9 Summers 10 Autumns, dari Kota Apel ke Kota “Big Apple”

9 Summers 10 Autumns, saya pikir itu adalah sebuah novel dari negeri barat sana, ternyata itu adalah sebuah novel karya anak Indonesia, Iwan Setyawan. Novel dengan cover berwarna putih itu kini diangkat ke layar lebar dan kisah Iwan selama di Indonesia dan Eropa dapat kita saksikan bersama-sama dalam gambar yang bergerak.

Jujur saya belum membaca novelnya (padahal sudah beli 🙁  ) , saya malah langsung menontonnya di bioskop. Dulu saya anti menonton layar lebar jika novelnya belum selesai say abaca (jika film tersebut diangkat dari sebuah buku/novel). 9 Summers 10 Autumn menceritakan kisah Iwan yang anak seorang sopir angkot asal Batu, Malang. Ia berjuang keras untuk bersekolah hingga kuliah di jurusan Statistik Institut Pertanian Bogor.

Usai menuntaskan pendidikan, ia kemudian merantau ke Jakarta dan berhasil bekerja di Amerika Serikat sebagai Director, Internal Client Management di Nielsen Consumer Research, New York. Dari kota yang dikenal dengan apelnya, Iwan kini beranjak ke negeri ‘apel besar’.

Seketika teman saya bertanya, apakah filmnya menyedihkan seperti apa yang dibilang di timeline Twitter? Menurut saya bukan sedih, tapi lebih ke tersentuh oleh kisah Iwan dan keluarganya, terutama sang Ayah yang rela mengorbankan untuk menjual angkot kesayangannya demi mewujudkan impian Iwan.

Banyak hal yang dapat kita ambil dari kisah ini. Oh ia, film ini tidak full adegan yang mengharukan kok.. Tenang saja, karena di film ini juga dibumbui adegan komedi juga.. 🙂

Mari dukung film Indonesia !

 

AkberJKT Nobar di Blok M Square

 

Rectoverso

Poster Film Rectoverso

Di tengah-tengah kesibukan, saya menyempatkan diri untuk menonton film Indonesia di bioskop dan saya pun memilih Rectoverso, sebuah film Omnibus yang diangkat dari novel berjudul sama yang dikarang oleh Dewi Lestari. Omnibus adalah penggabungan beberapa cerita terpisah dengan sebuah benang merah, menjadi sebuah tontonan yang menarik dan menyegarkan.

Film ini hanya mengambil 5 kisah yang diambil dari novel Rectovers

1. Malaikat Juga Tahu – Angel Knows

Director : Marcella Zalianty

Writer : Ve Handojo

Sinopsis : Abang (Lukman Sardi) adalah penderita autism yang tinggal dengan ibunya yang memiliki kost-kostan. Salah satu anak kost adalah Leia (Prisia Nasution), satu-satunya yang bisa mengerti Abang. Abang jatuh cinta padanya sementara Bunda (ibu Abang) sangat cemas karena tahu hubungan yang diharapkan Abang tidak akan pernah terjadi. Kecemasan Bunda bertambah ketika Han, adik Abang, datang. Hubungan Leia dan Han pasti akan membuat Abang terluka.

Menurut mwulan : Aktingnya Lukman menjadi nilai plus di cerita ini, ia sangat menghayati perannya sebagai seorang autis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2. Firasat – Premonition

Director : Rachel Maryam

Writer : Indra Herlambang

Sinopsis: Senja (Asmirandah) bergabung dalam Klub Firasat, dimana setiap minggu para anggotanya berkumpul untuk berbagi cerita dan berbagai pertanda. Senja bergabung ke dalam klub itu karena ia selalu mendapat firasat setiap akan ditinggal oleh orang terdekatnya. Ini terjadi sebelum bapak dan adiknya meninggal dunia dalam kecelakaan.   Alasan lain yang lebih kuat adalah pemimpin Klub Firasat yang bernama Panca (Dwi Sasono). Seorang lelaki kharismatik yang ketajaman intuisi dan pengalamannya soal mendalami firasat begitu mengagumkan. Senja jatuh cinta pada Panca. Hingga suatu saat ia mendapat firasat buruk bahwa seseorang akan meninggal.

Menurut Wulan : Lagi-lagi ceritanya tertolong oleh kualitas acting pemerannya, yaitu dari Asmirandah. Selain acting, yang lumayan oke wardrobe pemain. Selain dari itu, biasa saja..

