Bertaruh 2 Nyawa Karena Eklampsia

Apa itu eklampsia? Sepertinya nama ini masih asing di masyarakat, di telinga saya pun juga. Namun, siapa sangka nama ini yang bisa merubah takdir seseorang termasuk saya. Saya memang pernah membaca mengenai eklampsia di website-website tentang kehamilan dan kelahiran, pun di majalah parenting seperti Ayah Bunda dll. Saat hamil saya memang senang membaca dan menggali informasi sebanyak mungkin mengenai kehamilan dan kelahiran karena ingin menjadi wanita dan ibu yang cerdas dan tidak percaya dengan mitos-mitos yang selama ini dihembuskan.

Di sini saya tidak akan menjabarkan apa itu eklampsia, namun saya akan sharing pengalaman saya. Simplenya, eklampsia itu adalah penyakit kehamilan, yaitu darah tinggi pada ibu hamil. Ada pre-eklampsia dan eklampsia. Apa bedanya? Ada yang bilang pre-eklampsia itu tekanan darah tinggi sebelum melahirkan (saat hamil) dan eklampsia itu setelah melahirkan. Ada juga referensi yang menyebutkan bahwa eklampsia adalah tingkatan/lanjutan dari pre-eklampsia ditandai dengan kejang-kejang. Penyakit ini adalah salah satu penyakit 3 besar yang menyebabkan kematian.

Menurut Obgyn saya, saya terkena eklampsia karena sampai kejang, dan jika tidak ditangani dengan baik dan cepat bisa menyebabkan tidak sadarkan diri (koma) hingga meninggal (Alhamdulillah saya ditangani dengan tepat sehingga bisa menuliskan ini).

 

Agustus 2014.  (Usia kandungan memasuki 7 bulan)

Setelah melakukan USG, Obgyn menyatakan hasilnya kepada kami “Wah kondisinya bagus, kalau seperti ini Insya Allah Ibu bisa melahirkan normal. Air ketuban bagus dan banyak, bayi tidak besar, plasenta dan tali pusar oke. Semuanya oke ya bu.” dr Meity Elvina, Obgyn saya menjelaskan kondisi saat itu. Wajahnya ceria melihat kemungkinan saya melahirkan normal (karena beliau memang pro-normal). “Bulan depan ukur panggul ya bu, dan bulan depannya lagi ceknya jadi 2 minggu sekali yaa..” lanjutnya.

Kami pun pulang dengan bahagia, ah melahirkan normal adalah impian sejatinya wanita….

 

September 2014. (Usia kandungan memasuki 8 bulan)

Suami selalu ada untuk saya sampai harus izin untuk pulang cepat bahkan izin ngantor. Dukungan suami dan orang-orang sekitar sangat diperlukan di masa-masa seperti ini,

Suami selalu ada untuk saya sampai harus izin untuk pulang cepat bahkan izin ngantor.
Dukungan suami dan orang-orang sekitar sangat diperlukan di masa-masa seperti ini,

Selama hamil kondisi saya memang sempat down, namun tidak parah, hanya mual-mual, bahkan saya masih bisa dinas ke luar kota. Siapa sangka di bulan ini Allah berkehendak lain.

Bulan ini adalah masa-masa yang berat bagi saya yang sedang mengandung 7 bulan menuju bulan ke-8 dan berstatus mahasiswi sekaligus karyawan swasta. Awal September kondisi kehamilan dan kondisi tubuh saya semakin menurun, nafsu makan saya hilang, tidak mau bangun dari tempat tidur, tidak tahan panas namun badan menggigil seperti meriang, mata sering kunang-kunang dan kondisi semakin buruk karena saya tidak bisa tidur. Kalaupun tidur, pasti terganggu dengan ‘acara ke toilet (buang air kecil)’. Selesai dari kamar kecil, saya tidak bisa tidur lagi. Badan saya pun semakin terlihat membengkak, khususnya kaki. Saya pikir ini normal sebagai ibu hamil. Saya tidak tahu sebenarnya ada bahaya yang sedang mengintai kehamilan saya.

