Keliling Semarang Pakai Taksi

Iya, pakai taksi! Selama ini kita kalau berjalan-jalan pasti pakai mobil/motor pribadi, mobil/motor rental, nah gimana ceritanya kalau jalan-jalan keliling suatu kota menggunakan taksi? Saat itu saya berkesempatan mengelilingi kota Semarang menggunakan taksi Blue Bird.

Gereja Blenduk

Pukul 07.00 saya dan rekan lainnya berkumpul di kawasan kota Lama Semarang, tepatnya di depan Gereja Blenduk (sering dilafazkan gereja mBlendhung karena kubahnya yang membundar). Gereja ini gereja Kristen tertua di Jawa Tengah yang dibangun masyarakat Belanda pada tahun 1753. Gereja ini sebenarnya bernama Gereja GPIB Imanuel yang lokasi tepatnya berada di Jl Letjend Suprapto 32. Kubahnya besar, dilapisi perunggu, dan di dalamnya terdapat sebuah orgel barok. Gereja ini dibuka hanya saat peribadatan rutin saja.

Foto di depan Gereja Blenduk, Kawasan Kota Lama, Semarang

Klenteng Sam Poo Kong

Klenteng Sam Poo Kong berlokasi di daerah Simongan, sebelah Barat Daya kota Semarang. Klenteng ini merupakan salah satu tempat bersejarah di Semarang karena klenteng ini merupakan bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama Laksamana Tiongkok beragama Islam yang bernama Laksamana Cheng Ho. Bagi Anda yang senang berfoto, di sini juga disediakan jasa foto menggunakan kostum China dan foto berlatarkan Sam Poo Kong. Anda cukup membayar Rp. 80.000 saja dan foto langsung jadi saat itu juga, dicetak ukuran 4R. Oh ia, kita pakai guide. 1 guide Rp. 50.000,-. Meskipun guide-nya sudah tua, tapi dia pintar moto lho… Nih contohnya….

Foto di dalam Sam Poo Kong. Photo by: Sang Guide

Foto di depan patung Laksamana Cheng Ho

Vihara Budhagaya Watugong

Sekitar 45 menit dari Sam Poo Kong, saya dan rombongan menuju Vihara Budagaya Watugong yang dinyatakan MURI sebagai pagoda tertinggi di Indonesia. Untuk memasuki Vihara ini tidak dikenakan biaya masuk (hanya biaya parkir sukarela). Ikon yang terkenal di vihara ini adalah Pagoda Avalokitesvara yang memiliki tinggi bangunan setinggi 45 meter dengan 7 tingkat, yang bermakna bahwa seorang pertapa akan mencapai kesucian dalam tingkat ketujuh. Di dalam pagoda ini terdapat patung Buddha Rupang yang besar. Cuaca di vihara ini adem dan nyaman karena lokasinya memang di Semarang Atas dan masih banyak pepohonan rindang.

Siap Menaiki Tangga

Patung bunga di Vihara Watugong

Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT)

Wah, sepertinya hari ini kami ‘wisata religi’ karena mengunjungi satu tempat beribadah ke tempat beribadah lainnya. Dari vihara kami langsung menuju Masjid Agung Jawa Tengah karena para pria akan melaksanakan salat jumat. Ternyata Masjid ini memiliki payung besar seperti di Arab sana. Payung ini akan dibuka ketika panas terik atau hujan melanda kota Semarang. Sambil menunggu yang salat Jumat, para wanita memutuskan untuk cuci mata karena di halaman masjid tersedia banyak toko cenderamata. Setelah capek berkeliling, kami pun nyemal-nyemil di halaman karena banyak penjaja makanan dan minuman. Wah, seperti one-stop-shopping sekaligus beribadah ya 🙂

Foto di depan Masjid Agung Jawa Tengah

Makan Siang di Soto Bangkong

Saatnya makan siang kami menuju ke Soto Bangkong yang lokasinya 15 menit dari Masjid Agung. Awalnya saya mengiri Soto Bangkong menggunakan daging bangkong (katak), ternyata nama Bangkong sendiri diambil dari nama daerahnya yang dulu disebut dengan “Bangkong”.

Jalan-jalan Sore ke Batik 16 Semarang

Selesai  ‘Wisata-Religi-yang-tidak-direncanakan’, kami mengarah ke Batik 16 Semarang yang berlokasi di tengah Kebun Jati di Desa Sumberrejo, Meteseh Tembalang.  Perjalanan dari kota Semarang ke Batik 16 Semarang membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Sesampainya di sana kami sudah disambut oleh Mbak Indah yang sedang bertugas di sana. Kami diajak melihat proses pembuatan batik dawi awal sampai akhir. Di sini kita dapat membeli batik (bahan ataupun yang sudah jadi) di tokonya. Harganya beragam, tergantung dari tingkat kesulitan membuat batik, dan apakah batik itu ditulis tangan atau dicap.

Pukul 16.00 perjalanan sore ini selesai dan kami kembali ke kota Semarang hingga ke Universitas Diponegoro. Mau tahu berapa argo dari start hingga finish? Hanya Rp. 280.000 saja! (Di luar biaya tol dan parkir). Tuh kannn ternyata harganya relatif murah, apalagi kalau patungan sama temen!

 

Foto di tengah batik yang sedang dijemur

Alat untuk cap batik. Motifnya rumit-rumit. Bagus!

Dibuatin sama mas-mas yang lagi bertugas di Batik 16 Semarang

 

Tambahan:

Foto di Universitas Diponegoro , sosialisasi Taxi Mobile Reservation (Kerja sambil liburan) :p