 

3. Cicak di Dinding — Lizard on the Wall

Director : Cathy Sharon
Di suatu malam, Taja (Yama Carlos), seorang pelukis muda yang masih lugu, bertemu dengan Saras (Sophia Latjuba), seorang perempuan free-spirit yang jauh lebih tahu dan lebih berpengalaman. Saras memberikan malam yang sangat berkesan saat itu. Tanpa direncanakan, mereka bertemu lagi. Kali ini mereka berusaha membangun pertemanan, meskipun akhirnya Taja tak kuasa untuk jatuh cinta pada Saras. Saras memutuskan untuk pergi, menghilang dari hidup Taja, dan meminta Taja untuk tidak mencarinya. Enam tahun kemudian, Taja yang sekarang telah menjadi pelukis terkenal bertemu Saras di pamerannya, namun Saras membawa kejutan yang menentukan hidup mereka berdua.

Menurut Wulan : Kisah yang orisinil, ada unsur cicak di dalamnya, di mana cicak menjadi benda bersejarah di antara mereka, tanpa mereka sadari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4. Curhat buat Sahabat — Stories for My Best Friend

Director : Olga Lidya

Writers : Ilya Sigma & Priesnanda Dwi Satria

Meskipun berbeda sifat, Amanda (Acha Septriasa) yang supel dan ceria mampu menjalin persahabatan dengan Reggie yang sabar, kalem, dan siap mendengarkan curhat Amanda kapanpun itu. Kapanpun Amanda butuhkan, Reggie selalu hadir. Suatu saat, Amanda jatuh sakit. Ia sadar bahwa tidak ada satu orangpun yang bisa ia mintai tolong bahkan pacarnya. Hanya Reggie yang bisa menolongnya. Pertolongan Reggie membuat Amanda menyadari bahwa yang ia butuhkan selama ini hanyalah orang yang menyayangi dia apa adanya dan orang tersebut adalah Reggie. Namun di lain pihak, diam-diam Reggie mulai menyadari bahwa cinta ini sudah terlalu tua untuk dirinya.

Menurut Wulan : Kisah ini kisah yang paling membosankan dan standard banget. Ketika menyaksikan cerita ini, rasanya seperti nonton FTV di siang hari!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5.  Hanya Isyarat — It’s Only a Sign

Director : Happy Salma

Writer : Key Mangunsong
Lima orang backpackers bertemu lewat forum milis. Meskipun baru beberapa hari bertemu, Tano, Dali, Bayu dan Raga tampak sudah akrab bagaikan sahabat lama, amat kontras dengan Al yang selalu menyendiri dan menjaga jarak.  Diam-diam, Al telah jatuh cinta pada Raga, sosok yang selama beberapa hari ini hanya mampu dikagumi dari kejauhan siluet punggungnya saja.
Di suatu malam, kelima orang ini mengadakan permainan kecil, yaitu berlomba menceritakan kisah paling sedih yang mereka punya. Saat Raga menceritakan kisahnya, Al semakin terpukul.
Meskipun Al keluar sebagai pemenang, namun Al semakin terseret pada daya tarik Raga, lelaki yang mungkin tak akan pernah ia miliki selamanya karena sebuah rahasia besar dalam diri Raga.

Menurut Wulan : Menonton kisah ini seperti nonton cerita yang sangat pendek yang biasanya ada di majalah remaja. Ga ada yang bikin greget!

Secara keseluruhan, menurut saya film ini membosankan, membuat saya ngantuk. Entah karena saya belum membaca novelnya atau karena memang begitu keadaannya. Yang jelas, baru kali ini saya mengantuk dan merasa bosan di bioskop. Ga ada yang bikin gregetan!

This entry was posted in Movies.

Nonton Film “5 CM”

Akhirnya, salah satu novel favoritku dibuatkan juga versi filmnya, yaitu “5 CM” dan alhamdulillah aku mendapatkan undangan dari majalah Go Girl! untuk menyaksikan pemutaran perdana film tersebut yang kemarin tgl 9 Desember 2012 diputar di Plaza Senayan XXI. Ditemani sang kekasih, pergila kami berdua menyaksikan film 5 cm dan kami mendapatkan cenderamata resmi dari film 5 cm, yaitu kaos berwarna hitam + gantungan kunci , dan kami juga mendapatkan cenderamata dari Go Girl! seperti buku agenda yg warnanya catchy banget, kacamata hitam yg frame-nya motif bunga-bunga, majalah Go Girl! dan pouch ukuran sedang.

