Warning: curl_init() has been disabled for security reasons in /home/mwulncom/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 95

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/mwulncom/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 97

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/mwulncom/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 98

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/mwulncom/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 100

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/mwulncom/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 103

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/mwulncom/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 106

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/mwulncom/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 333

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/mwulncom/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 334

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/mwulncom/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 363

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/mwulncom/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 370

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/mwulncom/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 375

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/mwulncom/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 376

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/mwulncom/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 377

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/mwulncom/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 379

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/mwulncom/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 382

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/mwulncom/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 150

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/mwulncom/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 151

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/mwulncom/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 159

Warning: curl_exec() has been disabled for security reasons in /home/mwulncom/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 162

Warning: curl_errno() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/mwulncom/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 167

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/mwulncom/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 181

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/mwulncom/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 182
My Roller-Coaster Life | Wulan Muhariani | Page 2

Lucky, tidak sekedar lucky..

“Keberuntungan termasuk buah yang kita tanam..”

 

 

 

 

 

 

 

 

Siapa di sini yang percaya dengan keberuntungan? Saya pribadi percaya dengan adanya keberuntungan, tapi… (ada tapinya, nih..) Tapi setelah kita berusaha, berdoa, dan bekerja keras. Karena sesungguhnya keberuntungan itu adalah ‘buah yang kita tanam’. Menurut saya, di dunia ini tidak ada yang ‘sekonyong-konyong’ beruntung. Di balik ‘lucky’ tersimpan lika-liku cerita yang menarik untuk disimak dan diambil sisi positifnya.

Ada orang yang ‘tajir’, pasti kita menyebutkan she/he is very lucky. Tapi kita perlu melihat, mengapa dia bisa ‘tajir’. Kalau memang dia ‘tajir’ karena orang tuanya, ya betul dia ‘lucky’ karena dilahirkan di tengah keluarga yang berlebihan, tapi kita perlu melihat sisi lainnya. Mungkin saja keluarganya selama ini telah bekerja keras banting tulang sehingga akhirnya si anak ikut merasakan kesuksesan keluarganya. Si anak pula lah yang nantinya akan menentukan, dia tetap ‘tajir’ atau sebaliknya. Kita tidak bisa memilih dilahirkan di keluarga yang mana. Lucky itu sebenarnya pilihan kita!

Ada orang yang pintar dan sukses, kita juga pasti menyebutnya she/he is lucky person. Tapi di mana-mana tidak ada kesuksesan yang instan. Di baliknya ada usaha yang terekam di dalamnya.

Saya ingin berbagi pengalaman pribadi, keberuntungan yang saya alami. Mulai dari urusan karir, kehidupan sehari-hari, hingga percintaan. Di umur saya yang masih muda (22) , saya sudah menjabat posisi penting di sebuah perusahaan ternama di Indonesia tanpa perlu proses melamar karena saya diajak oleh manajemen perusahaan tersebut. Tidak saya pungkiri semua karena ada factor ‘lucky’ di samping usaha-usaha saya selama ini. Ketika itu perusahaan tersebut adalah klien tempat saya bekerja, dan entah mengapa marketing communication-nya memutuskan untuk resign sehingga saya ditawarkan untuk menggantikan posisinya hingga sekarang.

Ternyata, ‘lucky’ saya tidak hanya di situ. Saya menemukan seseorang yang sangat berarti bagi saya (baca:pacar) di kantor tersebut sehingga kami berencana untuk menjalin hubungan yang serius.. Sebenarnya masih banyak ‘lucky’ lainnya yang saya alami, mulai dari hal kecil, hingga hal-hal yang besar seperti tadi. Tak lupa saya ucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala buah yang telah ditanam.. Alhamdulillah..

Semoga yang membaca tulisan saya mengenai ‘lucky’ ini mendapatkan keberuntungan yang luar biasa pula.

Pesan Moral Makan di Hanamasa atau restoran sejenis

Tahukah kalian dengan restoran Jepang-All-You-Can-Eat “Hanamasa”? Atau malahan pernah mencicipinya ?

Menurut kalian, apa yg bisa dipelajari dari makan di Hanamasa ?

Kalau menurut saya, inti yg dipelajari adalah sebagai berikut:

1. Jangan serakah. Jika kita melihat bar dan bahan-bahan makanan siap saji yang berjejer rapi, rasanya ingin mengambil sebanyak mungkin dan menggoreng/merebusnya di meja kita. Jadi, ambil secukupnya saja. Kalau kita sudah mendapatkan nikmat yang berlimpah, jangan serakah. Kalau kita sudah punya 1 pasangan, ya jangan nambah lagi.

2. Bertanggung jawab atas keputusan yang telah kita ambil. Ya, kita harus menghabiskan makanan yang telah kita pilih. Bertanggung jawab tidak hanya dengan pasangan ataupun pekerjaan. Pada makanan pun kita harus bertanggung jawab.

 3. Bersyukur dengan nikmat Tuhan. Kita diberikan nikmat untuk makan sepuasnya, kita juga harus bersyukur kepada Tuhan dan salah satunya adalah dengan menghabiskan makanan.

