Selamat Tinggal Salah Satu Gigi Graham-Ku!

Pengalaman dicabut gigi di RS Swasta di Jakarta

Tak kusangka, diriku akan berpisah dengan salah satu gigiku, yaitu gigi graham bagian kiri bawah. Sebenarnya sudah lama gigi aku ada yang bolong gara-gara makan cireng crispy huhuuu sedih banget. Trus bandelnya aku (jangan diikutin ya) takut ke dokter gigi karena pasti akan ada tindakan kan. Pernah waktu hamil ngerasain sakit gigi, karena banyaknya kalsium yang terserap untuk jabang bayi. Padahal Ibu hamil itu kesehatan gigi harus terjaga dan gak boleh ada yang bolong. Sakitnya bukan main! Habis melahirkan, gigi aku gak sakit lagi dan terbuailah dengan ketidak-sakitan itu.

Tahun 2020, gusi-ku nyut-nyutan, tapi ku hiraukan saja (sakit gak dirasa-rasain). Eh kok makin hari malah makin sakit, apalagi setelah aku naik pesawat yang katanya memperparah sakit di tengah-tengah kondisi gigi berlubang. Sampai di kota tujuan, aku gak tahan sama sakitnya, akhirnya chat Halodoc dan konsultasi dengan dokter gigi yang tersedia. Diresepin lah Ibuprofen untuk menahan rasa sakit sementara. Sepulangnya ke Jakarta, sakit giginya gak sembuh-sembuh, bahkan sampai migrain dan gak fokus kerja.

Kunjungan pertama ke dokter gigi untuk dicek dan langsung Perawatan Saluran Akar (PSA) pertama.Biar gak tegang, nyambi baca buku deh.

Akhirnya aku memberanikan diri ke dokter gigi di RS Jakarta Medical Center (JMC) yang memang langgananku.  Dokter gigi di JMC ini banyak sekali, bahkan polinya ada 2.  Jadi bingung mau pilih dokter yang mana. Setelah googling, ada nama 2 dokter yang jadi rekomendasi, dan akhirnya aku memilih ke drg. Mariana di hari Sabtu. Katanya drg Mariana Emilia itu baik, ramah, cantik, lemah lembut dan islami. Wah kayaknya aku bakalan cocok sama tipe dokter yang kaya gitu (di luar cantik dan sisi religi maksudnya ya). Hari itu sedikit yang mengantri ke dokter gigi, jadi aku bisa ditangani cepat. Beliau menyapa dengan ramah, aku menceritakan sakit yang dirasa dan beliau langsung memeriksanya. Sebelum memeriksa dan tindakan, dia selalu mengucapkan basmallah dan meminta maaf karena memang bikin sakit/tidak nyaman. Kan jadi tenang ya meski tetap aja deg-degan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, diputuskan untuk Perawatan Saluran Akar (PSA). Pertama-tama gigi akan dibersihkandan gusi seperti ‘ditusuk-tusuk’ untuk mencari akar yang menyebabkan sakit, ternyata ketemulah 2 akar. Setelah itu dilakukan perawatan dan ditutup dengan tambalan sementara. Total biaya habis Rp. 600.000 (Biaya dokter, obat, tindakan dan administrasi). Satu minggu setelahnya, saya harus kembali untuk melanjutkan PSA (Ya, PSA itu memang butuh beberapa kali kunjungan). Kunjungan kedua sudah cukup santai, namun yang mengejutkan baru ketahuan bahwa something wrong dengan sisa gigi saya sehingga harus dirontgen. Ia menyarankan saya untuk berdoa agar giginya masih bisa diselamatkan, dan ia pun bilang akan ikut berdoa untuk gigi saya. Di kunjungan kedua ini menghabiskan biaya Rp. 550.000 (biaya dokter, tindakan dan administrasi).

Kunjungan kedua, masih PSA dan ternyata harus dirontgen.

Karena di JMC tidak ada rontgen gigi, saya berniat ke Parahita, namun di Parahita alatnya sedang rusak, jadi saya ke Audy Dental di Bangka, Kemang. Ternyata di sana hasil rontgen periapikal-nya tidak dicetak, tapi dikirim ke email pelanggan (biaya Rp. 125.000). Saya pikir, dokter pasti bisa membaca hasilnya meski dalam bentuk soft copy. Ternyata kunjungan berikut ke dokter gigi, hasik rontgen tetap lebih baik diprint karena untuk mengukur apa gitu (lupa), tapi untuk kasus saya, dari hasil scan sudah terlihat bahwa di dalam gusi, giginya sudah terbelah sehingga tidak bisa diselamatkan.  Ya sudah, waktunya say good bye dengan gigi grahamku.

Pertama-tama, ditensi terlebih dahulu dan taraaa ternyata TD aku 135 dong (cukup tinggi). Dokter mengajak relaks selama 5 menit dan setelah diukur kembali TD sudah normal di 110. Proses pencabutan gigi pun dimulai yang memakan waktu sepertinya 10 menit yang sebelumnya gusi akan disuntik antestasi.

Setelah itu, saya tidak langsung ke kasir dan menebus obat, tapi duduk diam di poli umum sambil menangis menahan sakit (bodo amat diliat orang). Setelah mereda sedikit, saya langsung ke kasir dan menebus obat (ternyata cukup lama karena sedang banyak pasien). Tepat 1 jam dari keluar poli gigi, obat sudah keluar dan saya langsung kembali ke poli gigi untuk menanyakan apa yang harus saya lakukan selanjutnya (padahal tadi sudah diberitahu, tapi saya gak mudeng karena sakit).  Oh ia, pencabutan gigi menghabiskan biaya sebesar Rp. 585.000,-.

Rasanya cabut gigi? OMG aku gak mau lagi! Sakit bukan main. Meski sudah minum antibiotik dan pain-killer, sakitnya gak hilang-hilang meski sudah mereda. Total aku sembuh sampai tidak merasa sakit itu 1 minggu. Selama 1 minggu itu pula aku minum air dingin terus untuk memberhentikan perdarahan dalam mulut dan makannya juga pelan-pelan. Setelah itu aku merasa ada yang mengganjal di bagian gigi dicabut, ternyata itu gusi yang sedang tumbuh untuk menutupi bagian luka. Sampai sekarang ini sih aku sudah bisa beradaptasi dan bisa makan minum normal. Nah, 1 bulan setelah pencabutan gigi, disarankan untuk pembersihan gigi terlebih dahulu dan 2 minggu setelah itu bisa membuat gigi palsunya.

Demikian pengalaman-ku mencabut gigi. Terima kasih sudah membaca dan semoga ada yang bisa dipelajari ya 🙂

Lesson learned:

  • Kalau ada gigi bolong, harus langsung diperiksakan ke dokter gigi. Jadi giginya masih bisa dirawat dan ditambal permanen.
  • Periksa ke dokter gigi 6 bulan sekali (terdengan klise, but WE HAVE TO!)

Leave a Reply