Oke, langsung ke review filmnya.. Film yang diangkat dari novel karya Donny Dhirgantoro ini mengisahkan persahabatan 5 sekawan yang sudah teruji kekompakannya. Karena mereka bosan dengan rutinitas sehari-hari, maka mereka memutuskan untuk tidak bertemu dalam beberapa bulan hingga waktunya mereka bertemu, salah satu di antara mereka merencanakan untuk mendaki gunung Mahameru dan berangkat menggunakan kereta ekonomi.

Salah satu adegan favorit saya, di mana di adegan ini menunjukkan indahnya alam gunung Mahameru dan sepertinya asik sekali naik jeep bersama-sama

Selama mendaki gunung, mereka mendapatkan beberapa rintangan, namun saag sekali esensi naik gunung yang ditampilkan di novel, kurang di-explore lebih dalam oleh sang sutradara. Padahal harapan saya banyak di cerita pendakian gunung ini.. Kalau masalah akting para pemainnya bisa lah diacungin jempol dan banyak juga pemain lama seperti Herjunot Ali (Zafran), Fedi Nuril (Genta), Denny Sumargo (Arial),  Igor Saykoji (Ian), dan Pevita Pearce (Dinda) , sedangkan pendatang barunya adalah Raline Shah yang memerankan peran Riani. Kisah cinta antara Zafran- dan tidak terlalu diperhitingkan di film ini. Entah mengapa sepertinya film ini terlalu slow di awal sehingga porsi naik gunung-nya kurang. Padahal bisa lebih di-dramatisir-in lagi tuh..

Esensi novel yang kocak juga lumayan berhasil ditampilkan di film ini. Overall, filmnya ringan banget untuk ditonton.. 6,5/10 lah yaa…
Oh ia, katanya syuting film ini bener-bener dilakukan mendaki gunung Semeru, lho!!! Semua kru dan pemainnya juga ikut mendaki. Hmmmm ya udah deh, nilainya tambahin dikit jadi 7/10 karena totalitas seluruh kru dan pemain :p

*di-post-kan selama perjalanan pulang ke rumah menggunakan taksi Blue Bird DD 5175*

Foto sama pacar dulu sebelum filmnya dimulai (at Studio 8 Plaza Senayan XXI)

Cenderamata dari Film "5 Cm" dan majalah Go Girl!

The Twilight Saga : Breaking Dawn Part 2

Edward Cullen, Renesmee Cullen, Bella Cullen... Ah so sweet.. Aku juga mau punya keluarga kaya gini. Mana anaknya lucu banget, lagi :p

Film Breaking Dawn Part 2  melanjutkan kisah Bella Cullen setelah menjadi vampir dan menjalani kehidupannya bersama keluarga Edward dan anak mereka yang ‘ajaib’ yang baru saja lahir dan bernama Renesmee. Di film ini diperlihatkan kolaborasi antara vampir dan kumpulan werewolf, yang mana sebenarnya mereka adalah kubu yang berlawanan.

Di dalam film ini kita akan melihat pertarungan antara kubu keluarga Cullen dan rekan-rekannya melawan keluarga Volturi yang akan membuktikan bahwa Renesmee adalah anak yang berbahaya (immortal), dan dari pertemuan ini menghasilkan keputusan yang baik, yaitu Renesmee tidak terbukti sebagai anak abadi yang berbahaya dan Keluarga Volturi + pasukannya pun kembali ke tempat asalnya. Yaah, layaknya film-film drama romantis lainnya yang kebanyakan berakhir dengan happy ending.

Setiap vampir mempunyai kelebihan, dalam hal ini disebut sebagai ‘bakat’. Bella sempat desperate dia tidak akan mempunyai bakat, namun ternyata bakat ini muncul dan terlihat ketika Bella dan keluarganya diserang bahaya. Ternyata bakatnya adalah ‘perlindungan yang luar biasa’, sehingga ia bisa melindungi dirinya sendiri, bahkan orang lain dari tindakan jahat.

Di film kali ini adegan panasnya lebih sedikit dari part 1 (entah itu karena sensor atau bukan), yang jelas adegan panasnya memang sedikit. Namun yang saya rasakan adalah film ini seperti terlihat terburu-buru sehingga para pecinta Twilight tidak dapat tertarik ke dalam kehidupan si Bella ini.

