Dari Bandara ke Bandara, Kisahku Berada.

Bandara Sepinggan, Balikpapan, 15 November 2007. Enam tahun silam aku berdiri di sini untuk mengantar sahabat sekaligus cinta pertamaku, Andi. Saat ini genap enam tahun ia menimba ilmu di Jakarta. Hari ini aku pun mendapatkan kesempatan untuk menyusulnya ke  Jakarta, bukan untuk kuliah seperti dirinya, namun untuk bekerja mencari keberuntungan.

Selama enam tahun, Aku dan Andi tidak pernah kehilangan kontak. Setiap hari Andi tak absen menyapaku melalui messenger atau say hi melalui media sosial. Tak jarang Andi memotret sesuatu dan di dalam caption foto tersebut, foto itu ditujukan kepadaku. Oh Andi, betapa manisnya dirimu….

“Andi, aku  diterima kerja di Jakarta! Bayangkan, aku akan tinggal satu kota denganmu!” Ucapku via telepon sebelum keberangkatanku.

“Oh ya? Aku turut senang. Aku akan menjemputmu di bandara. Kabari  kapan kamu  mendarat.” Ujar Andi.

Betapa senangnya aku saat itu, aku lebih antusias bertemu dengan Andi dibandingkan pekerjaanku yang baru.

Sesampainya di pesawat, Dina duduk di kursi nomor 12A dekat dengan jendela. Di sampingnya duduk manis seorang wanita cantik yang menggunakan scarf bermotif bunga. Sangat pantas untuk dikenakannya.

Perjalanan dari Balikpapan hingga Jakarta terasa lama, kali itu adalah pengalaman pertamaku pergi menggunakan pesawat dan hatiku dag-dig-dig tak keruan. Tiba-tiba wanita di sampingku menyapa dan mengajakku berbicara.

“Hi, namamu siapa?” Sahutnya dengan tersenyum manis sambil mengulurkan tangannya yang kuning langsat.

“Aku, Dina. Kamu?” Jawabku malu-malu.

“Aku Bianca. Kamu mau pulang ke Jakarta?” Tanyanya.

“Tidak, rumahku di Balikpapan. Aku ke Jakarta akan mulai bekerja.” Melihatnya aku mengenal sesuatu, ternyata Dina adalah wanita yang menyewa kamar di rumah tetanggaku di Balikpapan selama sebulan. Ia sedang melakukan penelitian di kampungku. Aku sering melihatnya berkutat dengan laptop dan lembaran-lembaran kertas.

“Dina, sepertinya aku kenal dengan kamu. Kamu pernah tinggal di rumah Pak Lindu ya?” Dina pun mengiyakan dan tanpa ditanya menceritakan alasannya ke Balikpapan. Sampai akhirnya Dina mengatakan bahwa ia sangat rindu dengan kekasihnya bernama Endry.

“Maaf ya aku cerita ke kamu. Aku kangen banget sama pacarku. Selama ini kita sykpe-an, tapi itu malah membuatku semakin kangen.” Dina cemberut.

“Tidak apa, sebentar lagi kan kalian bertemu. Apakah Endry akan menjemputmu di bandara?” Tanyaku hati-hati. Dina menjawabnya dengan anggukan yang antusias.

“Iya! Oh ya nanti di bandara kamu dijemput sama siapa? Kalau kamu mau, kami bisa mengantarkanmu ke tempat tujuan.” Tawar Dina.

Akupun mengatakan bahwa aku sudah dijemput oleh Andi. Awalnya Dina kecewa karena tidak bisa membantuku, akupun menawarkan untuk makan bersama sesampainya di bandara. Kami setuju dengan ideku ini.

Beberapa menit kemudian pesawat yang ditumpangi mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Setelah mengurus bagasi, aku dan Bianca menuju pintu keluar.

“Andi…!” Sahutku.

“Endry…..!” Sahut Bianca.

Kami berjalan ke arah yang sama. Ya, ke arah lelaki yang menggunakan kaos berwarna hitam dan bercelana jeans. Ia memegang bunga..

“Halo sayang, apa kabar? I miss you…” Bianca dan Andiku berpelukan..

Ternyata, Endry adalah Andi.. Aku lupa nama belakang Andi adalah Endry…..

 

Cerita ini disertakan untuk #CeritaPerjalanan @ManDewi