Pengalaman Seru Jadi Mombassador SGM Eksplor

Foto bareng Mombassador SGM Batch 4 di depan kolam renang The Westlake Resort

Foto bareng Mombassador SGM Batch 1-4 di depan kolam renang The Westlake Resort. Dok: SGM

SGM Eksplor dari Sari Husada menyelenggarakan Mombassador SGM Eksplor Batch 4 dan Temu Bunda di Yogyakarta, 13 – 15 Desember 2016. Senang sekali setelah mengetahui bahwa saya terpilih sebagai salah satu Mombassador SGM setelah melalui seleksi yang ketat. Di batch 4 ini ada 60-an Bunda yang terpilih dari provinsi-provinsi di Indonesia, termasuk saya :).

Pengalamam menjadi mombassdor SGM Eksplor ini tentunya menjadi pengalaman tak terlupakan bagi saya dan Bunda lainnya, pengalaman ini bisa diceritakan ke anak cucu kita nanti. “Nak, waktu kamu masih balita, mama pernah diundang SGM untuk menjadi mombassador dan bertemu Bunda-Bunda lain se-Indonesia di Yogyakarta. Jadi begini ceritanya…… ”

Bangga menjadi Mombassador SGM Eksplor

Bangga menjadi Mombassador SGM Eksplor

Mombassador SGM

Suatu hari, mama mendapat kabar kalau mama terpilih sebagai salah satu Mombassador SGM batch 4 dan diundang ke acara Temu Bunda di Yogyakarta selama 3 hari. Wah, mama senang bukan kepayang, membayangkan liburan ke Yogyakarta, bertemu Bunda-Bunda lain, menjalin networking, mendapatkan pengalaman seru, mendapatkan informasi-informasi penting dan masih banyak  hal lainnya yang bisa mama dapatkan di acara itu. Acara ini juga keren karena semua akomodasi, tiket PP, hotel, makan, pengantaran dan penjemputan ke dan dari bandara, sampai oleh-oleh pun disediakan oleh tim SGM. Cool!

Day 1

Hari pertama, mama sudah dijemput dari depan rumah jam ½ 6 pagi untuk berangkat ke bandara Halim. Saat itu kamu masih tidur nyenyak. Mama sudah terkesima dengan pelayanan tim Sari Husada beserta Event Organizer-nya yang mengatur keberangkatan mulai dari keluar rumah sampai pulang ke rumah lagi.

Sayangnya di Bandara Halim ada kejadian menyedihkan, ketika sedang mengisi baterai HP, HP mama mati total tiba-tiba, sebelum boarding mama mengabari papamu tentang hp mama yang mati. Lalu papamu  memberikan solusi, membelikan HP lewat Oom kamu, Oom Ocit yang kuliah di Yogyakarta. Selama menunggu HP baru, mama dipinjamkan tab sama Bunda Lingga yang berangkatnya bareng dari Depok.

Tiba di Bandara Adi Sucipto, Mama mulai berkenalan dengan Bunda-Bunda yang baru datang juga. Setelah itu kami langsung pergi ke The Westlake Resort, tempat kami akan menginap selama 3 hari. Sesampainya di sana, mama dan yang lain disambut oleh tim Sari Husada dan agency-nya, registrasi, makan siang, dan istirahat. Pokoknya sore dan siang itu para Bunda ‘disuruh’ istirahat dan leyeh-leyeh. Duh, tim SGM memang ngerti banget deh sama Bunda-Bunda yang kesehariannya sudah capek beraktivitas.

Perjalanan menuju Sekar Kedhaton dan Alun-Alun Kidul. Dok: SGM

Perjalanan menuju Sekar Kedhaton dan Alun-Alun Kidul. Dok: SGM

Malamnya, kami diajak makan malam di Sekar Kedhaton yang tempatnya mamah suka, makanan-nya juga enak. Di sana perkenalan dengan tim SGM Eksplor yang baik-baik dan sambutan dari Mba Naomi, Connection & Activation Manager Sari Husada. Setelah itu, mama dan yang lain main mobil-nyala-yang-digowes di Alun-Alun Kidul Yogya (Habis itu mamah janji mau ngajak kamu ke situ), setelahnya Mama ketemu Oom Ocit buat ngambil HP.

Sambutan dan perkenalan oleh Mba Naomi

Sambutan dan perkenalan oleh Mba Naomi , Connection & Activation Manager Sari Husada. Dok: SGM

Makan malam enak di Sekar Kedhaton

Makan malam enak di Sekar Kedhaton

Gowes-gowes di Alun-Alun Kidul Yogyakarta. Semuanya sudah disiapkan oleh tim SGM, kita mah tinggal naik dan turun aja.

Gowes-gowes di Alun-Alun Kidul Yogyakarta. Semuanya sudah disiapkan oleh tim SGM, kita mah tinggal naik dan turun aja.

Day 2

Di hari ini, mama dan yang lain ke restoran Rama Shinta yang punya pemandangan Candi Prambanan. Setelah dijelaskan mengenai produk-produk SGM, kami secara berkelompok diberikan tugas kelompok, yaitu membuat poster produk. Seru kan acaranya, tidak hanya senang-senang, tapi juga ada acara yang mengasah otak dan kreativitas.

