Bulan Madu di Kampung Sampireun Garut

Bulan Madu (lagi) di Kampung Sampireun - Hasil foto fotografer Kampung Sampireun

Bulan Madu (lagi) di Kampung Sampireun – Hasil foto fotografer Kampung Sampireun

Bingung cari tempat untuk bulan madu? Dari berbagai macam pilihan lokasi yang ada, saya akan merekomendasikan Kampung Sampireun, Garut. Sepertinya Kampung Sampireun ini sudah cukup terkenal di masyarakat, khususnya masyarakat Jawa Barat. Lokasinya juga masih bisa ditempuh dengan perjalanan darat dari Jakarta dengan menghabiskan waktu kurang lebih 5 jam.

Yeayyy Alhamdulillah sampai di Kampung Sampireun Garut...!

Yeayyy Alhamdulillah sampai di Kampung Sampireun Garut…!

 

Lobi Kampung Sampireun

Lobi Kampung Sampireun

 

Lobi Kampung Sampireun , ada yang main musik khas Sunda menyambut kami

Lobi Kampung Sampireun , ada yang main musik khas Sunda menyambut kami

Kampung Sampireun memiliki paket honeymoon lengkap yang diberi nama paket ‘Honeymoon Swiss Van Java’ dengan harga paket Rp. 3.500.000- dan kita akan mendapatkan:

  • Menginap 2 malam di kamar yang ada di pinggir danau
  • 2X sarapan
  • 1x makan siang
  • 1x floating candle light dinner
  • Sekoteng & surabi setiap hari
  • Perawatan spa untuk istri & suami
  • Photo Couple
  • Tax & service 21%

Terjangkau kan harganya? Secara kalau menginap biasa, semalamnya bisa 3,3 juta ke atas untuk kamar di pinggir danau. Baiklah, saya akan mulai cerita pengalaman saya dan suami berbulan-madu (lagi) di Sampireun. Siapa bilang bulan madu hanya untuk pengantin baru ? :p

Kamar Kalapalua Suite Lake. Saya kira kami akan disambut dengan bunga-bunga di atas kasur beserta handuk yang dibentuk bebek :p

Kamar Kalapalua Suite Lake. Saya kira kami akan disambut dengan bunga-bunga di atas kasur beserta handuk yang dibentuk bebek :p

Kamar mandi semi outdoor

Kamar mandi semi outdoor

 

Betapa indah dan sejuknya ketika membuka pintu kamar ke arah danau.

Betapa indah dan sejuknya ketika membuka pintu kamar ke arah danau.

 

Kamar kami dari pintu yang dari danau

Kamar kami dari pintu yang dari danau

 

Siap naik perahu :)

Siap naik perahu :)

Saya akan bercerita pengalaman kami bulan madu (lagi) di Kampung Sampireun Garut ke dalam beberapa part, karena banyaknya kisah kami di sana, maka rasanya tidak cukup jika dituangkan ke dalam 1 artikel.

Silakan klik artikel di bawah ini untuk cerita lengkapnya:

Bulan Madu di Kampung Sampireun Day-1

Bulan Madu di Kampung Sampireun Day-2

Bulan Madu di Kampung Sampireun Day-3

Oh ia, saya senang banget ketika saran saya direalisasikan oleh manajemen Kampung Sampireun, yaitu aktif di media sosial!

Semenjak saya menuliskan saran saya di guest comment, yaitu untuk aktif di media sosial, Kampung Sampireun sekarang semakin aktif lho media sosialnya, salah satunya Instagram @sampireunresort .

Alamat Kampung Sampireun:

Jl. Raya Samarang Kamojang KM 4
Kp. Ciparay Desa Sukakarya
Kec. Samarang Kab. Garut,
Jawa Barat – Indonesia

+62262 – 542 393

+6281 323 007 130

info@kampungsampireun.com

sales@kampungsampireun.com.

(Patokannya itu di pertigaan sebelum pasar Samarang, belok kanan dan ikuti jalan saja, nanti sebelum Kebun Mawar, di sebelah kiri ada plang masuk Kampung Sampireun).

 

Pengalaman Naik Mpok Siti (City Tour Jakarta)

Mpok Siti adalah City Tour Bus keliling (sebagian kecil) Jakarta. Ya, sebagian kecil karena bis ini hanya keliling ke beberapa titik yang sudah ditentukan sesuai temanya; History of Jakarta, Art & Culinary, Shopping Experience / Jakarta Modern. Bis ini berbeda dengan bis yang lainnya karena memiliki tingkat di atasnya (bis tingkat) yang tentunya menjadi spot favorit para turis. Bis ini jenisnya bermacam-macam sesuai sponsornya.

Sabtu itu saya dan keluarga mencoba bagaimana rasanya naik bus tingkat pariwisata. Sebelumnya saya sudah pernah mencoba menaiki bis tingkat ketika saya 4 tahun bersama kedua orang tua dan ingin mengulang kembali momen tersebut bersama keluarga saya yang baru; suami dan anak saya Zhafran yang berumur 2 tahun.

Awalnya saya bingung mencari informasi mengenai Mpok Siti ini. Saya sudah browsing di Google, tweet ke Pemprov DKI, tweet ke @CityTourJakarta dan tidak ada yang membalas. Akhirnya setelah menyisir timeline @CityTourJakarta ,saya mengetahui bahwa semua informasi seputar Mpok Siti bisa ditanyakan ke @PT_TransJakarta . Bertanyalah saya ke @PT_TransJakarta , namun hal itu tidak menjawab pertanyaan saya seputar Mpok Siti. Tweet saya pun hanya dibalas 1X, padahal setelah itu saya masih ada pertanyaan lagi seperti:

  1. Sebaiknya naik dari mana? (start)
  2. Berapa lama waktu perjalanan?
  3. Berapa lama harus menunggu di halte (bis datang berapa jam sekali)?
  4. Apakah bisnya berhenti di setiap titik atau hanya melewati saja?

Tidak ada lagi yang menjawab pertanyaan saya, sampai akhirnya saya merasakan sendiri.