4.Menahan hawa nafsu. Bagaimana iman tidak tergoda melihat daging, seafood, salad, dan lain sebagainya yg dapat kita nikmati sepuasnya, tapi kita juga harus ingat dengan keterbatasan lambung dan alat pencernaan yang kita miliki.

5. Bersabar dan berusaha. Sabar karena ketika lapar, kita  harus berusaha untuk mengambil bahan makanan yang masih mentah untuk kita goreng/rebus terlebih dahulu, kita juga harus bersabar menunggu makanan matang. Setelah kita bersabar dan berusaha, maka kita dapat menikmati makanan tersebut. Sama seperti hidup, jika kita terus berusaha dan bersabar, maka Insya Allah hasil yang indah akan kita dapatkan. Amiinn

 

Jadi, let’s eat at Hanamasa dan makan-makanlah dengan bijak :p

Makan-makan di Hanamasa Pondok Indah Mall I bersama pacar 🙂

Hari-Hari Sebagai Pasien di Rumah Sakit (Part 2)

Hari kedua masih terlihat pucat, kurus, dan menyedihkan :'(

Waduh, jarang-jarah nih saya menulis di blog sampai 2 bagian begini. Habisnya mau gimana lagi, pengalaman saya selama di rumah sakit banyak yang ingin saya tulis karena merupakan suatu kenangan yang menyakitkan sekaligus indah.Mengapa indah? Karena selama saya sakit, saya merasa bahwa orang-orang terdekat saya perhatian dan sayang kepada saya.

Bersama ayah, ibu, dan mas Fikri yang selalu menjaga saya

Masih di IGD – Rabu, 9 Januari 2012 pukul 10.00 pagi saya dicek darah, tensi, dsb. Hari ini perut saya makin ga karuan, dan datanglah rombongan dari bos-bosnya ibu dari Al Azhar. Sekitar pukul 12.30 saya belum mendapatkan kamar sehingga akhirnya Mas Fikri berinisiatif untuk proaktif ke bagian adm. Di tengah ‘kesakitan-perut-yang-luar-biasa-itu’ datanglah rombongan tim Business Development dari kantor saya.

Setelah kawan-kawan saya pulang, saya pun pindah kamar ke 108 (kelas 2) yang berada di lantai dasar. Tempatnya tidak jauh dengan IGD, dan di depannya ada taman bermain anak-anak sehingga cukup ramai dan tidak berasa nuansa rumah sakit-nya. Pasien sebelah saya di hari pertama adalah seorang wanita karir yang tertutup, dia juga dia kena DB. Esok malam dia pulang dan digantikan dengan nenek-nenek yang terkena diabetes dan syarafnya sehingga sering lupa.

Selama di rumah sakit, ibu selalu menemani dan menginap di rumah sakit. Mas Fikri hanya absen satu kali karena pekerjaan, sedangkan ayah menjaga adik-adik di rumah. Ada hal yang membuat saya sangat terkejut, pada suatu tengah malam, saya terbangun karena merasa ada ‘kehadiran’ seseorang. Benar saja, ketika saya membuka mata, mas Fikri sudah ada di pinggir tempat tidur. Ternyata dia baru pulang dari kantor dan langsung ke rumah sakit untuk menjaga saya. How sweet he is. Tidak hanya itu, kemanisan mas Fikri terlihat dari cara dia memapah saya ketika ingin ke toilet, dan dia juga yang mengipasi saya jika saya kegerahan karena AC di rumah sakit ini kadang tidak terasa (ACnya lebih terasa di pasien sebelah).

How sweet he is . Pacar siaga 🙂

Hari-hari saya selama di rumah sakit diisi dengan periksa darah, cek tensi, dan cek oleh dokter jaga dan dokter spesialis di malam harinya. Di hari kedua, saya tidak kunjung ada perubahan sehingga ibu meminta obat terbaik kepada dokter. Besoknya saya diberikan obat yang dimasukkan ke dalam infusan dan setelah itu keadaan saya berangsur membaik, meski trombositnya naik sangat sedikit. Saya pun terus-terusan diberi angkak dan sari kurma plus jus jambu.

Bersama my best friend, Aci..

Diinfus membuat diri saya tidak bisa bergerak leluasa. Bergerak sedikit saja, darah sudah naik-naik ke selang infusan, sehingga hal tersebut yang mengakibatkan saya merasa takut ganti baju. Akhirnya ada sahabat saya, Aci, yang datang menjenguk. Dia sih mengaku bisa menggantikan baju orang yang sedang diinfus. Tanpa selang yang dimatikan, Aci menggantikan baju saya. Wah, tak menyangka dia bisa menjadi suster. Bahkan malamnya Aci yang menyuapi saya. Thanks Ci :).

Sudah bisa tersenyum di saat hari-hari terakhir di rumah sakit

Akhirnya pada hari Sabtu, 12 Januari 2013 saya dinyatakan boleh pulang oleh dokter karena trombosit saya yang pada saat itu masih 74.000 diperbolehkan pulang . Meski trombosit saya masih kurang, at least trombosit saya tidak turun-turun banget. Dokter pun memberikan obat-obat ‘mujarab’ yang masih dikonsumsi hingga 1 bulan ke depan.