Workshop berlatar belakang Candi Prambanan

Workshop berlatar belakang Candi Prambanan

Selesai makan dan workshop, kami semua mengunjungi pabrik Sari Husada di Kemudo, Klaten, Jawa Tengah. Pabriknya bersih, luas, banyak pepohonan dan rumput (sejuk dipandang mata), disambut dengan ramah oleh tim SGM, menonton dan mendengarkan tentang Sari Husada, cemal-cemil yang enak dan mengenyangkan, foto-foto dan berkeliling pabrik. Seru banget! Karena tidak semua orang punya pengalaman seperti ini 🙂

Penjelasan tentang Sari Husada beserta produk dan program CSR-nya oleh Internal Communication Sari Husada

Penjelasan tentang Sari Husada beserta produk dan program CSR-nya oleh Internal Communication Sari Husada. Dok:SGM

 

Selfie di dalam Pabrik Sari Husada

Selfie di dalam Pabrik Sari Husada

 

Di dalam box ini, kita bisa memberikan testimonial setelah melakukan factory visit.

Di dalam box ini, kita bisa memberikan testimonial setelah melakukan factory visit.

Gala Dinner

Di gala dinner ini, semua Mombassador dari Batch 1 – 4 berkumpul semua (100an lebih), kebayang dong WestLake bergoyang hari itu hehe… Dari semua event yang pernah mama datangi, sepertinya event malam itu spesial, ramai, tidak membosankan dan berkesan sekali. Salah satu yg membuat suasana seperti itu adalah adanya MC Tako dan Alit, keren lah nge-MCnya bikin capek gak kerasa, ketawa-tiwi sepanjang acara , kecuali pas ada sambutan :p .

Mr Joris Bernard, Brand Business Unit Director SGM (kanan) beserta Mba Naomi

Mr Joris Bernard, Brand Business Unit Director SGM (kanan) beserta Mba Naomi. Dok: SGM

Di gala dinner ini, para bunda bertemu dengan Mr Joris Bernard,  Brand Business Unit Director SGM. (Thanks to him & team yang membuat event keren ini), karaokean, pengumuman pemenang sampai Mannequin challenge. Setelah itu kembali ke kamar masing-masing.

Bunda Dyah Arini, salah satu koordinator Mombassador (Ternyata suka nyanyi juga lhoo, bagus pula suaranya).

Bunda Dyah Arini, salah satu koordinator Mombassador (Ternyata suka nyanyi juga lhoo, bagus pula suaranya). Dok: SGM

 

Horeee juara video-contest...!

Horeee juara video-contest…! Dok: SGM

 

Foto bareng Mombassador Batch 1 - 4 . Kami menjadi keluarga besar saat ini.

Foto bareng Mombassador Batch 1 – 4 . Kami menjadi keluarga besar saat ini.

Day 3

Setelah sarapan, mama dan yang lain mengikuti workshop berkelompok untuk membuat kampanye dengan topik Ibu & anak, setelah itu kami semua menonton pertama kali iklan SGM terbaru (what a privilege!) yang mengharukan. Sesudah itu sharing, makan siang dan bagi-bagi voucher belanja dari SGM. Bener-bener beruntung banget jadi Mombassador SGM.

Kelompok B berdiskusi mengenai kesehatan Ibu Hamil.

Kelompok B berdiskusi mengenai kesehatan Ibu Hamil.

Mombassador batch 4 foto bareng di The Westlake Resort

Mombassador batch 4 foto bareng di The Westlake Resort

Perjalanan pulang Yogya-Jakarta tetap wefie dong...

Perjalanan pulang Yogya-Jakarta tetap wefie dong…

Room-mate

Teman sekamar mama namanya Bunda Dani. Tadinya mama gak seruangan sama Bunda Dani, tapi ada yang minta tukeran kamar, jadinya Mama sekamar sama Bunda Dani. Mama dan Bunda Dani ini langsung akrab, seperti sudah kenal sebelumnya. Bunda Dani ini orangnya baik, ramah, asik diajak ngobrol, dan anaknya seumuran kamu, lho! Cowok juga.. Siapa tau nanti kalian bisa bertemu ya 🙂

Oh ia, mama dan Bunda Dani menang video competition di Temu Bunda 2016, lho….!

Bersama Bunda Dani, Room-mate selama acara Mombassador berlangsung di Yogyakarta

Bersama Bunda Dani, Room-mate selama acara Mombassador berlangsung di Yogyakarta

Pemotretan Pre-Wedding

Dari dulu saya ingin sekali pemotretan pre-wedding dengan konsep unik dan jadul, misalnya foto di Pasar Malam. Untungnya Mas Fikri (yang saat itu masih menjadi calon suami) setuju dengan konsep yang aku mau. Ini beberapa tahap yang dibutuhkan untuk pemotretan pre-wedding:

  1. Mencari konsep

Konsep yang kami tentukan adalah konsep pacaran jadul di pasar malam. Konsep ini tercetus karena saya suka dengan hal-hal yang jadul, dan salah satu yang identik adalah pasar malam.