Jadi, kami memutuskan untuk naik Mpok Siti dari halte di depan Balai Kota yang ada logo “City Tour”. Kami menaiki bus History of Jakarta yang disponsori oleh salah satu bank berwarna merah dan ternyata kami harus turun/finish di depan Museum Bank Indonesia. Pengalaman pertama ini saya merasa tidak puas karena waktunya sebentar, dari Balai Kota hanya melewati titik Museum Nasional dan Museum Arsip RI dan berakhir depan Museum Bank Indonesia. Jika ingin lanjut, kami harus ke depan Bank BNI 46 Kota Tua (menyebrang dari Museum Bank Indonesia).

Pengalaman pertama kali naik Mpok Siti

Pengalaman pertama kali naik Mpok Siti

Selain itu kami tidak puas karena tidak berhasil duduk di paling depan dan jendela kami terhalang oleh stiker luar bus sehingga tidak leluasa melihat pemandangan luar. Mungkin sebaiknya bis pariwisata tidak usah ditempel stiker-stiker kali ya.. Saat itu bis yang kami tumpangi diberikan stiker “Merdeka 71” karena masih dalam rangka hari kemerdekaan. Kami juga kecewa dengan pengemudi yang terkesan terburu-buru dan menyuruh kami cepat-cepat turun, padahal kami para penumpang sedang antri turun, lho….! Suaranya pun tidak ramah , berbeda dengan ‘pramugari’-nya. BTW tugasnya si pendamping pengemudi ini apa ya? Sepertinya hanya menyambut penumpang di awal ketika naik dan memberikan karcis saja. Kenapa tidak sekalian menjadi pemandu ya? Karena Mpok Siti ini tidak ada pemandu wisatanya.

Pandangan kami terhalang oleh stiker bus :(

Pandangan kami terhalang oleh stiker bus :(

Akhirnya, saya pun bisa menjawab pertanyaan saya sendiri:

  1. Sebaiknya naik dari mana? Untuk bis Historical of Jakarta, sebaiknya naik dari Bank BNI yang ada di Kota Tua (dekat stasiun Kota).
  2. Berapa lama waktu perjalanan? Dari Balai Kota ke Finish di Museum Bank Indonesia menghabiskan waktu 15 menit dengan macet saat itu.
  3. Berapa lama harus menunggu di halte (bis datang berapa jam sekali)? Saat itu kami menunggu 3 menit untuk mendapatkan bus.
  4. Apakah bisnya berhenti di setiap titik atau hanya melewati saja? Bisnya berhenti di setiap titik dan kita bebas naik turun di titik tersebut.

Overall, saya sih mengapresiasi ide adanya Mpok Siti ini. Hanya saya harap adanya manajemen yang bagus, pemandu dan pengemudi yang ramah, dan kejelasan informasi mengenai bis ini.

Oh ia, setiap saya lihat bis merah ini beredar di Jakarta, bawaan-nya keki karena punya bad impression sama bis ini. Sayang banget 🙁

Family-Weekend-Getaway di Sunan Solo Hotel

31 Oktober – 1 November kami sekeluarga berkesempatan weekend getaway ke Hotel Sunan Solo. Hotel yang lokasinya di Jl. Ahmad Yani 40 ini berpredikat bintang 4 dengan suasana (menurut saya) jadul. Serasa kembali ke jaman Si Doel dan Sarah :p

Lobi Sunan Hotel

Lobi Sunan Hotel

Menginap semalam di Sunan Hotel Solo adalah salah satu pengalaman tak terlupakan

Menginap semalam di Sunan Hotel Solo adalah salah satu pengalaman tak terlupakan

Fasilitas di kamar

Kami menginap di kamar deluxe seharga Rp. 1.328.800/night dengan ‘classic design room’ menghadap ke jalanan dan kami mendapatkan fasilitas bed cover with duvet, classic furniture and mini bar, sofa, fast internet connection, bathroom with bathtub (toiletnya legaaaaa), lcd tv 34 channel, dan water heater yang berfungsi dengan baik. Oh ia ini kali pertamanya saya menggunakan connecting door di hotel. Ternyata bermanfaat juga yaa biar bisa terhubung ke kamar sebelah, apalagi buat yang bookingnya lebih dari 1 kamar dan ingin terhubung dengan kamar sebelah. AC-nya dingiiinnnn pol (saya suka).

Kamar twin bed

Kasur yang ini empukkkk

Kasur yang ini empukkkk

 

Pertama kalinya memanfaatkan connecting-room di hotel

 

Izzan mandi di bath-tub dengan Mbah Uti

Toilet dengan bath-tub dan luas kamar mandinya

Pelayanan

Receptionist dan all crew-nya ramah bersahaja dan sigap. Pelayanan di restaurant juga oke. Pelayanan room service juga cepat. Sebenarnya di hotel ini fasilitas cukup lengkap dengan salon, drug store dll namun tidak ada kids corner. Saya sempat mencicipi dimsum dari salah satu restaurantnya, yaitu Imperial Taste melalui room service. Rasa dimsumnya enak, affordable price untuk ukuran hotel, halal, variannya juga banyak dan tersedia.

Breakfast & Restaurant

Nama restaurantnya “Narendra” dan ada beberapa kursi menghadap ke swimming pool. Varian makanannya banyak, salah satunya favorit suami, yaitu tengkleng (meskipun rasanya lebih enak tengkleng Wonogiri,katanya…). Salah satu yang saya suka dari Narendra adalah: varian minuman dinginnya banyak, ada jus orange, jus jambu, es jahe, es teh manis, air putih dingin. Lalu ada pecel, berbagai varian bubur tradisional, salad dan sereal.

Restaurant-nya namanya "Narendra"

Restaurant-nya namanya “Narendra”

Berbagai macam makanan dan minuman, lengkaaappp kap kap

Berbagai macam makanan dan minuman, lengkaaappp kap kap

Spotted my husband who take some foods

Spotted my husband who take some foods

 

Bisa duduk di kursi panjang

Bisa duduk di kursi panjang

First family breakfast in hotel

First family breakfast in hotel

Who's the boss? Izzan :D

Who’s the boss? Izzan :D

Swimming Pool

Kalau bagi saya kolam renangnya lumayan luas dengan tiga kolam yang berbeda kedalamannya, mulai untuk balita, yang kedalamannya sedang, hingga yang paling dalam. Hanyaaa kekurangannya adalah tidak disediakan handuk (mungkin karena *4 kali ya) dan ban. Alangkah bagusnya jika ada ban/pelampung untuk anak kecil juga, atau mungkin juga bisa disewakan. (oi oi ini hotel, bukan waterpark :p).

