Memilih Dokter Kandungan Demi Kehamilan dan Persalinan yang Nyaman

Salah satu dokter spesialis yang menurut saya sulit cocok dan butuh effort untuk menemukannya adalah dokter spesialis kandungan (SpOG). Dokter inilah yang akan mendampingi kita mulai awal kehamilan (bahkan untuk beberapa orang, SpOG menemani mulai dari program kehamilan) hingga pasca persalinan. Untuk itu penting sekali dampingan dari SpOG yang cocok dengan kita sehingga kita bisa melalui kehamilan dan persalinan dengan aman, nyaman, dan lancar. Kehamilan adalah momen yang spesial bagi seorang Ibu dimana kehamilan dapat merubah fisik maupun psikis seorang Ibu yang membuatnya lebih moody dan butuh perhatian (berdasarkan pengalaman pribadi). Selain keluarga, tentunya Sang Ibu perlu berkonsultasi dengan ahlinya.

Untuk itu saya memiliki kriteria memilih dokter kandungan bagi kehamilan hingga pasca persalinan saya:

  1. Jenis kelamin

Maafkan ya para SpOG laki-laki, saya lebih memilih SpOG perempuan karena saya merasa lebih nyaman jika ‘buka-bukaan’ dengan orang selain suami saya .

  1. Perhatian

Sang dokter mempelajari medical record kita dan selalu mewanti-wanti untuk menjaga kandungan agar persalinan lancar. Jika kita ingin melahirkan normal (pervagina), sang dokter akan memotivasi kita untuk ke arah sana.

  1. Mudah dihubungi

Mau menerima panggilan telepon dan menjawab chat melalui WhatsApp misalnya, meskipun pertanyaan kita sepele. Contoh pertanyaan sepele saya: Dok, saya sudah boleh dipijit belum ya? 😀

  1. Memberikan resep obat / vitamin sesuai keperluan kita

Kadang ada dokter yang asal meresepkan vitamin ke kita tanpa bertanya dahulu apakah di rumah masih ada vitamin atau tidak, nah itu kan bakal berpengaruh sama biaya yang harus dikeluarkan ya, sudah bayar dokter spesialis dan USG, masa kita harus bayar vitamin yang masih ada di rumah. Jadi numpuk deh vitaminnya.. Untuk itu saya senang dengan dokter yang bertanya terlebih dahulu apakah vitamin masih ada dan memberikan obat sesuai keluhan kita.

  1. Komunikatif (Penjelasan detail)

Memberikan penjelasan detail mengenai kondisi kehamilan kita, bahkan sang dokter memancing agar kita bertanya.

  1. Pelayanan ramah (tidak terburu-buru)

Selalu menyapa dengan hangat dan ramah di setiap konsultasi, tidak terburu-buru ketika menjelaskan sesuatu meski pasien di luar sudah banyak yang menunggu.

  1. Menenangkan

Tidak membuat kita panik jika sesuatu terjadi dengan kita dan kehamilan kita, menenangkan dengan memberi penjelasan + solusi.

  1. Mendukung Apapun Keputusan Kita

Dokter yang baik itu akan mendukung apapun keputusan kita, mau normal, normal dengan tindakan, sesar, atau VBAC (Vaginal Birth After Cesarean) – melahirkan normal setelah sesar, yang penting Ibu dan bayinya selamat.

Alhamdulillah saya dipertemukan dengan dua obgyn (spesialis kandungan) sesuai kriteria-kriteria di atas. Kehamilan pertama saya dipertemukan dengan dr. Meity Elvina, SpOG. di RSIA Aulia (meskipun persalinan tidak dengan beliau dikarenakan emergency), dan kehamilan kedua saya dipertemukan dengan dr. Mariza Yustina, SpOG di RS Jakarta Medical Center (JMC). Sebelumnya saya tidak browsing dokter kandungan di Jakarta (jadi asal datang saja ke RS tersebut dan bertemu dengan dokter yang bertugas saat itu), khusus untuk dr Mariza, saya memilihnya karena  belum pernah merasakan konsultasi dengan beliau di RS JMC (semua obgyn di JMC sudah pernah saya ‘rasakan’) eh malah cocok banget sama dr Mariza. Beda sama kehamilan pertama yang ‘dipegang’ banyak obgyn, di kehamilan kedua ini saya benar-benar dipegang oleh 1 obgyn, yaitu dr. Mariza. 