Konsep pasar malam masih jarang digunakan untuk foto pre-wed

Konsep pasar malam masih jarang digunakan untuk foto pre-wed

  1. Menentukan lokasi

Ketika itu saya kesulitan mencari Pasar Malam. Sudah browsing di internet maupun media sosial, saya tidak menemukan jawabannya. Sampai saya hopeless mau mengganti konsep foto pre-wed. Ketika saya sudah menyerah, saya menemukan Pasar Malam di area yang dekat rumah saya, yaitu di samping Gedung Marinir Cilandak. Ketika kami pulang meninjau rumah kami, kami melihat ada pasar malam yang dilengkapi dengan area permainan ala pasar malam seperti kincir, kuda-kudaan, dan masih banyak lagi. Ternyata setiap bulan puasa, di Cilandak memang diadakan Pasar Malam. Haduh, kemana saja ya saya? :p .

Mengenai izin, Awalnya kami sempat bingung harus memohon izin kepada siapa untuk berfoto di sini, takutnya kami harus izin ke pengelola, panitia atau bahkan preman di sana. Kami sempat kesulitan menemui panitia/pengelola, akhirnya kami izin ke orang-orang yang berkumpul (mungkin panitia) dan mereka bilang silakan saja.

Budget yang dikeluarkan: Rp. 0,-

Foto di kora-kora dengan properti gulali yang sudah kempes karena dingin :D

Foto di kora-kora dengan properti gulali yang sudah kempes karena dingin :D

  1. Menyiapkan Kostum

Kami menggunakan kostum yang ada saja, saya menggunakan dress midi biru berbunga-bunga, sepatu datar (flat shoes), tas-tas jamannya Sarah dan Jaenab Si Doel, dan rambut lurus digerai menggunakan bando minimalis. Mas Fikri menggunakan kemeja putih polos, celana denim dan sepatu hitam.
Budget yang dikeluarkan: Rp. 0,-

imageedit_6_6854966796

  1. Mencari fotografer

Beruntungnya kami memiliki teman seorang fotografer, namanya Apyut. Dia sudah sering memotret saya, dari jaman saya single dan suka poto-poto sendiri atau poto sama teman.

Budget yang dikeluarkan: Rp. N/A (harga teman hehe). Btw thanks yaaa Apyut sudah menjadi bagian tim sukses pernikahan FikriWulan :).

imageedit_12_5012457899

  1. Menyiapkan make-up sendiri/stylist

Untuk make-up, saya menggunakan make-up sendiri dan natural saja. Sahabat saya Achi yang membantu mendandani saya plus menjadi pengarah gaya. Jadi ketika prewed, kami pergi ber-empat; Saya, Mas Fikri, Aput dan Achi.

Budget yang dikeluarkan: Rp. 0,- (Thanks Achi yang udah bantuin make-up-in gw dari jaman lamaran dan prewed).

imageedit_10_5528583239

Nah, cerita pre-wednya begini…

Ketika itu bulan Juli 2013 bertepatan dengan bulan puasa dan diadakannya Pasar Malam (selalu ada di bulan puasa). Setelah salat isya, kami bersama-sama pergi ke Cilandak Marinir. Unfortunately, sesampainya di sana sempat hujan deras sampai make-up saya luntur, tapi pemotretan harus jalan terus. Sekitar pukul 08.30 hujan berubah menjadi gerimis, kami melakukan poto di permainan kora-kora, kincir, kuda-kudaan dan tong setan.

Ada yang berkesan bagi saya saat melakukan pemotretan, yaitu keramahan dari orang-orang Pasar Malam. Mereka sangat welcome, ramah dan membantu pemotretan kami. Awalnya saya takut mereka terganggu dengan kegiatan kami. Ternyata mereka malah menawarkan diri untuk membantu, misalnya menyalakan listrik yang sempat dipadamkan karena hujan. Mereka menonton kami yang sedang berfoto dan mereka terlihat gembira sambil menggoda kami. Di akhir pemotretan, kami menanyakan apakah ada biaya yang harus dikeluarkan untuk itu semua? Mereka sepakat menjawab “Tidak ada…”. Kami terkejut, mereka membantu dengan ikhlas. Ini adalah momen pemotretan pre-wedding yang berkesan untuk kami.

Kami hanya bisa mendoakan kepada  tim Pasar Malam yang saat itu membantu kami, kepada Aput sang fotografer, Achi untuk make-up dan pengarah gaya. Semoga kebaikan kalian dibalas oleh Allah SWT. Amiin….