Kolam renangnya terbagi tiga

Kolam renangnya terbagi tiga

Izzan senang main air

Izzan senang main air

 

Alhamdulillah bisa main air bersama keluarga :D

Alhamdulillah bisa main air bersama keluarga :D

Renang bareng Tante Anis

Renang bareng Tante Anis

 

Renang sampai ngantuk :p

Renang sampai ngantuk :p

Lokasi terdekat:

4 km ke Istana Mangkunegaran

5 km ke Keraton Sunan

5 km ke pusat pemerintahan

5 km ke Pasar Klewer

15 menit ke bandara Adi Sumarmo

6 menit ke Stasiun Balapan

Oh ia, Hotel Sunan Solo ini salah satu hotel yang aktif di media sosial, lho! Tak hanya aktif posting, tapi juga membalas pertanyaan/feedback. Websitenya  juga tidak membingungkan dan informasinya jelas. Sepertinya hotel ini juga serius menggarap media sosial dan digital sehingga digital pressence-nya ok!

Website: http://thesunanhotelsolo.com/

Facebook : https://web.facebook.com/TheSunanHotelSolo

Twitter : @TheSunanHotel

Instagram: @thesunanhotel

YouTube : https://www.youtube.com/user/TheSunanHotel

 

Overall, saya puas menginap di Hotel Sunan Solo. Thanks Hotel Sunan Solo for having us.

Rate: 8,5/10

Apakah saya akan merekomendasikan kepada yang lain? Ya

 

 

This entry was posted in Holiday.

Menginap di Hotel MaxOne Belstar Belitung

Selamat datang di MaxOne Belstar Belitung

Selamat datang di MaxOne Belstar Belitung

Belitung kini sudah menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi, thanks to Andrea Hirata yang memperkenalkan Belitung melalui sastra. Bulan April lalu kami berkesempatan mengunjungi Belitung dan menginap di Hotel MaxOne karena perjalanan kami sudah diatur oleh MyTrip magazine. Ternyata Hotel MaxOne ini baru berdiri di Belitung, bahkan saat kunjungan kami, hotel ini belum melakukan peresmian hotel (grand launching). Sesampainya kami di hotel, kami disuguhkan welcome drink yang seger banget!

Hotelnya bersih dan nyaman

Hotelnya bersih dan nyaman

MaxOne Belstar Belitung ini memiliki tagline a value design hotel with feeling. Tagline itu bukan sembarang tagline karena hotel ini memiliki harga yang bersahabat, Rp. 700.000,- net untuk kamar jenis Happiness dan Rp. 900.000,- untuk kamar jenis Warmth, dan harga ini bisa lebih murah kalau book langsung dari websitenya, www.MaxOneHotels.com jauh-jauh hari.  Selain itu staf di MaxOne Belstar Belitung juga ramah dan helpful.

Sebagai pemerhati brand, saya penasaran kenapa namanya MaxOne. Ternyata ada ‘kepanjangannya’, yaitu Value to MAX, number ONE in service yang bisa kita rasakan melalui fasilitas-fasilitasnya, yang ada di kamar maupun di hotel secara keseluruhan.

Fasilitas dalam kamar:

–          Rain Shower = Berfungsi dengan baik

–          Shower seat = Relax banget kalau duduk di sini sambil kena air pancuran dari shower dan bisa sambil…. Ehm…. Ehm…. (sensor :p )

–          5* Bed = Kasurnya empuk dan nyaman

–          Soft & Firm Pillows

–          Free WiFi = WiFi-nya lumayan kenceng kok

–          TV Cable

MaxOne Facilities:

–          Maxspa

–          Maxride

–          Maxbistro

–          Meeting room

–          Singing Hall

–          Roof Top Café

–          Arcade

–          Parking Area

Ini kamar yang saya tempati

Ini kamar yang saya tempati 

 

Suasana di dalam kamar jenis "Warmth"

Suasana di dalam kamar jenis “Warmth”

 

Desain dinding kamarnya lucu ya..

Desain dinding kamarnya lucu ya..

 

Toilet di dalam kamar

Toilet di dalam kamar

 

Ini lho shower seat-nya

Ini lho shower seat-nya

 

Menu yang ada di dalam kamar (room service)

Menu yang ada di dalam kamar (room service)

 

Suasana restaurant di MaxOne

Suasana restaurant di MaxOne

 

Perbedaan kamar Wamth dan Happiness.

Perbedaan kamar Wamth dan Happiness.

Sayangnya saat kunjungan kami, belum semua service berjalan dan lengkap, salah satunya room service, tapi mereka sudah mencantumkan menu makanan di setiap kamar, namun saat saya memesan beberapa makanan dan minuman, jawabannya belum tersedia. Hm, okelah kami maklumi 🙂

Overall, saya pribadi terkesima dan terkesan dengan MaxOne Belstar Belitung dan akan merekomendasikan hotel ini kepada teman-teman dan pembaca blog saya untuk menginap di sana jika sedang ke Belitung. Oh ya, perjalanan dari bandara HAS Hanandjoedin Airport ke hotel membutuhkan waktu sekitar 15 – 20 menit.

MaxOne Hotel juga menyediakan jasa drop/pickup airport, Rp. 180.000,- untuk Innova dan Rp. 150.000,- untuk Avanza. Selain itu MaxOne juga menyediakan city tour package:

  1. Tanjung Pandan (Pantai Tanjung Kelayang – Pantai Tanjung Tinggi – Bukit Berahu – Danau Kaolin – Rumah Adat Belitung – Pantai Tanjung Pendam)

Innova : Rp 650.000,-

Avanza : Rp. 500.000,-

  1. Manggar (SD Laskar Pelangi – Museum Kata – Pantai Lalang – Pantai Serdang – Pantai Burung Mandi – Vihara Dewi Kwan Im.)