Kesan Selama Menjadi Pasien di RS JMC

RS Jakarta Medical Center (JMC) itu mempunyai suster yang baik dan ramah, suster-susternya juga helpful dan sabar, apalagi menghadapi saya yang suka jerit-jerit kalau ketemu dengan jarum. Selama saya di RS, saya ditangani oleh spesialis internis, Dr. Arya. Kalau dari segi pelayanan, saya apresiasi sekali. Tapi ada yang kurang sreg, yaitu fasilitas di kamar di mana AC tidak terasa karena diletakkan di satu sisi, jadi pasien di sebelah saya kedinginan, sehingga saya kepanasan. Saya dan ibu juga kurang puas dengan dokter yang berkunjung ke ruangan hanya sebentar. Padahal kami ingin berkonsultasi lebih lanjut. Hmm,, mungkin hal tersebut sudah menjadi SOP di sana, ah entahlah, yang jelas sekarang saya sudah sembuh dan bisa beraktivas seperti sedia kala. Terima kasih untuk para suster, dokter, dan staf di JMC.

Merasakan Menginap di Rumah Sakit Sebagai Pasien

Tak terbayangkan bahwa saya harus merasakan menginap di rumah sakit sebagai pasien. Jadi ceritanya saya terkena tipus yang kemudian berkembang menjadi DB, lalu penyakit saya juga ditambah dengan maag. Saat itu Selasa, 8 Januari 2013 trombosit saya menurun sekitar 100.000an (normalnya 150.000 – 400.000) , which is turun 30.000 dari hari Sabtu setelah diperiksa di Rumah Sakit Marinir Cilandak.

Oleh dokter di klinik Siaga, saya dirujuk ke rumah sakit dan akhirnya pilihan kami jatuh ke RS Jakarta Medical Center (JMC), Warung Buncit, Jaksel. Awalnya kami akan ke RS Marinir Cilandak lagi, namun kondisi jalanan macet dan kondisi saya semakin melemah dan rasanya sudah tidak kuat lagi. Akhirnya kami (ayah, ibu, saya, dan mas Fikri) memutar balik mobil ke RS JMC. Sebelumnya Mas Fikri sudah menghubungi RS JMC namun kamar rawat inap sedang penuh.

Kami nekat saja untuk tetap ke JMC karena lokasinya dekat dengan rumah, dan kalau ada yang jenguk, lokasinya terjangkau. Kalau kata ibu sih biar Mas Fikri kalau nengokin ga terlalu jauh :p . Selain itu, suasana di JMC tidak seperti di RS, jadi tidak terlalu stres bagi saya yang penakut. Sampai di RS, saya dibawa menggunakan kursi roda oleh security yang sigap  dan membawa saya ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Saya ditempatkan di tirai nomor 4, dan langsung diperiksa oleh suster dan dokter jaga. Kembali saya dicek darah dan ternyata trombosit saya semakin menurun ke angka 90.000an. Saya sempat kaget dan pasrah dengan apa yang akan terjadi.

Saat-saat di IGD

Akhirnya kata-kata “Anda harus dirawat di rumah sakit” keluar dari mulut si dokter dan sepertinya dokter tersebut telihat melihat  bahwa kami memang sudah siap untuk ‘menginap’ di rumah sakit karena kami sudah membawa banyak barang bawaan seperti bantal, selimut, baju, dll. Si dokter pun bilang “memang sudah mau (niat) dirawat kan?” Sayapun membalas dengan anggukan kecil. Dokter dan suster segera kembali untuk membuatkan surat rujukan rawat inap.

Jeng..jeng… Saat itupun tiba, hal yang paling menakutkan : diinfus. Dikarenakan saya yang tidak bisa diam, suster kesulitan untuk menancapkan jarum infusan. Dan saya merasa suster berkali-kali menusukkan jarum. Tak henti-hentinya saya berteriak dan menangis sambil bilang “Udah, belum?” hingga akhirnya suster mem-plester jarum tersebut dan saya pun tau saat itu ada jarum yang masuk di tubuh saya untuk dialirkan cairan infusan.

Air infusan saya yang pertama berwarna pink yang katanya ada kandungan makanan dan nutrisi karena beberapa minggu saya kurang makan dan nutrisi. Setelah saya diberi infusan pink tersebut, muka saya berangsur-angsur segar dari ‘kepucatan’. Sekitar pukul 10 malam saya dipindahkan ke ruangan khusus untuk menginap (namun masih di IGD juga). Di situ kasurnnya lebih lega daripada kasur pertama, namun space untuk yang kemit sempit sekali.