Foto-foto lebih lengkap bisa di lihat di album ini.

imageedit_4_9329226128

 

 

 

Menentukan Lokasi Pernikahan

Akhirnya janur kuning atas nama kami berdiri dengan anggung di pinggir jalan Manga Besar Jaksel :)

Akhirnya janur kuning atas nama kami berdiri dengan anggung di pinggir jalan Manga Besar Jaksel :)

Menurut saya, lokasi pernikahan ini lumayan urusan yang njelimet selain urusan catering. Karena biasanya gedung yang diincar oleh para calon pengantin sudah dipesan 1 bahkan 2 tahun sebelumnya. Maka dari itu ada calon pengantin yang tanggal resepsinya mengikuti lokasi, ada yang kekeuh di tanggal tersebut tapi lokasinya bebas. Nah kalau kami termasuk yang kekeuh tanggalnya segitu, lokasi mengikuti. Di bawah ini adalah kriteria pemilihan gedung menurut kami.

Kriteria pemilihan gedung untuk resepsi versi Fikri Wulan:

  1. Dapat menampung hingga 1.000 orang
  2. Harga terjangkau
  3. Memiliki akses transportasi umum yang mudah karena kami tidak ingin tamu kesulitan menjangkau lokasi pernikahan kami. Jika memungkinkan dekat dengan akses tol (untuk memudahkan keluarga dari luar Jakarta).
  4. Memiliki tempat parkir yang luas. Nah ini penting banget karena kami gak mau orang-orang yang lewat terganggu dengan acara kami sehingga acara pernikahan kami bisa berkah. Selain itu untuk memudahkan tamu memarkirkan kendaraan pribadinya
  5. Ada tempat salat yang memadai
  6. Dekat dengan penginapan.
  7. Petugas gedung yang cooperactive

Saat itu kami survey beberapa tempat di Jakarta Selatan yang dekat dengan Pasar Minggu dan Depok (karena dekat dengan rumah orang tua saya dan rumah kami); diantaranya gedung Kementerian Dalam Negeri Kalibata, Kementerian Pertanian Ragunan, Gedung Aldevco Pejaten, Gedung PLN Ragunan, Masjid Al Azhar dan beberapa tempat lainnya. Sebenarnya saya ingin banget di Kemendagri Kalibata karena aulanya bagus, luas, parkiran luas dan mudah transportasinya.

Tadinya jugaaa kami mau mengadakan acara resepsi dengan outdoor di Museum Transportasi TMII. Kebetulan saya kenal baik dengan kepala museum-nya. Tempatnya asik dan unik banget resepsi, tapi sayangnya jauh dan kami harus menyediakan tiket masuk TMII kepada tamu undangan (tambah budget lagi) karena undangan kami cukup banyak.

Graha 57 berada di kompleks SMK 57 Jakarta Selatan (Foto waktu kami survey)

Graha 57 berada di kompleks SMK 57 Jakarta Selatan (Foto waktu kami survey)

Tampak Depan

Tampak Depan

Akhirnya karena tempat-tempat tersebut sudah full booked, maka kami memutuskan untuk menyelenggarakan di Graha 57 yang berada di kompleks SMK 57 Ragunan. Kami memilih Graha 57 karena lokasinya di tengah antara Pejaten Barat dan Depok. Saat itu harga sewa-nya Rp. 5.000.000,- di malam hari (jika di siang hari Rp. 4.500.000) dengan kapasitas maksimum 1.000 orang dan sudah termasuk kebersihan + keamanan. Untuk akad-nya, agar lebih simple kami menggunakan Masjid Assalam yang berada di lingkungan SMK 57 juga. Graha 57 juga dekat dengan tol Simatupang, parkirnya luas, dekat halte Trans Jakarta, akses transportasi umum mudah, dan petugasnya juga baik. Oh ya, yang saya suka di sini adalah adanya penginapan di dalam kawasan SMK 57 (yang biasa digunakan untuk praktik para Siswa-Siswinya) jadi lumayan menghemat pengeluaran hotel. Harganya kalau tidak salah 200.000/malam. Tempat penginapan ini bisa digunakan para saudara yang ingin beristirahat. Kamarnya lumayan lega, bersih, meski tidak ber-AC (menggunakan kipas angin).

So, sudah siap hunting gedung/lokasi pernikahan?

 

Membuat Undangan Pernikahan

 

Undangan Pernikahan Ahmad Zainul Fikri & Wulan Muhariani

Undangan Pernikahan Ahmad Zainul Fikri & Wulan Muhariani

Salah satu persiapan dalam resepsi pernikahan adalah membuat undangan. Tentunya setiap calon pengantin ingin memiliki undangan fisik yang bagus, tak terkecuali saya dan si Mas. Bulan September 2013 (3 bulan sebelum hari H) kami memulai pencarian desain dan vendor undangan. Ada teman yang mereferensikan Pasar Tebet di Jakarta Selatan untuk mencari vendor undangan. Di sana ada banyaaaaak sekali pilihan vendor undangan, lokasinya ada di lantai basement Pasar Tebet. Undangan yang sederhana hingga yang paling wah pun ada.

