Pengalaman ke Ahli Fetomaternal Setelah Didiagnosa Plasenta Akreta

Wah apa itu fetomaternal? Apanya paranormal? Eits, ga ada hubungannya ya pemirsah! Ahli fetomaternal itu dokter kandungan yang  mengambil sub spesialis fetomaternal yang fokus pada deteksi dan mendiagnosa kelainan pada fetal (janin) dan maternal (ibu). Gelarnya dokter ini adalah Sp.OG (K) di belakang namanya. Biasanya kita akan dirujuk ke dokter fetomaternal jika ada rujukan dari dokter kandungan setelah melihat ada kondisi yang kurang baik dengan kandungan kita.

Sebenarnya istilah dokter sub spesialis fetomaternal ini sudah tidak asing lagi denganku karena waktu kehamilan pertama, aku sempat dirujuk ke dokter fetomaternal. Hanya sebelum waktunya tiba, kondisiku sudah tidak memungkinkan lagi untuk ke dokter fetomaternal dan aku ganti dokter + rumah sakit yang dekat rumah Ibu. Nah, saat kehamilan ketiga lah aku benar-benar bertemu dan konsultasi dengan dokter fetomaternal.

Kala itu saya periksa kehamilan di bulan ke-5 dan ketika USG oleh obgyn, beliau menyatakan bahwa plasenta saya posisinya seperti ‘menempel’, istilahnya plasenta akreta. Untuk itu saya dirujuk ke sub spesialis fetomaternal agar bisa diobservasi lebih lanjut dengan USG 3D/4D dengan dokter yang lebih ahli di bidangnya. Dokter kandungan ku pun merekomendasikan beberapa nama dan RS, akhirnya saya dan suami memilih konsultasi ke dr. Novi Resistantie Sp.OG (K) di RS Bunda Margonda. Sempat khawatir juga mau ke RS Bunda karena termasuk RS rujukan pasien COVID-19, tapi kami hilangkan rasa khawatir itu agar segera mendapat pencerahan kondisi kehamilanku. Nama dr. Novi Resistantie Sp.OG (K) sebenarnya sudah tidak asing lagi karena aku juga dirujuk ke beliau waktu kehamilan pertama.

Oh ia, alasan saya dirujuk ke sub spesialis fetomaternal juga untuk melihat posisi plasenta sebenarnya di mana. Jika benar plasentanya ada perlengketan, maka saya dan dokter kandungan saya sudah siap-siap dengan segala kemungkinan – perdarahan hingga harus diangkatnya rahim, karena plasenta akreta ini berbahaya dan bisa mengancam hidup Ibu hamil.

Akhirnya satu minggu sebelumnya, saya menghubungi RS Bunda untuk membuat perjanjian, tapi tetap kalau untuk antrian dihitung per kedatangan saat itu juga. dr. Novi Resistantie Sp.OG (K) Praktik di jam 14.00 dan jam 07.00 pagi antrian sudah dibuka. Karena malas pagi-pagi ke RS, jadi kami dating sekitar pukul 12.30 dan mendapat antrian nomor 8 yang which is diperiksanya pas magrib karena per pasien itu waktunya minimal 30 menit. Dikarenakan kondisi pandemi, suami tidak bisa masuk, jadi hanya sendiri. Deg-degan juga  ya ternyata mau USG 3D/4D tuh, takut ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, tapi screening ini harus dilakukan agar kesehatan Ibu dan janin terpantau, dan (amit-amit) apabila ada yang kurang baik, bisa diantisipasi sejak dini.

Kesan pertama bertemu dr. Novi Resistantie Sp.OG (K), orangnya ramah dan detail, asyik untuk diajak konsultasi. Setelah menyerahkan surat rujukan dari obgyn saya, saya di-USG dan Alhamdulillah tidak ditemukan plasenta akreta dan semua hasilnya bagus. Jika kita USG 3D/4D dengan sub spesialis fetomaternal, ia akan mengecek satu-satu kondisi janin, seperti jari-jari tangan dan kakinya dihitung (Alhamdulillah lengkap), lingkar kepala, lingkar perut, kaki, punggung, volume air ketuban dll pokoknya lebih lengkap dibandingkan ketika USG dengan dokter kandungan biasa. Ketika itu wajah bayi saya tidak bisa terlihat jelas karena di depan wajahnya terdapat ari-ari yang berkumpul di sana.

Saya juga bilang kalau ada riwayat eklampsia dan dr. Novi Resistantie Sp.OG (K) pun mengecek peredaran darah saya dan apanya gitu (saya juga kurang mengerti), ia bilang tidak ada indikasi eklampsia berulang, tapi tetap saja saya harus berhati-hati.

Keluar dari ruangan, pasien akan menerima link yang dikirimkan melalui SMS. Link tersebut berisi hasil foto dan video hasil USG. Selain itu kita juga akan diberikan CD dan hasil foto + hasil USG beserta kesimpulannya, untuk selanjutnya dilaporkan kepada dokter kandungan saya.

Foto atas: Dokumen berisi CD, laporan detail hasil pemeriksaan dan beberapa foto hasil USG 3D/4D.
Foto bawah: SMS yang menginfokan link untuk donwload hasil foto dan vido USG

Biaya konsultasi ke dokter fetomaternal menghabiskan Rp. 1,8 juta (sebelum obat) yang mencakup biaya konsultasi, administrasi, pengecekan dll. Karena kemarin Indonesia mengalami pandemi COVID-19, maka biaya juga ditambah dengan biaya APD Rp. 50.000,- dan saat masuk ke ruangan dokter, kita hanya sendiri yang masuk. Suami atau pengantar wajib menunggu di luar.

Beberapa tips dari saya jika Anda dirujuk ke dokter sub spesialis fetomaternal.

  1. Bisa minta rekomendasi dokter ke obgyn kita
  2. Bisa juga minta rekomendasi teman atau saudara yang pernah ke dokter fetomaternal, sekalian survey biaya
  3. Jangan lupa membawa kartu kontrol rumah sakit asal
  4. Buatlah perjanjian terlebih dahulu
  5. Siapkan daftar pertanyaan terkait kehamilan, mumpung ke dokter fetomaternal dan biaya konsultasinya juga mahal hehe..
  6. Bawa powerbank, jika lokasi menunggu jauh dengan stop kontak
  7. Bawa buku dan camilan + air mineral, khawatir lama menunggu


Sekian dari saya terkait pengalaman ke dokter sub spesialis fetomaternal, semoga para ibu hamil sehat-sehat ya. Selamat berjuang!

Leave a Reply