Sempat-sempatnya berfoto ria di IGD :p

Di sepertiga malam, saya harus merasa kesakitan karena harus skin-test untuk mengecek apakah saya alergi dengan antibiotik yang akan diberikan. Pertanyaan saya: mengapa harus selarut itu sih? Hiks.. Kata suster skin-test itu sakit sekali, hingga akhirnya mas Fikri yang sedang tertidur di pojokan kasur terbangun ditendang-tendang saya. Ibu memegangi pundak saya sambil memeluk dan Mas Fikri memegang kaki saya. Saking sakitnya, saya menendang Mas Fikri dengan keras sekali sampai terlihat dari mukanya bahwa ia kesakitan. Hehe maaf ya mas 😀 . Untungnya antibiotik itu dapat diterima di kulit saya. Karena saya tidak bisa diam, maka darah sempat naik ke selang infusan. Saat itu saya terkejut dan menangis, teringat cerita yang mengatakan jika darahnya naik ke atas, maka infusan akan diganti ke tangan yang satunya lagi. Wah, bukan main paniknya saya sampai  menangis.

Itulah segelintir pengalaman saya selama di IGD. Di part kedua saya akan ceritakan setelah saya mendapatkan kamar inap..

Mas Fikri selalu miijitin aku meskipun dirinya juga capek.. Love you so much, mas..

Dampingan dari Orang Tua dan Pacar yang luar biasa

Siapa sih di dunia ini yang kepengin sakit? Entah itu sakit secara lahir ataupun batin. Saya tergolong orang yang sering merasakan sakit setahun sekali. Karena entah kebetulan atau tidak, setahun sekali saya pasti merasakan sakit medis yang mengharuskan saya beristirahat , at least selama 1 minggu.

Di ujung tahun 2012, saya mulai merasa sakit-sakitan dan puncaknya ketika menjelang natal. Untungnya ada pacar saya yang setia menemani karena keluarga saya sedang ada acara di Garut. Mas Fikri lah yang mendorong saya untuk memeriksakan diri ke dokter. 25 Desember 2012, paginya kami berniat untuk ke klinik di bilangan Warung Buncit, Mampang. Namun melihat jalanan Jakarta sangat sepi dan udara saat itu segar, maka saya meminta pacar untuk jalan-jalan terlebih dahulu hingga daerah Kota sambil mencari sarapan. Mubazir melihat jalanan Jakarta sebegitu lengangnya tanpa dinikmati begitu saja.

Akhirnya kami memutuskan untuk sarapan di KFC daerah Mangga Besar, setelah itu kami langsung menuju Klinik di Mampang. Menurut dokter yang memeriksa saya, saya terkena penyakit tipus namun menurutnya saya masih bisa rawat jalan, padahal kondisi saya waktu itu sangat menyakitkan dengan perut kembung dan badan yang sangat lemas. Ia menganjurkan saya untuk memeriksakan darah. Waduh, saya sudah ketakutan karena saya takut dengan jarum dan darah. Mendengar hal ini, Mas Fikri langsung memaksa saya untuk cek darah. Awalnya kami akan ke Parahita, namun laboratoriumnya sedang tutup karena tanggal merah. Akhirnya Mas Fikri mengajak saya ke RS JMC.

Kami kembali ke dokter yang di Mampang sambil membawa hasil tes yang menyatakan bahwa saya positif tipus. Saya pun bed rest di rumah, dan selama bed rest itu Mas Fikri setia menemani saya. Membelikan makan, reminder untuk minum obat, memijit saya, sampai-sampai wajahnya terlihat kelelahan ketika ia tertidur. Dua hari setelahnya saya kembali kontrol dan dokter menyatakan bahwa kondisi saya tidak parah sehingga masih rawat jalan, padahal malamnya sakit saya semakin parah.

Mas Fikri ketiduran di dalam pelukan my T-Brown.. Love you very much, mas.. :*

Minggu, 29 Desember 2012 Mas Fikri inisiatif untuk memanggil dokter ke rumah karena saya terus-terusan mengeluh sakit perut. Akhirnya Mas Fikri dan ayah menjemput dokter di Klinik Mutiara, Pejaten. Ternyata dokter yang datang masih muda, hmmm ada rasa ga percaya sih sebenarnya. Dia pun memutuskan untuk menyuntik saya di pergelangan tangan, katanya sih untuk meredakan sakit lambung, dan dia menyuntik bagian p***** . Bukan main sakitnya, bahkan ketika dokter mulai menyuntik, saya sempat kentut :p dan dia bilang bahwa ini latihan suntik KB. Aduh, kalau gitu sekalian suntik KB aja lah :p…

Romantic :')

Ternyata sakit saya tidak hilang, pemirsa! Saya pun dibawa orang tua saya ke dokter langganan Januar, di sekitar Rawa Bambu. Ia pun melilhat hasil lab dan obat yanng diberi lewat suntikan. Ia pun marah karena menurutnya dengan hasil lab seperti itu saya sudah harus dirawat dan obat yang diberikan ke saya tidak tepat untuk mengobati apa yang saya keluhkan. Saya pun dirujuk ke RS Marinir Cilandak.