Jacob berubah menjadi werewolf untuk ikut bertanding bersama Keluarga Edward melawan Keluarga Volturi

Terlepas dari konflik hubungan pemain aslinya, R-Patz dan K-Stew, saya rasa mereka berhasil membangun karakter Bella dan Edward dari novel ke dalam film. Semua artis pendukung juga sepertinya benar-benar menggambarkan tokoh di dalam novel, seperti Charly, Jacob, Carlisle, dll. Hal lain yang saya suka adalah music-scoring-nya. Very nice, simple, dan ear-catching.

Btw, ada beberapa adegan yang memperlihatkan Renesmee menggunakan tas punggung, dan terlihat merknya ‘Jansport’, hmm.. apa jangan-jangan Jansport salah satu sponsornya ya ? Wah bayar berapa tuh yaa?? *otak marcomm langsung mikir*. hehe :p

Well, secara keseluruhan, saya kasih nilainya 7/10 deh..

Good job R-Patz, K-Stew and team..

Semesta Mendukung

Cerita kembali oleh mwulan

Poster Film Semesta Mendukung

Film ini menceritakan kisah seorang anak sekolah menengah pertama di daerah Madura bernama Arif (Sayef Muhammad Billah) yang mempunyai ketertarikan yang lebih terhadap Fisika.  Tanpa jasa sang guru, ibu Tari Hayat (Revalina S Temat) dia tidak akan bisa meraih impiannya karena hanya ibu Tari yang dapat menemukan bakatnya.

Karena ibu Tari-lah yang meminta teman-temannya di Jakarta, Arif dapat mengikuti olimpiade di Singapura. Halan-rintang dialami oleh Arif selama dikarantina di Jakarta, bahkan ia terancam tidak lolos untuk mengikuti olimpiade di Singapura. Satu-satunya yang membuat ia bertahan adalah keinginannya yang kuat untuk bertemu ibunya yang katanya pindah ke Singapura.

Pada akhirnya ia dapat mengikuti olimpiade karena keajaiban, yaitu adanya penambahan kuota untuk Indonesia mewakili wakilnya. Sebelum olimpiade dimulai, ia ditemani teman seperjuangan selama di karantina untuk mencari ibunya. Sayangnya Arif tidak dapat menemui ibunya di sana.

Revalina sebagai Ibu Tari

Hari olimpiade pun dimulai. Awalnya ia terlihat bingung dan kesulitan untuk mengerjakan soal yang diberikan. Di detik-detik terakhir, ia teringat akan fisika praktis yang diterapkan dalam permainan karapan sapi, khas daerah asalnya, Madura. Ia pun langsung merobek sarung pemberian ayahnya untuk menguji coba teorinya. Pada akhirnya teorinya tersebut membawanya menjadi juara dalam olimpiade tersebut.

Kejutan pun menghampirinya saat pulang ke rumah. Ibu yang selama ini dicari olehnya, sudah menunggu di rumah.  Spoiler banget ya gw ngasihtauinnya.. Tapi ga apa-apa dong, secara filmnya sudah tidak beredar lagi di bioskop. Gw-nya aja yang telat banget post-nya.. (maklum ya ceman-ceman :D)

Semuanya versi mwulan

Percaya atau engga, gw menulis kisah ini sampai merinding lho, karena teringat akan setiap adegan yang ada di film ini. Pertamanya gw mengira film ini akan biasa aja sama seperti film anak-anak lainnya, namun pemikiran gw salah karena film ini keren banget, bahkan menurut gw film ini film terbaik tahun 2011.

Pemain anak-anak di sini masih baru kecuali Dinda yang pernah bermain di Surat Kecil untuk Tuhan. Wajah senior bertaburan di film ini seperti Revalina yang memerankan tokoh ibu Tari (guru Fisika), Ferry Salim (Pak Tio) Lukman Sardy (ayahnya Arif), Helmalia Putri (Ibunya Arif), Feby Febiola (Bu Desi), Sujiwo Tejo (Cak Alul)  bahkan Indro Warkop pun muncul sebagai tukang ketoprak yang suka mangkal di depan asrama tempat Arif menginap.

Sinematografinya oke, pemain-pemainnya,, lumayanlah, kecuali pemain-pemain lama yang memang aktingya tidak perlu dipertanyakan lagi. Nah, salah satu yang gw suka juga soundtracknya yang dinyanyikan oleh Goliath, bahkan setelah keluar dari bioskop, musiknya terngiang-ngiang sampai rumah… Mestakung.. Semesta Mendukung…

Ciamik banget!