Innova : Rp. 750.000,-

Avanza : Rp. 650.000,-

Alamat dan kontak:

Jl Sriwijaya, Tanjung Pandan 33411, Belitung

Tel. +62 719 922 5777

Fax. +62 719 922 5111

reservation.maxonebelstar@gmail.com

 

 

Sangiang Trip, Sejenak Melupakan Kehidupan Hingar Bingar Metropolitan

Adakah yang pernah mendengar Pulau Sangiang? Saya sendiri baru mendengar Pulau Sangiang dari Tukang Jalan, sebuah komunitas yang suka jalan-jalan dan explore tempat wisata. 29-30 Agustus 2013 lalu saya dan teman-teman dari Blue Bird Group dan beberapa teman kampus ikut ke dalam trip ini. Hal yang membuat kami tertarik dengan trip ini adalah adanya kegiatan bakti sosial di dalamnya. Jarang-jarang kan orang traveling sambil beramal?!

Kami dan rombongan berangkat dari jam 07.00 dan sampai di Pantai Anyer di pukul 10.00 . Cuaca saat itu kurang bersahabat dan turun hujan yang cukup lebat. Pukul 11.30 kami nekat menyeberang di tengah rintik-rintik hujan (saya dan rombongan banyak-banyak berdoa). Di tengah-tengah perjalanan, saya dan beberapa orang lainnya mulai merasa mual (mungkin karena pertama kali naik kapal). Gelombang di lautan di Selat Sunda masih besar hingga akhirnya kami tiba di rawa-rawa menuju Pulau Sangiang. Waktu perjalanan dari Dermaga di Pantai Anyer ke Pulau Sangiang sekitar 1 jam.

Jangan bayangkan dermaga seperti di Ancol. Kita harus melalui jalan ini terlebih dahulu untuk menuju kapal (Fiuh, untung lagi ga pasang airnya)

Rawa-rawa seperti di Pulau Kalimantan

Akhirnya bisa tersenyum setelah melalui gelombang yang menakutkan

Baaaa.... Dapat salam dari genk rempong dari Pulau Sangiang! :D

Kami pun dibuat takjub dengan Keindahan rawa-rawa seperti sedang berada di Kalimantan. Airnya jernih namun terlihat masih adanya sampah di beberapa titik. Keadaan di Pulau Sangiang benar-benar terbatas. Sinyal untuk komunikasi pun sangat susah untuk didapatkan (2 hari tanpa gadget!). Sama halnya dengan listrik dan air. Listrik yang berasal dari genset hanya menyala mulai pukul 18.00 sampai pukul. 06.00. Kamar mandi umum di sana juga hanya ada 4 (2 memiliki pintu, dan 2 hanya menggunakan tirai). Hal yang membuat saya kagum, di sana mereka sangat mengutamakan kebersihan tempat ibadah. Di Pulau Sangiang dibangun masjid yang besar dan terbuat dari beton dan tembok, tempat wudhunya pun bersih.

Udah mau sampe, Om Tije ikutan foto

Wah kita-kita ini berasa TKI :p

Melupakan rasa mual, kami pun foto-foto

Ini nih penginapan kami..

Hari pertama kami lewati dengan snorkeling dan menikmati Pantai Panjang yang lokasinya dekat dengan pemukiman penduduk (hanya berjalan kaki 10 menit). Sedih melihat kondisi Pantai Panjang yang banyak sampah, padahal jika pantai ini dirawat, akan menjadi potensi wisata daerah Banten.

Bisa melihat dasar laut dengan kasat mata. Subhanallah!

Itu air laut, bukan karpet!

Pantai Panjang di Pulau Sangiang

Eh ada Blubi..

Mana Wulan? Itu lho yang megangin spanduk di bawah!

Malam hari kami lewati dengan  bercengkerama bersama sambil berbagi makanan apa yang kami punya, daaaannn makan Indomie+telur+cabe rawit yangdijual di penginapan kami. Rasanyaaaa…. Enaaaak banget! Very recommended 😀

Jangan membayangkan resort yang mewah dengan kasur yang empuk, kami tidur seadanya di kamar yang juga seadanya dengan kasur yang sudah sangat tipis, namun kami nikmati bersama.

Hari Minggu jadwalnya bakti sosial dengan anak-anak dan penduduk sekitar, mengunjungi Goa Kelelawar, dan snorkeling (again!). Oh ia, di Sangiang tidak ada fasilitas umum seperti sekolah dan puskemas. Anak-anak di Pulau Sangiang bersekolah di Anyer dan setiap harinya mereka harus menyeberangi lautan. Saat kami membawakan tas dan perlengkapan sekolah, mereka senang sekali karena mereka mengaku tidak punya tas jika bersekolah. Betapa miris melihat kondisi ini di tengah-tengah kejayaan ‘Dinasti Politik’ yang ada di Banten.

Horeee Tas Baru!

Dear Penguasa Banten, look at this! Ada rakyatmu yang bersekolah pun harus menyeberangi lautan

Usai bakti sosial, anak-anak langsung memakai tasnya dan lari kesana kemari memamerkan tas barunya kepada orang tuanya.  Kami pun meninggalkan mereka sejenak untuk berjalan mengunjungi Goa Kelelawar yang jaraknya 30 menit ditempuh dari pemukiman penduduk. Tips jika ingin ke Goa Kelelawar, jangan lupa pakai lotion anti nyamuk karena nyamuknya ganas-ganas. Pulang dari Goa Kelelawar, kami bersiap untuk snorkeling lagi sebelum akhirnya meninggalkan Pulau Sangiang.

Foto berlatarkan goa kelelawar

Andaikan ada batman :D

Untungnya cuaca di kepulangan kami sangat cerah sehingga kami tidak perlu waswas ombak menerjang. Untuk menghindari rasa mual, beberapa di antara kami memilih untuk tidur (termasuk saya). Sesampainya di Anyer kami langsung menuju Sop Ikan Taktakan yang terkenal di Banten!

