Sangiang Trip, Sejenak Melupakan Kehidupan Hingar Bingar Metropolitan

Adakah yang pernah mendengar Pulau Sangiang? Saya sendiri baru mendengar Pulau Sangiang dari Tukang Jalan, sebuah komunitas yang suka jalan-jalan dan explore tempat wisata. 29-30 Agustus 2013 lalu saya dan teman-teman dari Blue Bird Group dan beberapa teman kampus ikut ke dalam trip ini. Hal yang membuat kami tertarik dengan trip ini adalah adanya kegiatan bakti sosial di dalamnya. Jarang-jarang kan orang traveling sambil beramal?!

Kami dan rombongan berangkat dari jam 07.00 dan sampai di Pantai Anyer di pukul 10.00 . Cuaca saat itu kurang bersahabat dan turun hujan yang cukup lebat. Pukul 11.30 kami nekat menyeberang di tengah rintik-rintik hujan (saya dan rombongan banyak-banyak berdoa). Di tengah-tengah perjalanan, saya dan beberapa orang lainnya mulai merasa mual (mungkin karena pertama kali naik kapal). Gelombang di lautan di Selat Sunda masih besar hingga akhirnya kami tiba di rawa-rawa menuju Pulau Sangiang. Waktu perjalanan dari Dermaga di Pantai Anyer ke Pulau Sangiang sekitar 1 jam.

Jangan bayangkan dermaga seperti di Ancol. Kita harus melalui jalan ini terlebih dahulu untuk menuju kapal (Fiuh, untung lagi ga pasang airnya)

Rawa-rawa seperti di Pulau Kalimantan

Akhirnya bisa tersenyum setelah melalui gelombang yang menakutkan

Baaaa.... Dapat salam dari genk rempong dari Pulau Sangiang! :D

Kami pun dibuat takjub dengan Keindahan rawa-rawa seperti sedang berada di Kalimantan. Airnya jernih namun terlihat masih adanya sampah di beberapa titik. Keadaan di Pulau Sangiang benar-benar terbatas. Sinyal untuk komunikasi pun sangat susah untuk didapatkan (2 hari tanpa gadget!). Sama halnya dengan listrik dan air. Listrik yang berasal dari genset hanya menyala mulai pukul 18.00 sampai pukul. 06.00. Kamar mandi umum di sana juga hanya ada 4 (2 memiliki pintu, dan 2 hanya menggunakan tirai). Hal yang membuat saya kagum, di sana mereka sangat mengutamakan kebersihan tempat ibadah. Di Pulau Sangiang dibangun masjid yang besar dan terbuat dari beton dan tembok, tempat wudhunya pun bersih.

Udah mau sampe, Om Tije ikutan foto

Wah kita-kita ini berasa TKI :p

Melupakan rasa mual, kami pun foto-foto

Ini nih penginapan kami..

Hari pertama kami lewati dengan snorkeling dan menikmati Pantai Panjang yang lokasinya dekat dengan pemukiman penduduk (hanya berjalan kaki 10 menit). Sedih melihat kondisi Pantai Panjang yang banyak sampah, padahal jika pantai ini dirawat, akan menjadi potensi wisata daerah Banten.

Bisa melihat dasar laut dengan kasat mata. Subhanallah!

Itu air laut, bukan karpet!

Pantai Panjang di Pulau Sangiang

Eh ada Blubi..

Mana Wulan? Itu lho yang megangin spanduk di bawah!

Malam hari kami lewati dengan  bercengkerama bersama sambil berbagi makanan apa yang kami punya, daaaannn makan Indomie+telur+cabe rawit yangdijual di penginapan kami. Rasanyaaaa…. Enaaaak banget! Very recommended 😀

Jangan membayangkan resort yang mewah dengan kasur yang empuk, kami tidur seadanya di kamar yang juga seadanya dengan kasur yang sudah sangat tipis, namun kami nikmati bersama.

Hari Minggu jadwalnya bakti sosial dengan anak-anak dan penduduk sekitar, mengunjungi Goa Kelelawar, dan snorkeling (again!). Oh ia, di Sangiang tidak ada fasilitas umum seperti sekolah dan puskemas. Anak-anak di Pulau Sangiang bersekolah di Anyer dan setiap harinya mereka harus menyeberangi lautan. Saat kami membawakan tas dan perlengkapan sekolah, mereka senang sekali karena mereka mengaku tidak punya tas jika bersekolah. Betapa miris melihat kondisi ini di tengah-tengah kejayaan ‘Dinasti Politik’ yang ada di Banten.

Horeee Tas Baru!

Dear Penguasa Banten, look at this! Ada rakyatmu yang bersekolah pun harus menyeberangi lautan

Usai bakti sosial, anak-anak langsung memakai tasnya dan lari kesana kemari memamerkan tas barunya kepada orang tuanya.  Kami pun meninggalkan mereka sejenak untuk berjalan mengunjungi Goa Kelelawar yang jaraknya 30 menit ditempuh dari pemukiman penduduk. Tips jika ingin ke Goa Kelelawar, jangan lupa pakai lotion anti nyamuk karena nyamuknya ganas-ganas. Pulang dari Goa Kelelawar, kami bersiap untuk snorkeling lagi sebelum akhirnya meninggalkan Pulau Sangiang.

Foto berlatarkan goa kelelawar

Andaikan ada batman :D

Untungnya cuaca di kepulangan kami sangat cerah sehingga kami tidak perlu waswas ombak menerjang. Untuk menghindari rasa mual, beberapa di antara kami memilih untuk tidur (termasuk saya). Sesampainya di Anyer kami langsung menuju Sop Ikan Taktakan yang terkenal di Banten!

Berakhirlah sudah Sangiang Trip bersama Tukang Jalan… Kembali ke Jakarta dan NYALAKAN GADGET :p

Lupa foto makanannya, malah foto orang-orangnya -___-