Awalnya kami ingin membuat undangan dengan bentuk pop-up, jadi ketika undangan dibuka, akan muncul gambar yang akan ‘nimbul’. Pilihan lain adalah undangan yang menggunakan frame foto sehingga frame-nya dapat digunakan lagi oleh para tamu undangan. Setelah keliling, ternyata harga pop-up card minimal Rp. 15.000/pcs dan untuk frame minimal Rp. 18.000/pcs. Sempat give up dengan jenis undangan yang ada, akhirnya kami menemukan satu kios yang belum didatangin karena desain undangan yang dipajang lucu-lucu dan beda dengan yang lain (memang agak mojok dan ke dalam), namanya Moza Card’s Tebet

Akhirnya undangan pernikahan kami, kami percayakan di sana. Deal 13 September, ACC desain 1 Oktober 2013, undangan selesai cetak 3 November 2013. Harga per pcs-nya Rp. 9.500 untuk 350 undangan (sudah termasuk desain standar dan pita undangan) . Kami juga mendapatkan bonus thank you card.

1043869_10201686891877624_1370628483_n

Work in progress

Work in progress

 

Di sela istirahat kerja, menyempatkan mengurus undangan. Pokoknya segala sesuatu kami kerjakan berdua.

Di sela istirahat kerja, menyempatkan mengurus undangan. Pokoknya segala sesuatu kami kerjakan berdua.

Desain undangan kami mengambil warna dasar pink yang dikombinasikan dengan warna coklat seperti warna favorit saya. Isinya ada foto pop-up saya dan Mas Fikri ketika pre-wed di pasar malam, isi undangan (informasi dll) dan belakangnya adalah kalender 2014.

Pop-up ala-ala dengan foto ketika pre-wedding

Pop-up ala-ala dengan foto ketika pre-wedding

 

Bagian belakang jadi kalender 2014

Bagian belakang jadi kalender 2014

Setelah undangan jadi, kami langsung list undangan dan bahu-membahu menyebarkannya.

Oh ia, selain undangan fisik, kami juga membuat undangan melalui Facebook, SMS, Whatsap, dan web invitation di www.fikriwulan.com

Bagi yang terinspirasi dengan undangan kami, bisa langsung kontak Moza Card’s Tebet

No telp: 021 94448666

No HP: 085814448666

Email: idrisjayadiputra@yahoo.com

Pasar Tebet Barat Lantai Bassement Blok Cks No 8

 

IMG_7811

Denah acara, ini tidak termasuk ke dalam paket. Ini dibuat dan didesain oleh Mas Fikri

Eklampsia Pasca Melahirkan

Kurang lebih 75-80% penyebab kematian ibu melahirkan adalah preeklampsia-eklampsia, infeksi dan perdarahan dari seluruh kematian maternal (Rambulangi, 2003). Menurut data SKRT (1995) persentase penyebab kematian ibu melahirkan terbagi atas 45% perdarahan, 15% infeksi dan 13% preeklampsia-eklampsia.

Alhamdulillah, saya termasuk seorang Ibu hamil yang selamat dari penyakit eklampsia meski penyakit eklampsia-ku tidak berhenti setelah melahirkan. Jika kebanyakan penyakit akan berhenti setelah si bayi dilahirkan, eklampsia akan terus menghantui si ibu. Untuk itu setelah melahirkan harus tetap dikontrol kesehatannya, terlebih tekanan darah. Bagi ibu yang kehamilannya menderita eklampsia, agar tidak mengonsumsi garam atau makanan yang asin berlebih, dan banyak-banyak istirahat.

Ada  yang saya sesalkan ketika melahirkan di RS. Tenaga medis  tidak menginformasikan kepada saya mengenai apa yang saya alami serta do’s & dont’s-nya. Misalnya saja, saya tidak tahu kalau saya tidak boleh makan garam berlebih. Saya baru tahu ketika suster melihat saya ngemil biskuit dan keripik yang asin, dia hanya bilang “Ibu tidak boleh banyak makan yang asin-asin ya.” Tapi dia tidak menjelaskan alasannya. Selain itu ketika saya banyak berbicara (karena banyak tamu), suster datang ke tempat saya “Kata dokter ibu harus banyak istirahat ya…” dan tidak mengemukakan alasannya. Padalah setahu saya, penderita eklampsia harus ketat dalam menjaga makanan dan waktu istirahat. Intinya: Saya dan keluarga kurang terinformasikan dengan baik. (Inilah gunanya menggali informasi dari seminar, majalah, internet).

Perlu Istirahat Banyak

Mitos: Ibu melahirkan dilarang tidur di pagi hari agar darah putih tidak naik ke atas

Fakta: Ibu melahirkan sangat dianjurkan untuk banyak beristirahat, terlebih bagi ibu yang menderita eklampsia. Ibu harus cukup istirahat demi pemulihan stamina setelah melahirkan (yang membutuhkan energi sangat banyak) dan menunjang kesehatan diri sendiri dan bayi.

Saran saya bagi para keluarga & rekan yang akan mengunjungi bayi dan si ibu, lebih baik menjenguknya ketika sudah di rumah saja, atau jika ingin menengok di RS, diperhatikan waktu kunjungannya disesuaikan dengan jam yang berlaku di RS.