Berakhirlah sudah Sangiang Trip bersama Tukang Jalan… Kembali ke Jakarta dan NYALAKAN GADGET :p

Lupa foto makanannya, malah foto orang-orangnya -___-

 

Wisata Singkat ke Bali

Di sela-sela waktu kerja, kami menyempatkan cuti untuk berwisata ke Pulau Bali. Perjalanan dari JKT-DPS-JKT menggunakan pesawat Citilink. Cuaca di Bali saat bulan Mei 2013 sangat panas, dan setelah mendarat di Bandara Ngurah Rai, kami bingung ingin naik apa karena taksi bandara di sana sangat mahal, alhasil kami mencegat taksi Blue Bird. Tapi pengemudi-pengemudi taksi Blue Bird menolak kami dengan alasan taksi Blue Bird tidak diperbolehkan mengambil penumpang dari bandara. Very weird, eh? Masa taksi lain boleh menjemput tamu, tapi taksi Blue Bird tidak diperbolehkan?

Kami pun dikejar-kejar oleh calo taksi lain, karena kegerahan dikejar, kami pun bilang “kami pakai voucher taksi Blue Bird, pak!” dan ajaibnya calo-calo taksi itu berhenti mengejar kami. Kami harus rela berjalan sampai gerbang bandara untuk naik taksi Blue Bird. Phew, perjuangan banget ya (ini namanya brand loyalty :p ).

Kami memutuskan untuk ‘ngadem’ di Discovery Shoping Mall Kuta Bali (argo bandara – Mall : kurang lebih Rp. 19.000, kalau pakai taksi lain nembak Rp. 50.000) .Di sana terdapat berbagai macam resto untuk makan atau sekedar ngopi-ngopi. Memasuki pukul 12.00, kami beranjak dari Mall menuju Hotel Harris Riverview Kuta Bali untuk check-in dan istirahat sejenak. Pukul 15.00 kami keluar untuk makan siang di warung Soto Ayam, samping Hotel. Pukul 15.30 kami mencegat taksi yang lewat dan berangkat ke Garuda Wisnu Kencana (Garuda Culture Park) di daerah Tanjung Nusa Dua, Badung. Dari Hotel Harris yang di Kuta, mengarah ke Selatan sekitar 60 menit.

Ngadem di Starbucks Discovery Shopping Mall Kuta Bali

Di Kawasan ini terdapat patung Garuda (namun hanya bagian kepala-nya saja) dan bagian badan Patung Garuda Wisnu Kencana patung Wisnu. Selesai berfoto-foto selama 30 menit, kami mengarah ke Jimbaran untuk menyaksikan sunset dan dinner di pinggir pantai. Dari GWK ke Jimbaran membutuhkan waktu 40 menit (karena macet).

Foto di depan patung Dewa Wisnu yang belum lengkap (bertangan)

Patung Burung Garuda di Garuda Wisnu Kencana

Berjalan di antara batu-batu besar

Sebelum menyantap hidangan, kami asyik berfoto menggunakan timer. Loncat sana, loncat sini tapi ga ada yang berhasil 🙁 . Matahari pun tenggelam dan kami langsung menyantap sea food ditemani musik dari grup pengamen. Pukul 18.00 hujan tiba-tiba melanda Jimbaran dan kami pun langsung berpindah tempat  ke dalam restoran, melanjutkan santapan dessert kami. Pukul 19.00 kami sudah kekenyangan dan memutuskan untuk pulang namun bingung karena tidak ada taksi sama sekali. Alhasil kami menelepon pengemudi taksi yang mengantar kami tadi, dan dia mengiyakan untuk kembali ke daerah Jimbaran untuk menjemput kami.

Lompatan yang paling 'sempurna' dari berbagai macam gaya :p

Sebelum hujan melanda Jimbaran

Kami senang main air, tapi kami tidak senang mencuci bajunya :p

Hari Kedua di Bali

Hari kedua kami menuju ke Tanah Lot untuk foto-foto, kali ini kami akan berfoto menggunakan baju adat Bali :p . Dari Kuta ke Tanah Lot memerlukan waktu 1,5 jam. Puas berfoto di Tanah Lot selama 45 menit, kami menuju Pasar Sukowati untuk membeli oleh-oleh. Ternyata Pasar Sukowati itu jauh sekali dari Tanah Lot, perjalanan bisa 90 menit. Dari Sukowati kami langsung ke bandara karena lokasi Sukowati ke Bandara Ngurah Rai cukup jauh (sekitar 60 menit).

Bli Fikri imut sekali :*

Jadi Orang Bali sejenak

Berbaur dengan para wanita sehabis sembahyang di Pura

Setelah dadah-dadah dengan pengemudi taksi, kami langsung check-in untuk menggunakan Citilink lagi. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya!

FYI, argo dari Kuta-Tanah Lot-Pasar Sukowati-Bandara Ngurah Rai = Rp. 400.000,-

 

Keliling Semarang Pakai Taksi

Iya, pakai taksi! Selama ini kita kalau berjalan-jalan pasti pakai mobil/motor pribadi, mobil/motor rental, nah gimana ceritanya kalau jalan-jalan keliling suatu kota menggunakan taksi? Saat itu saya berkesempatan mengelilingi kota Semarang menggunakan taksi Blue Bird.

Gereja Blenduk

Pukul 07.00 saya dan rekan lainnya berkumpul di kawasan kota Lama Semarang, tepatnya di depan Gereja Blenduk (sering dilafazkan gereja mBlendhung karena kubahnya yang membundar). Gereja ini gereja Kristen tertua di Jawa Tengah yang dibangun masyarakat Belanda pada tahun 1753. Gereja ini sebenarnya bernama Gereja GPIB Imanuel yang lokasi tepatnya berada di Jl Letjend Suprapto 32. Kubahnya besar, dilapisi perunggu, dan di dalamnya terdapat sebuah orgel barok. Gereja ini dibuka hanya saat peribadatan rutin saja.

