Eklampsia-nya Masih Ada Setelah Melahirkan

Kurang lebih 75-80% penyebab kematian ibu melahirkan adalah preeklampsia-eklampsia, infeksi dan perdarahan dari seluruh kematian maternal (Rambulangi, 2003). Menurut data SKRT (1995) persentase penyebab kematian ibu melahirkan terbagi atas 45% perdarahan, 15% infeksi dan 13% preeklampsia-eklampsia.

Alhamdulillah, saya termasuk seorang Ibu hamil yang selamat dari penyakit eklampsia meski penyakit eklampsia-ku tidak berhenti setelah melahirkan. Jika kebanyakan penyakit akan berhenti setelah si bayi dilahirkan, eklampsia akan terus menghantui si ibu. Untuk itu setelah melahirkan harus tetap dikontrol kesehatannya, terlebih tekanan darah. Bagi ibu yang kehamilannya menderita eklampsia, agar tidak mengonsumsi garam atau makanan yang asin berlebih, dan banyak-banyak istirahat.

Ada  yang saya sesalkan ketika melahirkan di RS JMC. Tenaga medis  tidak menginformasikan kepada saya mengenai apa yang saya alami serta do’s & dont’s-nya. Misalnya saja, saya tidak tahu kalau saya tidak boleh makan garam berlebih. Saya baru tahu ketika suster melihat saya ngemil biskuit dan keripik yang asin, dia hanya bilang “Ibu tidak boleh banyak makan yang asin-asin ya.” Tapi dia tidak menjelaskan alasannya. Selain itu ketika saya banyak berbicara (karena banyak tamu), suster datang ke tempat saya “Kata dokter ibu harus banyak istirahat ya…” dan tidak mengemukakan alasannya. Padalah setahu saya, penderita eklampsia harus ketat dalam menjaga makanan dan waktu istirahat. Intinya: Saya dan keluarga kurang terinformasikan dengan baik. (Inilah gunanya menggali informasi dari seminar, majalah, internet).

Perlu Istirahat Banyak

Mitos: Ibu melahirkan dilarang tidur di pagi hari agar darah putih tidak naik ke atas

Fakta: Ibu melahirkan sangat dianjurkan untuk banyak beristirahat, terlebih bagi ibu yang menderita eklampsia. Ibu harus cukup istirahat demi pemulihan stamina setelah melahirkan (yang membutuhkan energi sangat banyak) dan menunjang kesehatan diri sendiri dan bayi.

Saran saya bagi para keluarga & rekan yang akan mengunjungi bayi dan si ibu, lebih baik menjenguknya ketika sudah di rumah saja, atau jika ingin menengok di RS, diperhatikan waktu kunjungannya disesuaikan dengan jam yang berlaku di RS.

Dua minggu pasca melahirkan wajah saya masih pucat, kulit berwarna kuning hingga obgyn di klinik kantor pun khawatir akan kondisi saya dan merujuk untuk cek darah. (Lagi-lagi saya bandel dan ignore rujukannya).

 

Apakah ada dampak jangka panjang bagi ibu penderia eklampsia?

Dari informasi yang dihimpun, Ibu penderita eklampsia yang telah melahirkan harus tetap rutin check-up kesehatannya. Eklampsia telah membuat organ-organ dalam si ibu terganggu, ada juga yang tekanan darah tingginya berlanjut.

Apakah eklampsia akan memengaruhi kehamilan berikutnya?

Jawabannya, iya akan mempengaruhi. Untuk itu Ibu yang menderita eklampsia di kehamilan pertama wajib memperketat kondisi ibu dan janin di kehamilan kedua. Kehamilan selanjutnya juga harus di bawah pengawasan dokter serta konsumsi makanan sehat, hindari stress, olahraga dan menikmati kehamilan dengan penuh rasa syukur dan berdoa. Di kehamilan kedua ini, penentuan sesar atau normal, dilihat dari kondisi Ibu dan janin. Jika di kehamilan kedua Ibu mengalami eklampsia, maka Ibu akan sesar kembali. Namun jika Ibu bebas dari eklampsia, kemungkinan normal masih ada dengan melihat pertimbangan dokter.

Well, semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi para ibu hamil dan keluarganya. Tulisan ini berdasarkan pengalaman saya disertai pengetahuan yang saya dapat dari berbagai referensi. Mari bersama-sama menyelamatkan Ibu hamil dan menekan angka kematian Ibu hamil di Indonesia!

 

Hasil penelitian (dalam bentuk skripsi) yang bagus mengenai eklampsia :

http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20320037-S-Nanien%20Indriani.pdf

 

 

 

Leave a Reply