Dua minggu pasca melahirkan wajah saya masih pucat, kulit berwarna kuning hingga obgyn di klinik kantor pun khawatir akan kondisi saya dan merujuk untuk cek darah. (Lagi-lagi saya bandel dan ignore rujukannya).

 

Apakah ada dampak jangka panjang bagi ibu penderia eklampsia?

Dari informasi yang dihimpun, Ibu penderita eklampsia yang telah melahirkan harus tetap rutin check-up kesehatannya. Eklampsia telah membuat organ-organ dalam si ibu terganggu, ada juga yang tekanan darah tingginya berlanjut.

Apakah eklampsia akan memengaruhi kehamilan berikutnya?

Jawabannya, iya akan mempengaruhi. Untuk itu Ibu yang menderita eklampsia di kehamilan pertama wajib memperketat kondisi ibu dan janin di kehamilan kedua. Kehamilan selanjutnya juga harus di bawah pengawasan dokter serta konsumsi makanan sehat, hindari stress, olahraga dan menikmati kehamilan dengan penuh rasa syukur dan berdoa. Di kehamilan kedua ini, penentuan sesar atau normal, dilihat dari kondisi Ibu dan janin. Jika di kehamilan kedua Ibu mengalami eklampsia, maka Ibu akan sesar kembali. Namun jika Ibu bebas dari eklampsia, kemungkinan normal masih ada dengan melihat pertimbangan dokter.

Well, semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi para ibu hamil dan keluarganya. Tulisan ini berdasarkan pengalaman saya disertai pengetahuan yang saya dapat dari berbagai referensi. Mari bersama-sama menyelamatkan Ibu hamil dan menekan angka kematian Ibu hamil di Indonesia!

 

Hasil penelitian (dalam bentuk skripsi) yang bagus mengenai eklampsia :

http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20320037-S-Nanien%20Indriani.pdf

 

 

 

Baik Diperuntukkan Semua Orang

Saya hanya ingin berbagi pengalaman saja yang ‘ngena’ banget di saya, mudah-mudahan pembaca juga ‘ngena’ ya setelah baca pengalaman saya ini. Jadi gini….

Saya ada tugas makalah dari kampus yang mengharuskan wawancara dengan beberapa narasumber yang kompeten dan memiliki kredibilitas, kemudian saya pun menulis siapa-siapa yang akan saya wawancarai. Ketika itu saya menargetkan mewawancarai eks petinggi salah satu stasiun televisi yang sekarang juga menjadi ‘seseorang’ (yang penting) di media yang baru. Saya senang sekali karena ia merespon dan akan menjawab pertanyaan terkait makalah saya, namun saya tunggu-tunggu beberapa hari dan sudah mengingatkan juga, nampaknya ia tidak bisa membantu saya. Oh ia, saat perkenalan di email, saya hanya menyebutkan saya dari universitas mana (tidak menyebutkan saya bekerja di mana. Mungkin kalau dia tahu, dia akan langsung membantu saya).

Deadline semakin dekat, saya tidak kunjung mendapat jawaban dari Ibu itu, alias saya di-‘gantung’. Saya pun mencari narasumber lain dan ketemulah nama Ibu Billy Sarwono atau yang dikenal dengan sebutan Ibu Oni Sarwono. Hari itu juga dia merespon email saya dan menyatakan tidak bisa menjadi informan saya, di situ saya merasa sedih dan sudah lemas, tapi di akhir paragraf ia merekomendasikan 2 orang beserta kontaknya! Bayangkan, tanpa ditanya, Ibu Oni mau merekomendasikan saya kepada rekannya dan langsung memberikan kontaknya. Jarang sekali saya bertemu orang seperti beliau. Lalu saya mulai mengontak Ibu Nina Mutmainah Armando dan Alhamdulillah Ibu Nina juga orangnya sangat responsif dan baik. Akhirnya Ibu Nina menjadi narasumber saya dan kami bertemu di UI, sehubungan dengan profesinya sebagai dosen di sana. Ternyata eh ternyata, Ibu Nina ini teman dari dosen yang menugaskan pembuatan makalah itu. What a journey.. Alhamdulillah saya mendapatkan narasumber sesuai topik makalah tanpa bantuan dari jejaring si bapak dosen (saya cari sendiri dan berdoa kepada Allah).

Oh ia, ibu-yang-menggantungkan-saya itu sebenarnya kenal dengan big boss saya, namun saya tidak mau bawa-bawa nama bos dan corporate saya.

Apa yang dapat dipelajari?

  1. Berbuat baiklah kepada siapapun yang meminta pertolonganmu. Siapa tahu orang itu yang akan menolongmu nanti (si ibu itu sempat laporan barang ketinggalan dan saya mengetahui hal itu, lalu saya bantu sedikit tapi si ibu itu tidak tahu.)
  2. Orang baik itu masih ada, percaya kepada Allah. Contohnya Ibu Oni dan Ibu Nina.
  3. Berdoa terus agar diberikan kemudahan
  4. Komitmen mengerjakan tugas

Terima kasih banyak untuk Ibu Oni yang akhirnya mempertemukan saya dengan Ibu Nina. Terima kasih untuk Ibu Nina yang bersedia menjadi narasumber saya dan meluangkan waktu untuk bertemu langsung dengan saya.