Foto di depan Gereja Blenduk, Kawasan Kota Lama, Semarang

Klenteng Sam Poo Kong

Klenteng Sam Poo Kong berlokasi di daerah Simongan, sebelah Barat Daya kota Semarang. Klenteng ini merupakan salah satu tempat bersejarah di Semarang karena klenteng ini merupakan bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama Laksamana Tiongkok beragama Islam yang bernama Laksamana Cheng Ho. Bagi Anda yang senang berfoto, di sini juga disediakan jasa foto menggunakan kostum China dan foto berlatarkan Sam Poo Kong. Anda cukup membayar Rp. 80.000 saja dan foto langsung jadi saat itu juga, dicetak ukuran 4R. Oh ia, kita pakai guide. 1 guide Rp. 50.000,-. Meskipun guide-nya sudah tua, tapi dia pintar moto lho… Nih contohnya….

Foto di dalam Sam Poo Kong. Photo by: Sang Guide

Foto di depan patung Laksamana Cheng Ho

Vihara Budhagaya Watugong

Sekitar 45 menit dari Sam Poo Kong, saya dan rombongan menuju Vihara Budagaya Watugong yang dinyatakan MURI sebagai pagoda tertinggi di Indonesia. Untuk memasuki Vihara ini tidak dikenakan biaya masuk (hanya biaya parkir sukarela). Ikon yang terkenal di vihara ini adalah Pagoda Avalokitesvara yang memiliki tinggi bangunan setinggi 45 meter dengan 7 tingkat, yang bermakna bahwa seorang pertapa akan mencapai kesucian dalam tingkat ketujuh. Di dalam pagoda ini terdapat patung Buddha Rupang yang besar. Cuaca di vihara ini adem dan nyaman karena lokasinya memang di Semarang Atas dan masih banyak pepohonan rindang.

Siap Menaiki Tangga

Patung bunga di Vihara Watugong

Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT)

Wah, sepertinya hari ini kami ‘wisata religi’ karena mengunjungi satu tempat beribadah ke tempat beribadah lainnya. Dari vihara kami langsung menuju Masjid Agung Jawa Tengah karena para pria akan melaksanakan salat jumat. Ternyata Masjid ini memiliki payung besar seperti di Arab sana. Payung ini akan dibuka ketika panas terik atau hujan melanda kota Semarang. Sambil menunggu yang salat Jumat, para wanita memutuskan untuk cuci mata karena di halaman masjid tersedia banyak toko cenderamata. Setelah capek berkeliling, kami pun nyemal-nyemil di halaman karena banyak penjaja makanan dan minuman. Wah, seperti one-stop-shopping sekaligus beribadah ya 🙂

Foto di depan Masjid Agung Jawa Tengah

Makan Siang di Soto Bangkong

Saatnya makan siang kami menuju ke Soto Bangkong yang lokasinya 15 menit dari Masjid Agung. Awalnya saya mengiri Soto Bangkong menggunakan daging bangkong (katak), ternyata nama Bangkong sendiri diambil dari nama daerahnya yang dulu disebut dengan “Bangkong”.

Jalan-jalan Sore ke Batik 16 Semarang

Selesai  ‘Wisata-Religi-yang-tidak-direncanakan’, kami mengarah ke Batik 16 Semarang yang berlokasi di tengah Kebun Jati di Desa Sumberrejo, Meteseh Tembalang.  Perjalanan dari kota Semarang ke Batik 16 Semarang membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Sesampainya di sana kami sudah disambut oleh Mbak Indah yang sedang bertugas di sana. Kami diajak melihat proses pembuatan batik dawi awal sampai akhir. Di sini kita dapat membeli batik (bahan ataupun yang sudah jadi) di tokonya. Harganya beragam, tergantung dari tingkat kesulitan membuat batik, dan apakah batik itu ditulis tangan atau dicap.

Pukul 16.00 perjalanan sore ini selesai dan kami kembali ke kota Semarang hingga ke Universitas Diponegoro. Mau tahu berapa argo dari start hingga finish? Hanya Rp. 280.000 saja! (Di luar biaya tol dan parkir). Tuh kannn ternyata harganya relatif murah, apalagi kalau patungan sama temen!

 

Foto di tengah batik yang sedang dijemur

Alat untuk cap batik. Motifnya rumit-rumit. Bagus!

Dibuatin sama mas-mas yang lagi bertugas di Batik 16 Semarang

 

Tambahan:

Foto di Universitas Diponegoro , sosialisasi Taxi Mobile Reservation (Kerja sambil liburan) :p

Lombok, Suatu Hari Saya Akan Mengunjungimu (Lagi): Day 3

Pantai Kuta Lombok di Siang Hari

Tidak terasa hari ini adalah hari terakhir kami di Lombok dalam perjalanan fotografi. Pagi hari kami menghabiskan waktu di Hotel Novotel Lombok yang mempunyai akses langsung ke Pantai Kuta Lombok. Pantai Kuta Lombok mempunyai tektstur pasir seperti Merica yang menyebabkan kaki kita kesulitan berjalan karena terjerambab ke dalam pasir pantai. Saya dan room-mate memutuskan untuk berjalan sampai ke ujung pantai yang masih wilayah Hotel Novotel dan menemukan Patung Putri Mandalika beserta pria-pria yang mengejarnya. Dikarenakan Sang Putri tidak dapat mengambil keputusan, ia berlari ke laut dan berjanji akan datang kembali setahun sekali. Masyarakat di sana mempercayai bahwa rambut sang putri berubah menjadi cacing atau yang disebut dengan ‘nyale’. Inilah yang mendasari adanya tradisi ‘Bau Nyale’ di Pantai Kuta Lombok, yaitu tradisi mencari cacing nyale (rambut sang putri).

Patung sang Putri dan Pemuda-Pemuda yang Mengejarnya

Setelah asyik bermain di pantai, saya berjemur di saung yang sudah disediakan Novotel dan diakhiri dengan berenang di kolam renang yang viewnya ke laut. Ternyata aktivitas di pagi hari yang baru saja saya lewati membuat perut saya lapar. Berbalut dengan handuk dan baju yang basah, saya langsung bergabung dengan yang lain untuk sarapan.