Konsultasi pertama sekitar bulan Agustus 2017 ketika hasil test-pack saya menunjukkan 2 garis merah dan ketika itu kehamilan saya sekitar 4-5 minggu. Di konsultasi pertama, saya dan suami sudah merasa sreg dan cocok dengan dr. Mariza, semakin mantap keputusan saya ketika melihat review-review di internet mengenai dr. Mariza. Beliau asyik diajak berdiskusi dan perhatian dengan kondisi kehamilan kita, apalagi saya yang punya riwayat eklampsia di kehamilan pertama dan dr. Mariza pun mewanti-wanti agar saya mengonsumsi protein (telur dan daging-dagingan), buah-buahan yang mengandung vitamin C dan kalsium agar eklampsia-nya tidak terjadi lagi di kehamilan kedua. Wanti-wanti ini selalu diutarakan setiap kontrol, seakan dia yang khawatir dengan kehamilan kita dan tidak mau terjadi hal yang buruk.

Setiap konsultasi dia selalu mengingatkan saya untuk terus mengonsumsi makanan dan vitamin yang mencegah datangnya eklampsia, beliau juga selalu mengingatkan untuk menjaga kesehatan selama kehamilan agar saya bisa melahirkan normal setelah sesar. Ketika saya infokan ukuran minus mata saya (-4,75), dr. Mariza tetap optimis saya bisa melahirkan normal. Beliau juga menenangkan dan menjelaskan dengan detail ketika plasenta saya sempat di bawah dan ketika posisi bayi sempat sungsang. Intinya dr Mariza itu memenuhi semua kualifikasi dokter spesialis kandungan yang ideal bagi saya. Meskipun beliau mendukung saya untuk melahirkan normal setelah sesar, namun ketika saya meminta untuk sesar, dia juga hayu-hayu saja, yang penting saya dan anak saya selamat.

Ketika saya masih dirawat di RS pasca persalinan, dr. Mariza yang sedang visit saya menjelaskan bahwa saya harus banyak makan protein (khususnya putih telur 4 buah setiap hari selama 40 hari), tidak boleh kecapean, tidak boleh mengangkat yang berat kecuali anak sendiri dan memotivasi agar ASI lancar keluar dan beliau bilang bahwa saya sudah tidak ada pantangan makanan lagi (hihihi ingat saja kalau saya paling sering nanya ‘dok boleh makan A gak? Dok boleh minum B gak?’ selama hamil).

Hingga kontrol pasca persalinan, dr. Mariza tetap lho mengingatkan saya untuk waspada dengan penyakit eklampsia yang masih bisa datang hingga nifas selesai sehingga saya pun lebih berhati-hati menjaga kondisi badan. Alhamdulillah saya memiliki support system yang sangat membantu saya mengurus rumah dan anak-anak saya sehingga saya bisa banyak istirahat, tidak stress dan bisa fokus memberi ASI dan menjaga kesehatan diri. Banyak sekali hal yang saya baru tahu mengenai kehamilan dan penyakit eklampsia yang pernah saya derita ketika kehamilan pertama.

  1. Minum teh itu sebaiknya tidak sehabis makan dan tidak berbarengan dengan mengonsumsi makanan minuman yang memiliki zat besi (bahkan kalau bisa Ibu hamil tidak minum teh karena bisa mengurangi HB yang sangat dibutuhkan untuk melahirkan secara normal nantinya). HB juga berfungsi mengurangi tenaga agar ibu hamil tidak anemia dan tidak lemas.
  2. Penyakit eklampsia bisa menyerang sampai 3 bulan setelah melahirkan
  3. Tidak boleh duduk di bawah dan tidak tidur di kasur yang rendah sehabis persalinan sesar sampai bisa dinyatakan oke semua kondisinya (kalau saya, sehabis nifas sudah bisa beraktivitas seperti biasa kecuali mengangkat yang berat-berat kecuali bayi sendiri).
  4. Untuk mencegah eklampsia, Ibu hamil harus banyak mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung vitamin C, kalsium dan daging-dagingan merah.

Banyak sekali ilmu yang saya dapat mengenai kehamilan dari dr Mariza. Kesimpulannya, saya dan suami merekomendasikan dr. Mariza Yustina, SpOG sebagai dokter kandungan Anda dari kehamilan awal hingga pasca-persalinan. Terima kasih untuk dr. Mariza Yustina SpOG atas pendampingannya selama saya hamil kedua dan persalinan kemarin.

Kontrol pasca persalinan. Terima kasih banyak , dr Mariza Yustina SpOG yang mendampingi saya mulai dari awal kehamilan hingga pasca persalinan.