Sabtu, 5 Januari 2013 Saya masuk UGD RS Marinir Cilandak dan tes darah (lagi). Di mana hasil tes kali ini bikin saya stres karena trombosit saya di bawah rata-rata dan ditakutkan kena DBD. Saya pun dirujuk untuk rawat inap, namun saya tidak mau karena saya takut suntikan, dan takut dengan suasana rumah sakit. Dokter di sana memaksa sekali agar saya dirawat, seperti rawat inap itu sebuah keharusan di rumah sakit tersebut sampai-sampai omongannya jutek dan tidak enak didengar. Ayah dan Ibu pun menandatangani persetujuan pulang ke rumah dengan catatan saya harus disiplin makan dan minum obat di rumah. Selama 2 hari di rumah, keadaan saya makin parah. Tidak mau makan, semakin lemas, saya pun mulai dicekoki minuman isotonik, angkak, dan sari kurma.

Selasa, 8 Januari 2013 saya diperiksakan ke klinik Siaga dan melakukan cek darah yang ketiga ditemani ibu dan Mas Fikri. Saya pun ditanyai apakah saya masih nona atau sudah nyonya (karena mereka melihat Mas Fikri yang senantiasa mendampingi). Hasil tes menunjukkan bahwa trombosit saya semakin menurun di bawah 100.000 dan saya dirujuk ke RS Siaga, namun akhirnya sore hari kami memutuskan untuk ke RS JMC. Mas Fikri menemani keberangkatan kami ke RS, dari masuk ke IGD, hingga saya mendapatkan kamar karena kebetulan kamar di JMC sedang penuh. Mas Fikri memang pacar yang luar biasa. Jika ada istilah suami siaga, yang ini pacar siaga :)…

*Selama di rumah, saya disuapin dan dipijitin ayah,ibu,adik,dan Mas Fikri.. Makasih ya semuaaa :* Ketjuppppp

Oh ia, ada hal yang masih terkenang sampai sekarang hingga nanti :

Ketika saya ingin sekaliii makan mie ayam, Mas Fikri membelikannya dan ia memakan mie-nya, sedangkan saya menyeruput kuahnya. Lalu ketika saya ingin sekali mie goreng, Mas Fikri yang memakan mie-nya, sedangkan saya memakan telurnya.. Love you mas :*

 

 

 

Hari di mana Wulan Pakai Toga!

Horee.. Pakai baju toga juga 🙂

18 Desember 2012, Alhamdulillah akhirnya ini adalah saatnya saya menggunakan baju toga. Hari ini saya resmi di-wisuda! Patut disyukuri pula bahwa saya menjadi salah satu lulusan terbaik perwakilan dari jurusan Public Relations. Jujur, saat awal masuk kuliah, target saya memang menjadi lulusan terbaik, namun di tengah jalan target itu berhenti karena melihat mahasiswa-mahasiswa lain yang kompeten dan saya mulai sibuk berkarir. Pada akhirnya saya tidak menyangka bahwa saya menjadi wisudawan terbaik. Alhamdulillah..

Sertifikat & Plakat sebagai Wisudawan Terbaik

Saya ingin merekam cerita ketika hari wisuda berlangsung ke dalam blog saya Pribadi. Yuk kita lihat aktivitas saat hari wisuda berlangsung :

07.00 Bangun telat , mandi, keramas (kata orang salon: mau disanggul malah keramas-an :p)

07.15 – 09.00 mulai disanggul dan di-make-up (Aku pakai jasa Elrey Salon, salonnya Mas Egi , salah satu tetangga. Dia dan temannya datang ke rumah). Oh ia, untuk acara ini aku memberanikan menggunakan lensa kontak lagi!

09.00 Mas Fikri sudah datang dan membawa… ehm, bunga.. Aduh rasanya bikin salah tingkah gimana gituuu. Soalnya selama ini dia cuma ngasih bunga virtual (symbol ‘bunga’ yang ada di whatsapp) :p

Sebuah rangkaian bunga dari mas-ku

09.30 Siap-siap dan memastikan tidak ada yang tertinggal.

11.00 Sampai di JCC. Aku dan orang tua melapor ke bagian acara karena aku dan orang tua duduknya sudah ditempatkan (yang katanya masih rahasia). Oh ia, yang bikin aku sedih, aku ga barengan sama temen-temen PR satu kelas karena mereka dapat jadwal di sesi 1 , sedangkan aku di sesi 2 , tapi kesedihan itu terbayar lunas karena aku ditemani sama keluarga (lengkap sama adik-adik juga) dan Mas Fikri, pacar aku.. That’s priceless!

Foto keluarga + Mas Fikri (tapi ini di booth yang tidak bekerja sama dengan kampus)

Ada kejadian lucu, karena saya belum pernah diwisuda,maka baju toga saya terbalik! Padalah Mas Fikri sudah mengingatkan. Untung ada fotografer yang mengingatkan. Hahaha 😀

'Ditodong' photo session di booth-nya majalah Jannah , Grupnya Republika :p

13.00 Acara dimulai, mulai dari sambutan hingga akhirnya kami ke panggung untuk dipindahkan tali toga-nya. Ingat: Menunduk, tundukkan kepala, baru salaman yaa 😀 dan tali yang tadinya ada di sebelah kiri, berpindah ke sebelah kanan. Oh ia, orang tua saya duduknya di panggung,lho.. Beserta orang tua lulusan terbaik lainnya. Saya bangga dan bersyukur dapat menempatkan mereka di posisi tersebut 🙂 . Undangan yang berlaku untuk 2 orang pun akhirnya diberikan kepada Mas Fikri dan Januar, adik terkecil, sedangkan Fahrul menunggu di luar.