Meratakan pasir dengan menggunakan 2 kerbau (at Novotel Lombok)

Leyeh-leyeh di saung yahg telah disediakan Novotel. View langsung ke Pantai Kuta Lombok. Indahnya... :)

Swim..swimmm... 1 kolam untuk sendiri :p

 

Pukul 09.00 kami check-out dari hotel dan berangkat selama waktu 1 jam menuju Pantai Tanjung Aan. Pantai Tanjung Aan memiliki warna pantai yang biru (turqoise) dan masih terlihat jernih. Di sini ombaknya tergolong tenang sehingga asyik untuk berenang. Ada yang unik di sini, Anda jangan sekali-kali menawar barang jualan jika memang tidak berniat membeli karena sang penjual akan mengejar Anda sampai masuk ke dalam bus dan terkesan agak memaksa jika Anda meresponsnya.

Kalau setiap weekend bisa kesini, wah nikmatnyaa...

Warna airnya cantik banget kan

Jangan lupa membawa kacamata hitam+topi!

Mudah-mudahan pantainya akan sebagus ini ya, setidaknya untuk 20 tahun ke depan dan selamanyaaaa

 

Tiba di bandara pukul 14.00 dan ternyata oh ternyata ada beberapa masalah sehingga kami harus mengunakan pesawat pengganti (Citilink) pukul 18.00 WITA dan transit di Surabaya untuk berganti pesawat dengan Merpati. Dalam penerbangan pulang ini, saya mendapat pengalaman lain, yaitu ketika kami menggunakan Citilink, saya mendapat kursi di dekat emergency window, di mana di situ adalah clear area sehingga tidak bisa menyimpan apa-apa selain kaki. Selain itu tanggung jawab duduk di emergency window juga berbeda, karena kami diajarkan untuk bisa membuka jendela ketika dalam keadaan darurat dan mengarahkan penumpang lain.

Pulang menggunakan Citilink :D

3 cewek duduk di emergency window

Alhamdulillah sesampainya di bandara Djuanda tidak ada masalah apa-apa. Transit di bandara Djuanda hanya 40 menit sehingga kami hanya sempat salat dan membeli makanan kecil. Setelah check-in, saya keburu senang karena mendapatkan kursi di pinggir jendela. Ketika boarding dan mulai menduduki kursi, memang betul saya duduk di pinggir dekat jendela, namun sialnya di kursi saya (nomor 9) tidak ada jendela! Mana sebelah saya orangnya ga enak banget, mas-mas ga jelas. Jadi selama perjalanan pulang saya tidak bisa tidur dan menikmati penerbangan.

Cemberut selama perjalanan Surabaya-Jakarta karena ga ada jendela di dalam peswat Merpati nomor 9

Well, perjalanan ke Lombok ini meninggalkan kesan untuk saya karena dapat melihat kebudayaan masyarakat Lombok dan tentunya pemandangannya yang menawan. Suatu hari saya berjanji, akan ke Lombok lagi untuk mengeksplor lebih jauh.

Lombok, Suatu Hari Saya akan Mengunjungimu (Lagi) : Day 2

Betapa bahagia dan bersyukurnya saya ketika bangun di pagi hari dapat melihat matahari terbit di bagian Indonesia Wilayah Tengah sambil berjalan menyusuri pantai Kuta Lombok yang lokasinya tepat di belakang Hotel Novotel yang saya tinggali selama di Lombok. Pantai ini memiliki tekstur pasir seperti merica, sehingga ketika saya berjalan akan meninggalkan jejak yang lumayan dalam. Sebenarnya pantai ini tidak recommended untuk disusuri karena pasirnya yang akan membuat kaki kita ‘tenggelam’ sehingga akan terasa capai jika dibuat berjalan. Menurut saya pantai ini sangat cocok jika ingin berjemur dan bersantai sambil membaca buku atau menulis.

Asyik berjemur, tapi ga pakai bikini >_<

Desa Sade

Berfoto sebelum menjelajahi Desa Sade

Berpose di rumah adat Suku Sasak di Desa Sade

Tangga bebatuan di Desa Sade

Hari kedua di Lombok saya habiskan dengan mengunjungi Desa Sade, Rembitan, Lombok. Desa ini berlokasi di pinggir jalan raya, namun uniknya masyarakat di sana yang disebut dengan Suku Sasak masih mempertahankan keaslian desa dan sukunya. Mulai memasuki Desa Sade, kita akan ditawarkan untuk membeli kain khas Lombok beserta souvenir seperti aksesoris rambut, gelang, kalung, dan sebagainya. Kain dan asesoris ini adalah hasil buatan tangan dari masyarakat yang tinggal di desa ini.

Mengaplikasikan ilmu fotografi: Teknik Motion Blur (Nenek ini masih aktif bekerja)

Usul saya, tidak ada salahnya jika kita membeli sesuatu dari tempat ini karena itu berarti kita membantu perekonomian masyarakat di sini yang bergantung kepada penjualan hasil karya mereka.

Ada tradisi unik di desa ini, yaitu mengepel rumah dengan kotoran kerbau agar rumah terasa hangat dan bebas dari nyamuk. Benar saja lho, ketika saya memasuki salah satu rumah tersebut, hawanya terasa hangat dan bebas nyamuk, bahkan saya hampir lupa bahwa yang saya injak-injak adalah kotoran kerbau yang sudah bersatu dengan semen di bawahnya.

Rumah yang di-pel dengan kotoran kerbau

Menunggu Diselesaikan

Karena ga ada yang menyelesaikan, saya saja deh yang menyelesaikannya. Hehe :D

Desa Banyumelik

Salah satu pusat kerajinan gerabah di desa Banyumulek, Lombok

Puas berkeliling di Desa Sade, kami melanjutkan perjalanan ke Lombok Barat, yaitu Desa Banyumulek yang terkenal dengan sentra kerajinan gerabah khas Lombok, sekilas mirip dengan sentra kerajinan gerabah di Plered, Purwakarta. Di sini kita dapat melihat secara langsung proses pembuatan gerabah dari awal pencarian tanah liat hingga proses pembakaran gerabah.

Pembuat gerabah (gadungan) :p

Menurut penjelasan dari pemandu kami, kendi yang paling sering dicari adalah ‘Kendi Maling’. Apa itu Kendi Maling? Awalnya saya kira kendi ini sebagai mantra-anti-maling :p . Ternyata kendi ini sama seperti kendi biasa lainnya, namun uniknya cara menggunakan kendi ini yaitu harus dimasukkan melalui bagian bawah kendi. Unik kan? Hanya ada

di Lombok lho, ini..!