Terima kasih juga untuk ibu yang menggantungkan saya. Jika Ibu tidak menggantungkan saya, maka saya tidak mendapatkan pengalaman seperti ini, mendapatkan keajaiban dan bertemu orang baik seperti Ibu Oni dan Ibu Nina.

Well, semoga kita termasuk orang yang peka, saling membantu dan rendah hati.

Foto dengan Ibu Nina Armando seusai wawancara. Ibu Nina sangat responsif dan baik. Terima kasih bu..

Foto dengan Ibu Nina Armando seusai wawancara. Ibu Nina sangat responsif dan baik. Terima kasih bu..

 

 

Belajar Membuat Pancake

Hari ini entah mengapa ada yang menggerakkan hati, otak, otot, jiwa, dan raga saya untuk belajar memasak (halah lebay :p). Target saya adalah memasak menu sarapan karena biasanya pagi hari seringkali bingung apa yang ingin disantap untuk sarapan, sementara kebanyakan penjual makanan baru menjajakan makanannya di siang hari.

10 April 2013 sepulang dari kantor saya memutuskan untuk pergi ke sebuah pusat perbelanjaan dan entah mengapa saya mengarah ke tempat bumbu dan bahan makanan mentah. Di sela bumbu-bumbu itu saya merasa asing karena tidak pernah ke sana (paling banter cuma buat beli bumbu penyedap). Pada akhirnya saya memutuskan untuk membeli bahan pancake, bahan membuat mashed-potato, dan bahan untuk membuat sup makaroni ayam. Sesudah membeli bahan-bahan itu saya baru sadar, terus peralatan yang digunakan untuk memasak ini semua pakai apa ya? Pergilah saya ke tempat display teflon, penggorengan dsb karena peralatan ibu di rumah belum lengkap.

Masih dalam perjalanan ke kasir, saya masih merasa heran mengapa saya membeli barang-barang ini. Ah entahlah, mungkin ini sebuah ‘hidayah’ untuk memulai masak. Sesampainya di rumah, saya langsung memncuci peralatan yang ada, lalu membuat adonan pancake. Saya mengikuti instruksi yang ada pada dus, namun untuk takarannya menggunakan feeling saja karena saya sudah terbiasa melihat kakak sepupu membuat kue.

Mulailah saya menggoreng  adonan, hasilnya….. hangus, pemirsa! Tapi setelah dicoba rasanya enak. Lalu saya coba batch 2, ternyata hasilnya lebih bagus dari yang pertama. Setelah diselidiki, percobaan pertama gagal karena apinya terlalu besar. Ternyata saya tidak bisa langsung berhasil membuat pancake. Perlu latihan beberapa kali.. Phew…

*Mau posting fotonya, tapi keburu kehapus di kamera gara-gara virus 🙁 *

Doakan saya untuk sesi berikutnya yaa pemirsa….

 

Oh, Gini Tho Namanya “Nembung”

“Hanya Wulan Seorang” itulah yang diucapkan oleh pasanganku saat ditanya oleh ayah di acara yang orang Jawa bilang “nembung”. Sebelumnya ayah bertanya kepadaku terlebih dahulu apakah ada orang lain di hatiku/adakah orang yang melamarku selain mas Fikri?, sebelumnya aku tidak mengerti apa arti dari pertanyaan ayah, maka aku pun hanya senyum-senyum saja dan Salah satu om-nya Mas mengatakan jika senyum-senyum berarti tandanya “iya”. Aku pun mengiyakan dengan tersipu….

Jadi, pada tanggal 10 Maret 2013 diadakan pertemuan keluarga antara aku dan pasanganku. Sebelumnya, agenda acara hanyalah pertemuan keluarga saja, namun acara sedikit berubah menjadi acara nembung. Acara ini dihadiri oleh keluarga inti aku, dan bibi dari Garut beserta anak-anaknya yang masih kecil, sedangkan dari pihak Mas Fikri hadir orang tuanya dari Wonogiri beserta om-om dan tante-tantenya.

Sebelum acara berlangsung memang ada ‘tragedi’ yang cukup menguji kesabaran di antara kita, dan Alhamdulillah kami bisa menjalaninya sehingga acara saat itu tetap berjalan dengan lancar. Setelah Mas Fikri dengan lantang menjawab pertanyaan ayah, Bu dhe-nya yang tinggal di Cikupa mewakili keluarga untuk menyematkan cincin di jari manis sebelah kiri. Hari itu saya pun resmi ‘diikat’..

Beberapa hari kemudian, saya baru menyadari bahwa cincin yang sudah tersemat di jari ada inisial huruf A-nya yang letaknya di bagian dalam cincin… is it a sign? 😀  A for Ahmad Zainul Fikri..

 

 

Lucky, tidak sekedar lucky..

“Keberuntungan termasuk buah yang kita tanam..”