Nilainya : 8,5/10

Orang-orang hebat di balik layar:

Eksekutif Produser: Haidar Bagir & HB Naveen

Produser : Putut Widjanarko

Co Producers : Gangsar Sukrisno & Avesina Soebli

Producer Assitance : Diana Caroline

Produser Pelaksanan : Heru Effendi

Sutradara : John De Rantau

Penulis Skenario : Hendrawan Wahyudianto & John De Rantau

Penata Kamera : German G Mintapradja

Penata Artistik : Frans Paat

Musik : Thoersi Argeswara

Penata Suara : Yarri B.S & Satriio Budiono

Make Up & Wardrobe : Zaenal Zein

Casting : Bowie Budianto

Penyunting Gambar : Andhy Pulung

This entry was posted in Movies.

Badai di Ujung Negeri

Sinopsis:

Salah satu adegan di laut

Badai di Ujung Negeri menceritakan kisah seorang marinir yang ditugaskan di perbatasan. Badai (Arifin Putra).bertugas di pos jaga perbatasan Indonesia di sebuah pulau di laut Cina Selatan. Karena banyaknya penemuan mayat misterius, desa itu terancam tidak aman dan orang-orang terdekat Badai pun ikut terancam, seperti Anisa (Astrid Tiar) dan Dika seorang anak nelayan yang sudah dianggap sebagai keluarga.

Di antara kerisuhan ini Anisa, seorang gadis setempat mempertanyakan kepastian hubungannya dengan Badai namun Badai belum bisa memberikan kepastian yang jelas karena statusnya sebagai marinir yang harus siap sedia ditugaskan kemanapun dan kapanpun. Suatu hari sesuatu terjadi dengan Anisa dan hal ini membawa pertarungan antara para penjahat yang selama ini dicurigai dengan marinir. Di akhir cerita akan terbukti siapa dalang dari kejahatan ini. Kisah cinta Badai dan Anisa pun perlahan mendapat kepastian.

 

Adegan di antara Anisa (Astrid Tiar) dan Badai (Arifin Putra)

Testimonial:

Menurut gw film ini punya tempo yang lamban. Terlalu banyak skenario di awal hingga pertengahan. Adegan perang di tengah laut juga kurang greget dan terkesan buru-buru. Kalau kelebihannya adalah totalitas pemain; Astrid Tiar yang berhasil dengan logat Melayunya dan keberanian Arifin Putra untuk beradegan ekstrim. Bye The Way, film ini punya gimmick yang oke lho, yaitu komiknya! Terus waktu nobar sama Aneka Yess dan majalah Cita Cinta, isi goodie bagnya notes dan pin.. Oke lah… 😀

 

Title:

Director: Agung Sentausa

Producer: Pingkan Warouw

Writer : Ari M Syarief

Casts : Arifin Putra, Astrid Tiar, Yama Carlos, Adrian Halim H., Dedy Murphy, Edo Borne, Ida Leman, Jojon, Priady Muzy, Kukuh Adi Rizky, M. Ilham Akbar

Music arranger : Thoersi Argeswara

Cinematography : Padri Nadeak

Editor : Aline Jusria

Studio : Quanta Pictures

 

 

Nilai :

3/5

Sherina Berpetualang di Petualangan Sherina Bersama Kineforum

Kala itu Kineforum melalui akun twitternya (kineforum) mengumumkan akan memutarkan film Petualangan Sherina. Kontan saja gw menjadwalkan hari Minggu untuk menonton film tersebut. FYI, Kineforum itu adalah teater kecil yang terletak di belakang Taman Ismail Marzuki, dekat dengan Institut Kesenian Jakarta. Biasanya Kineforum memutar film-film Indie atau film-film Indonesia lama. Untuk menonton di sini, kita tidak perlu dikenakan biaya alias GRATIS! Hari gini gitu ya gratisan, di mana lagi?! Dengan gratis seperti itu, kita dapat menikmati film yang oke, kursi empuk, sejuk, nyaman layaknya di bioskop-bioskop yang bisa kita datangin.

Salah satu sudut di Kineforum, gambar dicatut dari Urbanesia

Hal yang membedakan Kineforum dengan teater lainnya adalah, Kineforum hanya mempunyai 45 seats, which is itu lebih private dong dari bioskop-bioskop biasa. Wah serasa bioskop pribadi deh kalau di sana, apalagi yang bawa pacarnya. Eits, jangan berpikir bisa macam-macam ya…!