Ayah dan ibuku duduk di tempat ini. Senangnya bisa menempatkan mereka di sini 🙂

Suasana kemeriahan di JCC

Suasana wisuda sangat meriah, bagaimana tidak meriah? Dilihat dari lokasi wisudanya saja sudah bergengsi, di JCC (Jakarta Convention Center),  dihadiri oleh orang-orang berkepentingan, mendapatkan rekor MURI, dan selalu mengundang bintang tamu. Kali ini bintang tamunya adalah Terry Putri yang menyanyikan lagu Butiran Debu, Kaulah Segalanya, hingga Gangnam Style.

Performance by Terry Putri

15.00 Waktunya pengumuman wisudawan terbaik. Ini adalah salah satu deg-degan moment, karena nama saya dipanggil sebagai wisudawan terbaik dan ketika nama saya dipanggil, saya pun berdiri dan disorot mulai dari tempat duduk hingga saya di panggung. Di panggung ada 9 orang lulusan terbaik dan kami menerima plakat wisudawan terbaik dan menerima beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya.

9 Penerima penghargaan wisudawan terbaik. Masing-masing mewakili jurusannya

Saya berada di layar besar ini ketika menerima penghargaan :p

16.30 Acara resmi selesai, saya dan keluarga akhirnya melakukan sesi pemotretan resmi di booth yang tersedia. Setelah sesi foto keluarga inti (minus mas Fikri), sesi selan jutnya foto keluarga+Mas Fikri. Ada yang mengagetkan, ibuku minta foto bareng Mas Fikri. Ups, pertanda apakah ini? Hehe..

Alhamdulillah jadi wisudawan terbaik

Bersama AZF

Ibu sama mas

17.00 Berangkat dinner ke Raja Rasa Ampera. Di tengah hujan dan kemacetan, kami sekeluarga + Mas Fikri bersenda gurau, bahkan ibu dan Januar sempat main-main dengan togaku. Hehe :p

Januar & Fahrul bercanda di mobil

18.45 Sampai di Raja Rasa Ampera dan kami memesan dan menyantap makanan yang dihidangkan. Kami makan di sebuah saung yang menurut Fahrul lebih mirip kos-kosan.

Makan bersama..

Bermain di pinngir kolam ikan

20.30 Selesai makan dan kami pulang ke rumah..

Alhamdulillah, hari ini penuh rasa syukur. Punya keluarga dan pacar yang sayang sama aku. Dan di hari ini juga Mas Fikri semakin dekat dengan keluarga 😀

Oh iya, untuk beasiswa dari kampus, sepertinya tidak akan aku gunakan karena beasiswa dari kampus mengharuskan aku untuk kuliah di Bandung. Well, kita lihat saja nanti..:)

 

Thanks To :

1. Golden Bird

2. La Belle Shop

3. Raja Rasa Ampera

Kebaya oleh La Belle Shop.. Aku suka perpaduan warnanya 🙂

Wisuda.. Wisuda…! – Ucapan Terima Kasih Dari Wulan Muhariani

Wisuda, itu adalah kata-kata terindah bagi mahasiswa mahasiswi karena wisuda menandakan berakhirnya masa-masa perkuliahan, di mana semua beban tugas selama kuliah dan mengerjakan tugas akhir plus episode mengejar dosen penguji dan pembimbing telah usai. Masa-masa berkutat dengan laptop dan abang-abang tukang rental dan fotocopy-an juga telah sirna. Ah, indahnya wisuda..

 

UCAPAN TERIMA KASIH – yang ga ada di TUGAS AKHIR!

Berhubung ucapan terima kasih di bagian “Kata Pengantar” dalam Tugas Akhir dibatasi (dari segi kuantitas, maupun dari kata-katanya), maka pada kesempatan kali ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada :

  1. Tentunya saya bersyukur kepada Allah, atas jalannya saya dapat melanjutkan kuliah dengan jurusan Public Relations, di mana saya diarahkan oleh-Nya untuk berkarir di bidang ini. Alhamdulillah . Thanks Allah 🙂
  2. Orang tua dan adik-adik yang senantiasa mendukung dan mendoakan, meski kadang adik-adik bikin puyeng juga :p 
  3. Keluarga Mah Ai Garut yang selalu support Wulan.. Aku sedih perkataan Mah Ai jadi kenyataan: Wulan wisuda tanpa Mah Ai. Semoga Allah selalu memberikan tempat terindah buat Mah Ai . Amiinn… 
  4. Keluarga Ua Ai di Jagakarsa. Makasih ya ua, a aron, teh yanti, teh aci.. Udah menjadi kakak yang baik buat Wulan. Udah banyak banget bantu Wulan dan keluarga, bahkan dari Wulan lahir..  
  5. Dosen-dosen yang selalu membimbing aku:

Bu Ita: Dosen pembimbing Tugas Akhir yang sabar banget . hehe

Bu Dewi : Dosen pembimbing II yang mudah banget ditemui. Makasih bu!