Di bulan-bulan ini saya sama sekali tidak makan, hanya minum jus buah (yang banyak gula dan es batunya) sebanyak 2-4 plastik dan menghabiskan 1 botol air mineral (harus Aqua) berukuran sedang 2-3 hari, ditambah 1-3 botol Teh Botol/Teh kotak dingin.

Rumah sakit, jarum infusan, dokter, dan suster bukanlah hal yang asing lagi bagi saya. Awal September kami memeriksakan kandungan di RSIA Aulia (cek rutin) yang waktunya sengaja kami percepat karena khawatir dengan kondisi saya yang melemah. Mengapa di RS Aulia? Karena dari awal memeriksakan kehamilan, saya  memang memilih RSIA Aulia atas rekomendasi orang-orang sekitar saya.

Tibalah saatnya saya diperiksa oleh dr. Meity. Saya menceritakan keluhan-keluhan saya dan beliau menyuruh saya EKG  (periksa detak jantung bayi) dan hasilnya tidak memuaskan karena grafiknya statis, kemudian diperiksa gerakan bayi yang hasilnya tidak ada gerakan janin hingga suster harus berulang-ulang mengetes dan menstimulasi gerakan bayi. Saya mulai cemas karena sebenarnya saya juga sudah lama tidak merasakan tendangan janin.

Setelah melalui beberapa pemeriksaan, saya kembali menemui dr. Meity dan beliau khawatir akan kondisi saya dan janin. Beliau pun melakukan USG untuk saya (FREE) karena kekhawatiran beliau. Raut muka dr. Meity tidak seceria biasanya, saya pun semakin cemas. Sepertinya dr. Meity melihat yang tidak beres dengan kehamilan saya sehingga ia merekomendasikan untuk pergi ke ahli fetamaternal karena ia melihat plasenta saya kurang berfungsi. Akhirnya dr. Meity pun memutuskan untuk memberikan obat penguat paru-paru. Selesai konsultasi, dr. Meity menginfokan agar saya menghadapi kemungkinan terburuk, yaitu bayi saya harus diangkat melalui operasi sesar.

Semenjak itu saya tetap tidak bisa makan dan 2 hari sekali ke RS untuk minta diinfus agar ada asupan nutrisi dan tenaga untuk saya dan janin. Kali ini saya bolak-balik ke RS Jakarta Medical Center (JMC) karena dekat dengan rumah orang tua (semanjak hamil kami tinggal di Pejaten agar dekat ke kantor). Kami pikir kalau untuk minta diinfus, ke JMC saja dekat, tidak usah ke Aulia. Ternyata Allah berkehendak lain. Suatu ketika setelah cek darah ini itu, oleh Obgyn saya harus menginap (opname) di RS untuk diobservasi, sepertinya beliau (dr. Arju Anita) juga  melihat hal yang kurang baik akan kehamilan saya. Akhirnya saya menurut dan 2 hari dirawat. Selama 2 hari itu tekanan darah masih normal, namun memang detak jantung dan gerakan bayi masih statis dan gerakannya jarang. Makan pun masih sedikit sekali. Hari kedua di RS saya merasa baikan dan minta pulang meski dr. Anita sebenarnya belum mengizinkan karena menurutnya saya masih harus diobservasi. Akhirnya kami pulang setelah suami menandatangani surat pernyataan dan saya berjanji untuk menambah asupan makan.

Kembali opname dari RS, kondisi saya tidak ada perubahan, malah semakin memburuk. Mata semakin sering merasa kunang-kunang, pusing dan kaki semakin bengkak. Tidak kuat akan kondisi seperti itu, saya minta diopname lagi di RS (kembali ke JMC karena dekat dengan rumah). Di IGD saya mendapat infusan seperti biasanya, cek detak jantung janin dan gerakannya, lalu Obgyn melalui bidan yang sedang bertugas menyuruh untuk mulai memasang kateter. Ketika cek tekanan darah, hasilnya mulai meninggi >170 dan saya harus cek urin. Setelah cek urin ternyata ada protein di dalam urin saya (ini adalah salah satu ciri pre-eklampsia).

