Cerita Kehamilan dan Persalinan Anak Kedua

Setelah kehamilan & persalinan pertama yang bermasalah, saya bertekad di kehamilan kedua kehamilan saya harus sehat dan persalinanan-nya normal. Untuk itu saya berusaha menjaga asupan makan dan minum, mengonsumsi vitamin dan mengelola stress. Di kehamilan kedua ini saya juga sangat menjaga dari makanan yang sangat dilarang oleh dokter: Junk food dan Mie Instant. Alhamdulillah saya lulus dari makanan tersebut karena anak saya di dalam perut juga seolah-olah mengerti sehingga saya tidak mau mengonsumsi makanan tersebut. Saya paling ga kuat kalau lihat orang makan sashimi salmon dan telur ½ matang, cuma meringis setiap lihat foto/video makanan tersebut di media sosial 🙁 (ini nih bahayanya media sosial bagi bumil, jadi banyak kepengin).

Kehamilan kedua ini sebenarnya tidak direncanakan (anak pertama berumur menjelang 3 tahun ketika saya positif hamil) sehingga agak membuat kaget dan rasanya tidak percaya secepat ini diberikan karunia oleh Allah SWT, yaitu anak kedua. Setelah tahu hamil, kami langsung kontrol ke RS Jakarta Medical Center (JMC) – klik di sini untuk review RS JMC –  dan langsung memilih dr. Mariza Yustina SpOG (review tentang dr Mariza, klik di sini) karena saya sudah pernah konsultasi dengan SpOG-SpOG lain di JMC selama hamil pertama sampai KB, dan yang belum pernah sama dr Mariza. Alhamdulillah kami langsung cocok dengan beliau.

Bulan 1 sd bulan 8 Alhamdulillah kehamilan saya bisa dikatakan lancar, bahkan saya sempat ikut shooting produk SGM Bunda, wisuda S2 saat hamil 7 bulan, dan ikut acara Sumber Ayu Bersama Artika Sari Devi+Baim. Bulan 5 plasenta sempat di bawah dan bulan ke-7 posisi bayi sungsang  namun semua bisa diatasi dengan baik, air ketuban oke, plasenta juga bagus. Memasuki minggu 36 jadwalnya saya periksa bagian dalam dari vagina menggunakan USG Transvaginal untuk mengukur panggul dan bekas jahitan sesar pertama, tapiiiiii sayangnya di minggu 36 ke 37, kondisi saya drop karena adanya infeksi, tidak mau makan (maunya minuuuummm terus), asam lambung tinggi, heartburn hampir setiap malam dan itu semua mengakibatkan kondisi badan saya lemas dan tidak bertenaga. Akhirnya saya menghubungi dr. Mariza dan menceritakan kondisi saya, lalu ia mengarahkan saya ke RS untuk di-observasi (apalagi saya punya riwayat eklampsia di kehamilan pertama), jadi memang kalau ada keluhan-keluhan harus segera ke rumah sakit. Oh ia, kondisi ini juga yang membuat saya memutuskan cuti lebih awal.

Dari dulu ga pernah kesampean maternity photo, tapi aku dan suami sempat foto ala-ala di Claket Riverside, Selogiri, Wonogiri (Waktu hamil 4 bulan).

Perut aku emang ga gede-gede banget sih tiap hamil…

Kamis, 22 Maret 2018 – Saya masuk ruang bersalin di RS Jakarta Medical Center (JMC) untuk di-observasi. Tindakan pertama adalah pemberian cairan melalui infus untuk tenaga, cek gula, cek tensi (sampai 140 tapi Alhamdulillah turun lagi setelah minum penurun tekanan darah tinggi), cek urine, CTG, dan tes darah lengkap (termasuk cek pre-eklampsia). Saya sempat bete karena ketika dipasang infusan, kedua bidan yang menangani saya malah ‘berdebat’ seolah-olah belum piawai nginfus sekalian ambil darah, sampai darah saya ngucur kemana-mana dan tangan saya bengkak. Sore-nya dr. Mariza visit dan malamnya saya USG di poli, Alhamdulillah hasilnya bagus, air ketuban, plasenta, posisi bayi semuanya oke, hasil test darah juga Alhamdulillah bagus, negatif pre-eklampsia, hanya gula-nya yang nge-drop dan adanya infeksi. Keputusannya: tetap rawat inap untuk observasi lebih lanjut dan tak lupa infusan saya diganti dari kanan ke kiri oleh Bidan Lilis (bidan yang menangani persalinan pertama saya). Bidan Lilis jago juga ya nginfus, karena enakan setelah ganti posisi infusan. Alhamdulillah keesokan harinya saya sudah bisa pulang karena kondisi bagus semua, meski keputusan sesar tetap ada dan kami berencana sesar di 30-03-2018.

Tas Mas Zhafran, koper keperluan aku suami dan bayi, tas suami. (Di ruang VK, JMC Hospital).

Pulang ke rumah kondisi saya malah kembali ngedrop karena ga mau makan dan asam lambung tetap tinggi. Akhirnya hari Senin, 26 Maret 2018 saya dibawa kembali ke RS dan sudah pasrah untuk operasi sesar karena saya sudah tidak bertenaga lagi (rasanya seperti zombie hidup). Sekitar jam 12 siang diperiksa dr Mariza, akhirnya ia pun memutuskan untuk sesar malam itu juga jam 19.00 (Agak kaget sih karena gak nyangka secepat itu) karena saya benar-benar sudah tidak punya tenaga, daripada dipaksakan normal malah kenapa-kenapa, langsung saja lah sesar dan mulailah saya puasa dari jam 13.00 (Puasa ini menyiksa sekali karena ga bisa minum, haus paraaaaahhhh).