Bu Diah : Dosen pembimbing KKP dan beberapa kali menjadi dosen pembimbing kelas. Terima kasih atas motivasinya selama ini!
Bu Susi : Selalu memberikan aku motivasi dan dialah yang membuat aku percaya diri dan dia juga yang mengajarkanku kalau PR itu senjatanya NULIS!

Sampai saat ini Alhamdulillah hampir semua karyaku menjadi contoh bagi junior-juniorku di kampus. Semoga bermanfaat ya, adik-adik.. J

  1. Teman-teman 1 angkatan di kelas pagi maupun malam. Terima kasih sudah menjadi tim yang baik untuk gw. Maaf ya kalau selama ini ada kata atau tindakan yang menyakitkan

    Waktu PR Camp di Puncak :)))

  2. Buat Budgecom dan Fortune Group Family yang selalu memberikan kesempatan untuk aku meniti karir. Mulai dari New Business Development Officer -> Corporate Communications Spesialist -> Social Media Planner -> Strategic Planner .

Makasih buat Bu Eli yang manggil interview,

Mas Afan yang nyimpenin batere laptop gw sehingga gw bisa kerja lagi :p

Mas Oscar, Mba Ardis, Bu Mayana (Mentor waktu masih di divisi NBD)

Arly dan Andin (Partner in crime waktu kita NBD-an)

Bu Myrna, Bu Indira, Mas Syarif (yang memberikan kesempatan aku mengeksplorasi apa yang aku punya. Especially for Bu Myrna. Love you so much, a good leader. . ! )

  1. Blue Bird Family (Bu Noni, Pak Tony Liandouw, dan Pak Teguh yang sudah memberikan kesempatan untuk aku meniti karir di perusahaan Si Biru yang hebat itu), terima kasih juga buat Pak Tony A yang memberikan izin kalau aku ada urusan kampus.
  2. Makasih juga buat Mas Ahmad Zainul Fikri yang selalu mendukung aku. Sampai detik terkakhir pengumpulan Tugas Akhir, Mas Fikri bantu aku. Makasih atas cinta mas Fikri buat aku sehingga aku bisa menjalani semuanya. Love you so much my lovely. Semoga impian kita tercapai (nah, yang kaya gini nih yang ga boleh ditulisin di Tugas Akhir).

Mas Fikri bantuin ngerombak Tugas Akhir di H-2 pengumpulan TA!!! Thank you mas 🙂

Itulah sepenggal ucapan terima kasihku kepada orang-orang yang telah berjasa untuk aku dalam kelulusanku.. Eh ia , ada yang ketinggalan..

Makasih yak buat kang rental dan kang potokopi yang selalu dibawelin kalo gw lagi jadi customer di sana. Hehehe. BTW, kang rental juga lah yang merapikan data-data.. Wohoooo.

Semoga kebaikan Anda semua yang saya sebutkan ataupun tidak saya sebut (maaf ga bisa menyebutkan semuanya satu persatu) , dibalas oleh Allah SWT, sehat selalu, dilancarkan rezekinya. Amiiinnn…

Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2012

Jakarta, 5 Oktober 2012 – Saya berkesempatan menghadiri acara penyerahan penghargaan Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2012 di Kuningan City. Kebetulan, kantor tempat saya bekerja menjadi official transportation dan saya mendapatkan undangan untuk menghadirinya. Anugerah Pewarta Foto Indonesia adalah Anugerah yang diberikan oleh Pewarta Foto Indonesia sebagai bentuk apresiasi kehadiran pewarta foto Indonesia beserta foto yang dihasilkan.

Setelah saya melihat beberapa fotonya di pameran, ada 3 foto yang menarik saya, meski foto-foto tersebut tidak menang, tapi mereka menang menarik hati saya :p

Maman Sukirman, Berlindung Dari Bentrokan. Melihat foto ini rasanya sedih karena foto ini menggambarkan ketidakberdayaan orang yang lemah.. 🙁

Berburu Paus. Kalau dilihat dari human interest-nya, ngena banget karena memperlihatkan kerakusan manusia terhadap binatang. Dari segi fotografi juga bagus karena pengambilannya pas.

Ini adalah harimau pincang. Nasibnya kini berada di dalam sebuah ember. Mungkin sekarang udah menjadi bahan pakaian ya 🙁

Eh ada Moments To Go...

souvenir dari acara, name tag berbentuk kamera. lucu ya ^_^

 

 

Kunjungan dari Swiss German University

Manager : Wulan, tolong kamu handle ini (sambil menyerahkan surat permohonan)

Me : Ok pak  (wah, ternyata kunjungan universitas..!)

Yeayyy Senang sekali ketika saya bertugas untuk menerima kunjungan dari mahasiswa dan mahasiswi dari Swiss German University. Saya semakin excited ketika tahu bahwa yang akan berkunjung ke kantor adalah mahasiswa/i jurusan komunikasi karena saya sendiri masih tercatat sebagai mahasiswi komunikasi dengan bidang Public Relations. Jadi, langkah-langkah yanhg diambil adalah:

1. Menghubungi pihak kampus bahwa perusahaan menyetujui untuk menerima kunjungan

2. Membuat slide presentasi (tentunya disesuaikan dengan jurusan dan materi yang sedang ‘hot’) . Saya pun berdiskusi dengan pihak kampus dan manager, dan materi yang disampaikan adalah kegiatan corporate communication dari Blue Bird Group yang terdiri dari Public Relations, Marketing Communications, corporate identity,  dan CSR.