Selama di IGD saya diberikan obat penurun tekanan darah tinggi, bahkan obat yang paling mahal pun di-inject ke infusan saya. Sempat turun namun hanya sedikit dan kembali naik. Puncaknya adalah ketika selesai makan buah, tiba-tiba saya merasa tersengat listrik dari kaki  hingga kepala dan mulai tidak sadarkan diri (inikah rasanya jika dicabut nyawa? Naudzubillah min dzalik), yang saya ingat terakhir adalah suara ibu saya yang memanggil-manggil suster (suami sedang mengurus administrasi).

Setelah sadar, saya dikabari bahwa Senin, 29 September 2014 saya harus dioperasi-sectio pukul 09.00. Bayi di dalam perut saya harus dikeluarkan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Di tengah informasi tersebut, saya masih mencoba untuk mencari 2nd opinion dan suami menghubungi dr. Meity yang rutin menangani saya dari bulan 1 kehamilan namun dr. Meity pun menyatakan bahwa kalau kondisinya seperti ini saya harus disesar “Semua dokter pun akan melakukan tindakan itu (sesar).” Akhrinya saya sudah pasrah jika memang harus melahirkan saat itu juga dengan proses sesar.

 

Mendekati Waktu Melahirkan

Entah hari apa saya di sana, jam berapa saya juga tidak tahu, saya merasa sakit perut, mulas, rasanya seperti ingin buang  air besar dan saya merasakan ada kepala yang akan keluar dari vagina saya (posisi kepala janin sudah di jalan lahir). Saya teriak-teriak di IGD (mungkin mengganggu calon-calon ibu yang akan melahirkan di ruangan itu, maaf ya…) karena tidak tahan dengan mulesnya. Bidan datang dan menyatakan bahwa saya mengalami kontraksi dan sudah pembukaan 3 dan air ketuban sudah keluar. Rasa mules semakin tak terbendung, bidan kembali datang untuk mengecek, ternyata selang beberapa menit sudah pembukaan 5. Bidan langsung menghubungi dokter dan saya diberikan obat anti kontraksi untuk menahan pembukaan dan saya sudah tidak sadar lagi.

Sebagai informasi, ibu hamil penderita eklampsia dilarang keras melahirkan normal (harus melalui persalinan sesar) untuk menghindari resiko kematian Ibu/Janin atau keduanya.

Tekanan darah masih terus tinggi hingga kejang

Tekanan darah masih terus tinggi hingga kejang

 

29 September 2014 pukul 08.30

Jadwal operasi dimajukan 30 menit. Satu-satunya yang saya ingat adalah: saya memasuki ruangan operasi dan disapa oleh dr Anita “Halo, selamat pagi…” sambil tersenyum . Selebihnya saya tidak sadar sama sekali (kata orang-orang disuntik sesaat sebelum operasi sesar sangat sakit, tapi saya tidak merasakan apa-apa karena tidak sadar). Operasi sesar saya sangat beresiko karena dilakukan dengan kondisi saya yang tidak sadar, untungnya dr Arju Anita adalah dokter yang (kata orang-orang) berpengalaman mengalami ibu dengan gawat janin.

Pupus harapan saya untuk melahirkan normal, pupus harapan saya untuk melakukan Inisiasi Menyusui Dini, pupus harapan saya melahirkan ditemani suami di sisi saya, pupus harapan saya memeluk bayi saya setelah dipegang oleh dokter dan suster. Bayi saya harus masuk inkubator dan kurang gula, sedangkan saya baru sadar (itupun belum sepenuhnya) siang menjelang sore. Saya tidak tahu bayi saya selamat atau tidak.

Ketika kelopak mata ini terbuka, saya berharap ada bayi yang bisa saya peluk dan saya cium.. namun yang saya lihat adalah perut saya yang sudah kempes dan melihat suami saya menunjukkan foto anak kami di handphone. “Anak kita sudah lahir…” Ujar suami saya.