Di ruang VK, menunggu waktu operasi tiba..

Suami langsung mengurus administrasi, saya ganti baju operasi berwarna pink, dan persiapan lainnya.  Menjelang operasi saya lebih tenang karena pikir saya akan cepat bertemu dengan si buah hati, bebas dari kelemahan ini dan bebas makan minum apa saja. Karena satu dan hal lainnya, saya masuk ruangan operasi jam 08.40 dengan berjalan kaki (beda banget sama persalinan saya yang pertama). Masuk ruangan operasi saya langsung tiduran di Kasur yang sempit dan menunduk meluk bantal untuk disuntik anestasi bagian belakang (surprisingly ga sakit lho…!). Kata dokter anestasi-nya, lebih sakit diinfus daripada suntik belakang (emang bener ternyata!). Tangan kanan-kiri posisinya seperti ‘disalib’ dan bagian dada mulai dibatasin tirai biar kita gak lihat prosesnya, tapi saya merasakan kalau perut saya dibelek (meski ga sakit). Alhamdulillah, pukul 20.53 anak kedua kami telah lahir.

Ternyata di RS JMC itu, kalau sesar SpOG-nya dua (wauwww), dan saat itu dr. Mariza didampingi oleh dr.Anita SpOG. Jadi di ruangan operasi ada dokter utama (dr. Mariza), dokter pendamping (dr. Anita), dokter anestasi (yang ternyata wali murid-nya Ibu saya), dokter anak, bidan dan suster-suster.

Jadi… Sesar yang kedua ini saya benar-benar sadar, tak seperti persalinan pertama yang gak sadar saat operasi. Eh tapi saya sempat tidur sih pas operasi sesar kedua ini sampai dibangunkan oleh dokter anak “Malam Bu, saya dr. Irma, dokter anak, anak Ibu sudah lahir, persis Ibu” lalu dedek bayi diciumkan ke pipi dan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) sebentar karena bayi saya tidak kuat dingin. Udah deh, saya ga ingat apa-apa lagi sampai dibawa ke ruang pasca-operasi dan suami saya masuk (di sini saya belum sepenuhnya sadar). Akhirnya sekitar jam 11 malam saya dibawa ke ruang perawatan, dan baru bisa room-in dengan bayi keesokan paginya karena bayi saya masih di-observasi (tidak kuat dingin sama seperti kakaknya ketika lahir).

Pemulihan saya di RS menghabiskan waktu 4 hari 3 malam. Sebenarnya sih sudah bisa pulang 3 hari 2 malam (sesuai paket operasinya), tapi saya extend 1 hari karena di hari ke-3 anak saya lahir, bilirubinnya cukup tinggi dan harus disinar 24 jam. Di hari terakhir, saya sibuk bolak balik kamar (di lantai 3) ke ruangan perina (lantai 4 pojokan pula) , beuh perih banget jalan sambil megangin perut (hitung-hitung belajar jalan biar gak kaku). Berhubung ga menyiapkan pompa ASI, saya harus menyusui langsung dan bolak balik 2-3 jam sekali. Suatu waktu, jam 12 malam (malam Jumat) saya ditelepon dari ruang perina dan mengabarkan anak saya nangis dan harus disusuin, akhirnya diantar Ibu ke atas. Selesai menyusui, saya dan Ibu tidur di sofa depan ruang perina (malam jumat, pojokan, sepi, gelap, Ibu melahirkan yang menarik perhatian yang gaib), hemm rasanya mantaps. Jam 02.00 kami kembali ke kamar dan jam 03.30 saya sendirian balik ke ruang perina untuk menyusui.

Hari terakhir di RS, Mas Zhaf mau menatap dan deketan sama adiknya 🙂

Alhamdulillah hari Jumat kami bisa pulang, bilirubin anak saya sudah normal karena sudah disinar dan disusuin terus (Alhamdulillah saya dikaruniai ASI yang lancar  sejak anak lahir).

Pulangnya, kami dijemput Mbah Puti (Ibu mertua) yang sedang ke Jakarta dan pulang menggunakan Silver Bird Mercedes Benz agar nyaman di perjalanan. Pengemudinya sangat berhati-hati sehingga sampai rumah tidak merasa nyut-nyutan, apalagi mobil Mercy nyaman banget kan (Argo dari Buncit ke Tanah Baru Depok 150rb-an).

Special thanks to. dr Mariza Yustina SpOG (Dokter Kandungan-Dokter Utama), dr. Arju Anita SpOG (Dokter pendamping), dr. Irma Rochima SpA (Dokter Anak), Dokter Anestasi, Bidan dan suster yang bertugas menangani saya mulai dari observasi hingga pulang ke rumah.

Yeay dijemput Mbah Puti… (In Silver Bird Cab).

At the end, melahirkan normal maupun sesar sama saja, yang penting Ibu dan bayinya selamat. Eh beda deng, sesar sakitnya lama huhuuuhuuu 🙁 . Sempat kecewa sih gagal melahirkan normal (gagal maning), tapi akhirnya saya bisa menerima mungkin ini takdir Allah SWT dan saatnya kami fokus membesarkan anak-anak kami.   Mohon bantu doa ya, para pembaca yang budiman :).

Sambil nunggu suami mengurus administrasi, wefie dulu di ruangan

Leave a Reply