3. Berkoordinasi untuk ruangan dan f&b , bagaimana pun mereka adalah tamu, jadi kita harus memperlakukan dengan sangat baik.

4. Berkoordinasi untuk alat-alat seperti mic, sound system, kursi meja, laptop, proyektor (dan ini saya lakukan dalam 1 jam saja, pemirsa!) Jangan ditiru yaa.. Sebaiknya sih dipersiapkan beberapa jam sebelumnya.

5. Menyambut para mahasiswa/i

Acara Perkenalan. Pada ga nyangka lho saya berumur 21 :)))

 

Saatnya perkenalan tim, dan Pak Tony selaku Senior Manager Corporate Image memperkenalkan satu persatu tim dari Business Development; Wulan Muhariani (Marketing Communications), Nova Hapsari (CSR), dan Teguh Wijayanto (Head of Public Relations). Saat Pak Tony memperkenalkan saya dan menyebutkan umut saya, mereka tidak percaya bahwa saya masih berumur 21 tahun, sampai-sampai pada akhir acara sang dosen dan dekan memastikan kembali kepada saya. Pada acara ramah tamah ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang mengerubungi saya dan bertanya-tanya mengenai kegiatan PR di Blue Bird Group dan bertanya mengenai saya yang masih muda namun sudah merintis karir. Alhamdulillah, saya dapat memotivasi mereka agar mereka tidak terlena dengan dunia kuliah dan memulai karir sedini mungkin.

Menjelaskan ruang lingkup "Marketing Communications" di Blue Bird Group

Acara sore hari itu pun selesai, dan wajah para mahasiswa-mahasiswi tersebut terlihat senang sekaligus terbebani karena mereka diberi tugas paper mengenai kunjungan ini. Hehee.. :p

Tak lupa, jika acara sudah selesai, ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu, sampai ke OB juga harus diucapkan terima kasih sebagai apresiasi karena tanpa mereka acara tidak akan berjalan dengan lancar.

Terima kasih ya Mba Dita dan OB Team :)))

Ingin melakukan company visit ke Blue Bird Group ? Please email me :

wulan.muhariani@bluebirdgroup.com

contact@mwulan.com

Text

Movie Gathering with Sekolah Kami and Kurnia Foundation

Nonton bareng di bioskop adalah hal yang paling menyenangkan, memang.. Terlebih jika kita nonton bareng orang-orang terkasih. Namun sayangnya tidak semua orang berkesempatan menonton di bioskop dikarenakan masalah finansial. Berkaca dari hal ini, kantorku, Blue Bird Group bekerja sama dengan 7 Eleven, menyelenggarakan acara nonton bareng anak-anak dari Sekolah Kami dan Yayasan Kurnia. Film yang ditonton adalah film karya Eugene Pandji, “Cita-citaku Setinggi Tanah” yang menceritakan kisah anak-anak di desa Muntilan dalam menggapai mimpinya.

Nonton bareng dengan Sekolah Kami diadakan pada tanggal 22 Oktober 2012 bertempat di Mega Bekasi XXI yang ternyata bioskopnya tidak kalah besar dan mewah dengan bioskop-bioskop di kota Jakarta. Sebanyak 100 anak mengikuti nonton bareng ini. Mereka antusias sekali karena sebelumnya belum pernah menonton di bioskop. Bahkan, ada beberapa anak yang membuat kreasi di atas kertas karton mengenai acara nonton bareng ini.

Seorang anak dari Sekolah Kami memegang karyanya sendiri yang bertuliskan "NOBAR Sekolah Kami dan Blue Bird". Mereka ga disuruh , lho untuk membuat ini

mwulan sedang melihat salah satu karya anak-anak Yayasan Kurnia

Foto bersama di depan Big Bird yang mengantar jemput anak-anak

Periode berikutnya, kami nonton bareng Yayasan Kurnia, yayasan anak jalanan dan sebanyak 400 anak mengikuti kegiatan ini. Kami nonton di Gading 21, dan sebelumnya kami menyantap makanan dan minuman yang telah disediakan oleh 7 Eleven. 7 Eleven Kelapa Gading sangat welcome menyambut kami, dan anak-anak dari Yayasan Kurnia merasa senang merasakan berkunjung ke sana. Setelah acara di 7 Eleven store selesai, kami menyeberang ke mall kelapa gading 1 untuk siap-siap menyaksikan film Cita-Citaku Setinggi Tanah.

Tugas marcomm-ku di event ini adalah bagaimana caranya acara ini dapat terdengar gaungnya di masyarakat, tentunya saya mengundang media dan update berita melalui web dan social media.

Terima kasih atas kerjasama yang baik ini, 7 Eleven 🙂