Saya juga harus menahan sedih karena anak saya harus mendapatkan donor ASI saat itu juga atau menggunakan susu formula karena ia tidak bisa bertahan lama seperti bayi sehat lainnya. Saat itu juga ia harus diberikan asupan, akhirnya kami memutuskan untuk memberikan susu formula saja. Harapan saya pupus lagi untuk memberikan ASI pertama kali ke tubuh anak kami. Sedih rasanya jika mengingat hal itu, saya baru bisa menemui dan memeluk anak saya 24 jam setelah melahirkan.

Eklampsia 1

Hanya melihat foto anak saya melalui layar smartphone setelah saya sadar dan membuka mata. Pernafasannya masih dibantu selang oksigen dan langsung diberikan gula agar memiliki tenaga.

Dari apa yang saya alami, terselip rasa syukur karena Alhamdulillah anak kami sudah lahir dengan selamat dan saat ini tumbuh menjadi anak yang sehat dan ceria.

Pesan saya dari pengalaman saya ini adalah:

Kepada Ibu hamil,

*Agar lebih perhatian dengan kandungan dan kondisi Anda. Jika ada sesuatu yang tidak beres, jika memungkinkan langsung saja periksa ke bidan atau dokter spesialis kandungan.

*Jujur dengan kondisi Anda. Jujur kepada dokter dan suami apa yang dirasakan

*Percaya dan lakukan anjuran dokter

*Rutin kontrol

*Jangan sepenuhnya mempercayai mitos

 

Kepada para suami,

*Do the best for your wife. Lakukan apa yang istri minta (sepanjang itu untuk kebaikannya), kalau bisa jangan sesekali menyakiti istri Anda dan memaksakan kehendak Anda. Sungguh,  mengandung dan melahirkan itu sulit.

 

Kepada orang-orang di sekitar ibu hamil.

*Agar lebih perhatian dengan ibu hamil, memberikan tempat duduk di transportasi umum dan sebagainya.

 

Note:

Penyakit pre-eklampsia dan eklampsia ini belum diketahui pasti penyebabnya (masih diteliti oleh para ahli), jadi hati-hati. Tolong perhatikan ibu hamil sekitar Anda.

Jika Anda divonis pre-eklampsia atau eklampsia, bersabarlah dan berdoa kepada Allah. Serta pasrah dengan apa yang terjadi.

 

Ada artikel bagus, singkat dan mudah dimengerti mengenai eklampsia yang ditulis oleh dr. Aldi. SpoG. Klik di sini.

 

 

2 comments

  1. Rizka Edmanda says:

    Perkenalkan mba sy rizka, Sy kebetulan mampir di artikel ini karena mencari di google tentang Dr.Meity, kebetulan beliau sekarang tinggal di pangkalan bun, krn suami beliau menjabat sbg kapolres disini. Sy lagi cari cari review tentang beliau karena rencananya minggu depan akan melakukan konsultasi/kontrol kehamilan pertama sy dgn beliau. Sy terharu sekali membaca cerita mba, terima kasih sudah sharing tulisan ini. Sy sampe menitikkan air mata hehe Salam utk keluarga semoga mba dan anak-anak sehat dan selalu dalam lindungan Allah.

    • mwulan says:

      Halo Mba Rizka,

      Wah senangnya kalau mendapat Spog dr Meity.
      Tolong sampaikan salam dari pasiennya 3 tahun lalu RS Aulia, yang ternyata kena eklampsia , ga jadi lahiran sama dr Meity deh karena urgent saya dibawa ke RS lain oleh keluarga.

      Beruntung banget Kalau Spog-nya dr Meity. Beliau sangat pro normal (kalau memang tidak ada indikasi medis yang parah) dan pro ASI. Beliau sangat care. Masih ingat di benak saya, dia memaksa saya minum dan makan snack jatahnya dia di RS karena melihat kondisi saya yang lemah, saya tidak boleh keluar ruangannya sebelum minum sampai habis, padahal di luar pasiennya masih banyak.

      Saya melihat videonya tentang beliau, langsung terharu: https://www.youtube.com/watch?v=DnGJ2qOh0bQ

Leave a Reply