Ajaipp.. Airnya ga tumpah, lho..!

Mengaplikasikan ilmu fotografi: Teknik Zooming

Mengaplikasikan ilmu fotografi: Teknik Selective Focus

Mengaplikasikan ilmu fotografi: Teknik Hypervocal Focus

 

Gem Pearls

Lombok juga terkenal dengan komoditas mutiara-nya, maka dari itu kami menyempatkan diri untuk mengunjungi ‘Gem Pearls’ sebuah toko yang menjual perhiasan dari mutiara; darat dan laut. Harganya berkisar ratusan ribu, ada pula yang mencapai jutaan rupiah, tergantung dari material yang digunakan dan kualitas mutiara itu sendiri. Gem Pearls berlokasi di pinggir jalan raya, tepatnya di Jl Raya Meninting No 69, Senggigi. Jika ingin berkunjung ke Pantai Senggigi, pasti akan melewati toko ini.

Asyik berbelanja mutiara

Menyaksikan sunset di Pantai Malimbu

Ternyata kami masih mempunyai waktu yang cukup banyak sebelum kembali ke hotel, atas saran dari pemandu wisata, kami pun mengarah ke Pantai Malimbu untuk menyaksikan sunset, dan ternyata sebelum ke pantai ini, kami melewati Pantai Senggigi sehingga rombongan bisa berhenti sebentar untuk berfoto.

Pukul 17.00 WITA kami sudah siap dengan alat tempur kami (kamera, tripod, dll) dan siap untuk menangkap momen sunset di Lombok. Sementara kami asik memotret, beberapa peserta terlihat membeli cenderamata untuk oleh-oleh (yang ternyata harganya lebih murah dari tempat yang dikunjungi sebelumnya).

Pukul 19.00 WITA kami makan malam dengan menu sea food di sebuah restoran pinggir jalan, dekat dengan Pantai Senggigi dan kembali ke hotel pukul 21.00 WITA. Well, malam ini baru terasa capeknya tapi tidak mengurangi semangat ‘mengganggu’ room-mate saya :p (maapkeun ya mba desy)

Menyempatkan diri mampir dan berfoto di Senggigi

Malimbu Beach, Lombok :)

Mengaplikasi Teknik Fotografi: Teknik Shiloute

Sunset di Malimbu, Lombok

Lombok, Suatu Hari Saya Akan Mengunjungimu (Lagi) : Day 1

Betapa bersyukurlah bagi orang yang berkesempatan mengunjungi Lombok, Nusa Tenggara Barat, termasuk saya.

Pada tanggal 26 – 28 April 2013 saya berkesempatan mengunjungi wilayah yang masuk ke Waktu Indonesia Tengah (WITA), Lombok, Nusa Tenggara Barat. Trip saya kali ini bersama dengan Venture Magazine dan didukung oleh Merpati Airline.

Nyaris Ketinggalan Pesawat

Ya, saya nyaris ketinggalan pesawat. Kronologis mengenai peristiwa ini bisa kamu lihat di artikel ini. Pengalaman saya menggunakan pesawat ini juga sudah saya tuliskan lengkap di sini.

Desa Sukarara

Tiba di bandara International Lombok pukul 14.00 WITA, kami menyempatkan diri untuk mendokumentasikan pendaratan kami di bandara dan berfoto berlatarkan tulisan “Bandara International Lombok”.

Seakan tidak ingin membuang waktu, kami bergegas menuju Desa Sukarara, sentra penghasil songket terbesar di Lombok.Di desa ini saya dan yang lainnya berkesempatan untuk belajar menenun. Konon katanya setiap wanita asli Lombok, jika ingin menikah haruslah bisa menenun dan menyelesaikan satu tenunan.

Menenun itu kakinya harus lurus dan duduknya juga harus tegak

Entah kebetulan atau seperti apa, saya diajari menenun dengan motif yang menggambarkan kehidupan keluarga yang bahagia, sakinah, mawaddah dan warrahmah. Mba-mba yang mengajari saya pun bilang: “Mba sepertinya akan menikah dalam waktu dekat ya, karena biasanya yang duduk di sini adalah orang yang akan menikah dalam waktu dekat”. Wah betul sekali apa yang ia ‘baca’, karena sebentar lagi saya akan menikah. Hehe :p

Selesai diajari menenun, saya dibisiki oleh mba-mba tersebut untuk memberikan tip suka rela (sebelunya sang tour-guide juga sudah memberitahukan hal ini). Setelah proses bisik membisik ini selesai, si mba tadi memakaikan saya baju adat khas Lombok dan saya pun langsung meminta salah satu rekan fotografer untuk mengabadikannya.

Menggunakan baju suku asli Lombok beserta hantaran pernikahan

Kami sudah terlihat seperti suku Lombok belum ?

Setelah asik berfoto ria, saya menyempatkan belanja oleh-oleh dan ternyata harganya di sini mahal-mahal, bisa dua kali lipat lebih mahal dari sentra oleh-oleh.  Yaah, itung-itung membantu perekonomian setempat lha yaa. Darimana lagi penghasilan mereka jika tidak dari kunjungan seperti ini.

Selesai menenun dan menjadi suku Sukarara sehari, kami pun bergegas ke hotel tempat kami menginap untuk check-in, yaitu Hotel Novotel Lombok yang berlokasi di Kuta Lombok. Saya sekamar dengan dr. Desi yang baik hati, selama di kamar saya malah sering ngeberisikin dia dan curhat masalah medis. Haha, maap ya dok :p .

View Novotel Lombok

 

View standard room Novotel Lombok

Photography Workshop

Kunjungan saya ke Lombok juga dalam rangka pelatihan fotografi, jadi selama perjalanan kami juga hunting foto dan belajar langsung dari ahlinya. Selesai makan malam, kami memasuki ruangan serba guna dan mengikuti pelatihan fotografi selama 1,5 jam;  mulai dari teori dan praktik, salah satunya adalah memotret full-moon yang saat itu terlihat dari Lombok.

Belajar teknik "Bulp" di photography workshop