Langsung aja ke Petualangan Sherina-nya. To be honest, dulu gw waktu kecil engga merasakan nonton Petualangan Sherina di bioskop. Gw hanya dibelikan CD-nya sama nyokap gw, dan CD itu gw putar tiap waktu sampai Cdnya lecet dan endut-endutan kalau diputar. Gw juga sering mengundang teman-teman untuk nobar.

Berangkat dari hal itu, akhirnya gw memutuskan untuk menonton Petualangan Sherina di layar besar (bioskop) Kineforum. Wah ini toh rasanya menonton film idaman gw sejak kecil melalui layar besar.. Ternyata lebih seru ya! Haha… Film ini tuh ga pernah ada bosannya deh, Sherinanya masih lucu banget, chubby, giginya kaya kelinci (maaf ya Sher :p), tapi di usia segitu aktingnya udah cihuy, suaranya udah mantap! Derby Romero yang memerankan tokoh Sadam juga ga kalah menarik perhatian. Dia dari dulu emang cute ya sampai sekarang.

gambar dicatut dari rudytarigan.com

Kalau ditanya apa adegan favorit gw, favorit gw adalah ketika Sherina akan meninggalkan Sadam di Boscha untuk mencari bantuan. Kala itu Sherina mencium pipi Sadam. Romantis kan ya? Apalagi waktu gw kecil, adegan itu udah wah banget. Hahaha.. Intinya film Petualangan Sherina itu enggak akan pernah ada matinya! Memang benar film Petualangan Sherina adalah tanda kebangkitan film Indonesia.

Salah satu adegan ketika Sherina & Sadam Mulai Berpetualang

Gw pun ga tahu kalau film ini masih mau ditonton sama pemain-pemainnya atau engga.  Oh iya, di film ini ternyata ada Allysa Soebandono sebagai teman Sherina sebelum Sherina pindah ke Bandung! Wah dari kecil dia emang udah manis dan rambutnya panjang juga bagus.. Mau deh meet&greet sama pemain-pemainnya. Hehe

Ini nih adegan favorit gw, saat di Boscha :p (gambar dari asiapacificnews.com)

Di Bawah Lindungan Kabah

Poster Film "Di Bawah Lindungan Kabah"

Film yang diambil dari buku Hamka ini menceritakan cinta sejati di antara laki-laki muda bernama Hamid dan perempuan bernama Zainab. Film yang disutradarai oleh Hanny R Saputra ini mengambil Padang sebagai setting tempat dan suasana tahun 1920. Hamid dan Zainab mempunyai status sosial yang berbeda, Hamid yang orang miskin dan Zainab yang orang kaya. Hamid sendiri berhasil sekolah tinggi berkat ayah Zainab, ibunda Hamid pun  bekerja mencari nafkah di rumah orang tua Zainab.Salah satu adegan Laudya Cyhntia Bella & Herjunot Ali keliling kampung

Suatu hari Hamid dihukum dikeluarkan dari kampung oleh para tetua di kampungnya karena dia telah menyentuh Zainab dan dianggap telah melebihi batas ketika Hamid menolong Zainab yang tenggelam di sungai. Dengan kekuatan cinta mereka, mereka akhirnya dipertemukan melalui surat. Hamid menerima surat itu di bawah Kabah dan Zainab menerima surat tersebut di pantai dimana mereka pernah bermain bersama.

Salah Satu Scene Herjunot Ali ketika di "Mekah"

Menurut gw sih ceritanya biasa aja, yang bikin amazing adalah settingnya yang kerasa jaman dulu banget. Ada beberapa scene yang menurut gw itu menjatuhkan nilai film ini, yaitu adanya gambar close-up para sponsor seperti Gery Chocolatos, Baygon dan Kacang Garuda. Meski Di film tersebut kemasannya diganti dengan kemasan ala-alam jadul, tapi tetep aja mengurangi nilai.. Kita juga mengingat bahwa film itu berlatarkan tahun 1920 which is ga ada tuh yang namanya sistem bantuan pernapasan dari mulut ke mulut, produk-produk tersebut. Hal yang mengganjal lainnya adalah saat Hamid dan Zainab ketawa-tawa ga jelas, ketawa ini hanya sekedar ketawa. Ga ada isinya

Gw kasih nilai 5/10

 

Cast :

Herjunot Ali (Hamid)

Laudya Cynthia Bella (Zainab)

Niken Anjani

Tara Budiman

Hj. Jenny Rachman

Widyawati

Didi Petet

Leroy Osmani

Sutradara : Hanny R Saputra

Penulis : Titien Wattimena & Armantono