ingin berjemur dan bersantai sambil membaca buku atau menulis.

Asyik berjemur, tapi ga pakai bikini >_<

Desa Sade

Berfoto sebelum menjelajahi Desa Sade

Berpose di rumah adat Suku Sasak di Desa Sade

Tangga bebatuan di Desa Sade

Hari kedua di Lombok saya habiskan dengan mengunjungi Desa Sade, Rembitan, Lombok. Desa ini berlokasi di pinggir jalan raya, namun uniknya masyarakat di sana yang disebut dengan Suku Sasak masih mempertahankan keaslian desa dan sukunya. Mulai memasuki Desa Sade, kita akan ditawarkan untuk membeli kain khas Lombok beserta souvenir seperti aksesoris rambut, gelang, kalung, dan sebagainya. Kain dan asesoris ini adalah hasil buatan tangan dari masyarakat yang tinggal di desa ini.

Mengaplikasikan ilmu fotografi: Teknik Motion Blur (Nenek ini masih aktif bekerja)

Usul saya, tidak ada salahnya jika kita membeli sesuatu dari tempat ini karena itu berarti kita membantu perekonomian masyarakat di sini yang bergantung kepada penjualan hasil karya mereka.

Ada tradisi unik di desa ini, yaitu mengepel rumah dengan kotoran kerbau agar rumah terasa hangat dan bebas dari nyamuk. Benar saja lho, ketika saya memasuki salah satu rumah tersebut, hawanya terasa hangat dan bebas nyamuk, bahkan saya hampir lupa bahwa yang saya injak-injak adalah kotoran kerbau yang sudah bersatu dengan semen di bawahnya.

Rumah yang di-pel dengan kotoran kerbau

Menunggu Diselesaikan

Karena ga ada yang menyelesaikan, saya saja deh yang menyelesaikannya. Hehe :D

Desa Banyumelik

Salah satu pusat kerajinan gerabah di desa Banyumulek, Lombok

Puas berkeliling di Desa Sade, kami melanjutkan perjalanan ke Lombok Barat, yaitu Desa Banyumulek yang terkenal dengan sentra kerajinan gerabah khas Lombok, sekilas mirip dengan sentra kerajinan gerabah di Plered, Purwakarta. Di sini kita dapat melihat secara langsung proses pembuatan gerabah dari awal pencarian tanah liat hingga proses pembakaran gerabah.

Pembuat gerabah (gadungan) :p

Menurut penjelasan dari pemandu kami, kendi yang paling sering dicari adalah ‘Kendi Maling’. Apa itu Kendi Maling? Awalnya saya kira kendi ini sebagai mantra-anti-maling :p . Ternyata kendi ini sama seperti kendi biasa lainnya, namun uniknya cara menggunakan kendi ini yaitu harus dimasukkan melalui bagian bawah kendi. Unik kan? Hanya ada

di Lombok lho, ini..!

Ajaipp.. Airnya ga tumpah, lho..!

Mengaplikasikan ilmu fotografi: Teknik Zooming

Mengaplikasikan ilmu fotografi: Teknik Selective Focus

Mengaplikasikan ilmu fotografi: Teknik Hypervocal Focus

 

Gem Pearls

Lombok juga terkenal dengan komoditas mutiara-nya, maka dari itu kami menyempatkan diri untuk mengunjungi ‘Gem Pearls’ sebuah toko yang menjual perhiasan dari mutiara; darat dan laut. Harganya berkisar ratusan ribu, ada pula yang mencapai jutaan rupiah, tergantung dari material yang digunakan dan kualitas mutiara itu sendiri. Gem Pearls berlokasi di pinggir jalan raya, tepatnya di Jl Raya Meninting No 69, Senggigi. Jika ingin berkunjung ke Pantai Senggigi, pasti akan melewati toko ini.

Asyik berbelanja mutiara

Menyaksikan sunset di Pantai Malimbu

Ternyata kami masih mempunyai waktu yang cukup banyak sebelum kembali ke hotel, atas saran dari pemandu wisata, kami pun mengarah ke Pantai Malimbu untuk menyaksikan sunset, dan ternyata sebelum ke pantai ini, kami melewati Pantai Senggigi sehingga rombongan bisa berhenti sebentar untuk berfoto.

Pukul 17.00 WITA kami sudah siap dengan alat tempur kami (kamera, tripod, dll) dan siap untuk menangkap momen sunset di Lombok. Sementara kami asik memotret, beberapa peserta terlihat membeli cenderamata untuk oleh-oleh (yang ternyata harganya lebih murah dari tempat yang dikunjungi sebelumnya).

Pukul 19.00 WITA kami makan malam dengan menu sea food di sebuah restoran pinggir jalan, dekat dengan Pantai Senggigi dan kembali ke hotel pukul 21.00 WITA. Well, malam ini baru terasa capeknya tapi tidak mengurangi semangat ‘mengganggu’ room-mate saya :p (maapkeun ya mba desy)

Menyempatkan diri mampir dan berfoto di Senggigi

Malimbu Beach, Lombok :)

Mengaplikasi Teknik Fotografi: Teknik Shiloute

Sunset di Malimbu, Lombok

Leave a Reply