 

 

 

 

 

 

 

 

Siapa di sini yang percaya dengan keberuntungan? Saya pribadi percaya dengan adanya keberuntungan, tapi… (ada tapinya, nih..) Tapi setelah kita berusaha, berdoa, dan bekerja keras. Karena sesungguhnya keberuntungan itu adalah ‘buah yang kita tanam’. Menurut saya, di dunia ini tidak ada yang ‘sekonyong-konyong’ beruntung. Di balik ‘lucky’ tersimpan lika-liku cerita yang menarik untuk disimak dan diambil sisi positifnya.

Ada orang yang ‘tajir’, pasti kita menyebutkan she/he is very lucky. Tapi kita perlu melihat, mengapa dia bisa ‘tajir’. Kalau memang dia ‘tajir’ karena orang tuanya, ya betul dia ‘lucky’ karena dilahirkan di tengah keluarga yang berlebihan, tapi kita perlu melihat sisi lainnya. Mungkin saja keluarganya selama ini telah bekerja keras banting tulang sehingga akhirnya si anak ikut merasakan kesuksesan keluarganya. Si anak pula lah yang nantinya akan menentukan, dia tetap ‘tajir’ atau sebaliknya. Kita tidak bisa memilih dilahirkan di keluarga yang mana. Lucky itu sebenarnya pilihan kita!

Ada orang yang pintar dan sukses, kita juga pasti menyebutnya she/he is lucky person. Tapi di mana-mana tidak ada kesuksesan yang instan. Di baliknya ada usaha yang terekam di dalamnya.

Saya ingin berbagi pengalaman pribadi, keberuntungan yang saya alami. Mulai dari urusan karir, kehidupan sehari-hari, hingga percintaan. Di umur saya yang masih muda (22) , saya sudah menjabat posisi penting di sebuah perusahaan ternama di Indonesia tanpa perlu proses melamar karena saya diajak oleh manajemen perusahaan tersebut. Tidak saya pungkiri semua karena ada factor ‘lucky’ di samping usaha-usaha saya selama ini. Ketika itu perusahaan tersebut adalah klien tempat saya bekerja, dan entah mengapa marketing communication-nya memutuskan untuk resign sehingga saya ditawarkan untuk menggantikan posisinya hingga sekarang.

Ternyata, ‘lucky’ saya tidak hanya di situ. Saya menemukan seseorang yang sangat berarti bagi saya (baca:pacar) di kantor tersebut sehingga kami berencana untuk menjalin hubungan yang serius.. Sebenarnya masih banyak ‘lucky’ lainnya yang saya alami, mulai dari hal kecil, hingga hal-hal yang besar seperti tadi. Tak lupa saya ucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala buah yang telah ditanam.. Alhamdulillah..

Semoga yang membaca tulisan saya mengenai ‘lucky’ ini mendapatkan keberuntungan yang luar biasa pula.

Pesan Moral Makan di Hanamasa atau restoran sejenis

Tahukah kalian dengan restoran Jepang-All-You-Can-Eat “Hanamasa”? Atau malahan pernah mencicipinya ?

Menurut kalian, apa yg bisa dipelajari dari makan di Hanamasa ?

Kalau menurut saya, inti yg dipelajari adalah sebagai berikut:

1. Jangan serakah. Jika kita melihat bar dan bahan-bahan makanan siap saji yang berjejer rapi, rasanya ingin mengambil sebanyak mungkin dan menggoreng/merebusnya di meja kita. Jadi, ambil secukupnya saja. Kalau kita sudah mendapatkan nikmat yang berlimpah, jangan serakah. Kalau kita sudah punya 1 pasangan, ya jangan nambah lagi.

2. Bertanggung jawab atas keputusan yang telah kita ambil. Ya, kita harus menghabiskan makanan yang telah kita pilih. Bertanggung jawab tidak hanya dengan pasangan ataupun pekerjaan. Pada makanan pun kita harus bertanggung jawab.

 3. Bersyukur dengan nikmat Tuhan. Kita diberikan nikmat untuk makan sepuasnya, kita juga harus bersyukur kepada Tuhan dan salah satunya adalah dengan menghabiskan makanan.

4.Menahan hawa nafsu. Bagaimana iman tidak tergoda melihat daging, seafood, salad, dan lain sebagainya yg dapat kita nikmati sepuasnya, tapi kita juga harus ingat dengan keterbatasan lambung dan alat pencernaan yang kita miliki.

5. Bersabar dan berusaha. Sabar karena ketika lapar, kita  harus berusaha untuk mengambil bahan makanan yang masih mentah untuk kita goreng/rebus terlebih dahulu, kita juga harus bersabar menunggu makanan matang. Setelah kita bersabar dan berusaha, maka kita dapat menikmati makanan tersebut. Sama seperti hidup, jika kita terus berusaha dan bersabar, maka Insya Allah hasil yang indah akan kita dapatkan. Amiinn

 

Jadi, let’s eat at Hanamasa dan makan-makanlah dengan bijak :p

Makan-makan di Hanamasa Pondok Indah Mall I bersama pacar :)