Pacaran Sama Suami

Tulisan ini terinspirasi dari pendapat teman yang menurutnya, aneh jika seorang suami istri malam minggu untuk sekedar makan atau nonton, kemudian anaknya dititipkan di Kakek-Nenek.

Menurut saya itu belum tentu salah, karena mereka kan keluarnya untuk nge-date (makan, nonton, dll) bukan untuk  melakukan hal yang negatif. Jadi its’s oke lah ya, asalkan tidak terlalu sering.

Dari beberapa referensi yang saya dapatkan, pasangan suami dan istri  yang telah memiliki anak, jika memungkinkan harus menyempatkan kencan berdua tanpa anak. Tujuannya untuk apa? Untuk membina relationship antara suami dan istri, menumbuhkan percik-percik asmara yang mungkin saja sudah memudar, saling mengungkapkan perasaan atau mengenang masa lalu yang indah, bisa juga menjadi terapi kejenuhan dan dan mengobati kepenatan.

Waktu berduaan juga manjur bagi pasangan yang sama-sama sibuk kerja di luar rumah. Jadi gini ya.. Sehari-hari si suami dan si istri sibuk bekerja dan menghabiskan waktu di jalan, keduanya hanya bertemu di rumah.  Di rumah pun mereka tidak ada waktu untuk urusan berdua karena sibuk mengurus anak, rumah dll. Jadi waktu berduaan untuk jalan berdua menjadi momen untuk berbagi cerita, berkeluh kesah, tertawa bersama, dan ini akan menghadirkan kembali kedekatan dan keakraban. Pada saat berdua ini, suami dan istri bisa membicarakan apa saja yang bersifat pribadi.

Waktu berduaan juga sangat penting bagi suami dan istri yang jam kerjanya tidak sama, mungkin salah satunya bekerja shift, maka suami dan istri harus pintar-pintar memilih waktu untuk berduaan. Tujuannya? Sama seperti yang saya jelaskan di paragraf atas. Contohnya saja saya dan suami. Saya kerja seperti kebanyakan pekerja (Senin – Jumat dan office hour) sedangkan suami bekerja shift yang hanya libur di 1 hari weekday. Maka kami berdua harus mencari waktu yang tepat untuk berdua. Bahkan saya dan suami selalu merencakan untuk pergi ke luar kota atau luar negeri untuk honeymoon lagi jika kondisi pekerjaan, kesehatan, dan keuangan memungkinkan untuk kami pergi.

Honeymoon lagi ke Bali untuk meningkatkan emotional bonding dengan suami dan refreshing.

Honeymoon lagi ke Bali untuk meningkatkan emotional bonding dengan suami dan refreshing.

Saya memang bukan ahli psikologi, tapi saya belajar dari informasi yang ada di majalah, internet, seminar-seminar maupun kumpul-kumpul sesama Urban Mama sehingga saya senang jika saya bisa menyimpulkannya dan menuliskannya di blog pribadi agar semakin banyak yang mengerti pentingnya membina hubungan harmonis dengan suami dan tidak ada pandangan sinis terhadap mereka (suami-istri) yang mau berduaan tanpa anak.

Jika tidak ada kakek-nenek yang bisa dititipkan?

Jika tidak ada, maka bisa menitipkan ke saudara atau orang terpercaya, namun tetap mengontrolnya via telepon dan membatasi waktu jalan berdua . Bersyukur jika Anda memiliki pembantu/baby sitter. Anda bisa menitipkan anak kepada baby sitter dan pulangnya membawa buah tangan uintuk mereka yang dititipkan.

Khusus penitipan di kakek-nenek, jika mereka kakek-nenek yang baik, mereka tidak akan keberatan kok dititipin cucunya sendiri, bahkan akan menawarkan. Alhamdulillah saya memiliki orang tua dan mertua yang baik. Jika saya dan suami sedang ke luar kota, mereka datang ke rumah untuk ikut mengurus anak saya meskipun sudah ada pembantu di rumah.

Jika tidak ada yang bisa dititipkan sama sekali?

Jangan khawatir, manfaatkan waktu tidur si kecil, mungkin bisa memasak bersama, menonton film dan hal-hal mengasikkan yang bisa dilakukan berdua.

Jadi, mau kemana weekend ini dengan suami?

Makan mie ayam berdua sehabis saya kuliah dan sebelum suami berangkat kerja.

Makan mie ayam berdua sehabis saya kuliah dan sebelum suami berangkat kerja.

 

 

 

Eklampsia-nya Masih Ada Setelah Melahirkan

Kurang lebih 75-80% penyebab kematian ibu melahirkan adalah preeklampsia-eklampsia, infeksi dan perdarahan dari seluruh kematian maternal (Rambulangi, 2003). Menurut data SKRT (1995) persentase penyebab kematian ibu melahirkan terbagi atas 45% perdarahan, 15% infeksi dan 13% preeklampsia-eklampsia.

Alhamdulillah, saya termasuk seorang Ibu hamil yang selamat dari penyakit eklampsia meski penyakit eklampsia-ku tidak berhenti setelah melahirkan. Jika kebanyakan penyakit akan berhenti setelah si bayi dilahirkan, eklampsia akan terus menghantui si ibu. Untuk itu setelah melahirkan harus tetap dikontrol kesehatannya, terlebih tekanan darah. Bagi ibu yang kehamilannya menderita eklampsia, agar tidak mengonsumsi garam atau makanan yang asin berlebih, dan banyak-banyak istirahat.

Ada  yang saya sesalkan ketika melahirkan di RS JMC. Tenaga medis  tidak menginformasikan kepada saya mengenai apa yang saya alami serta do’s & dont’s-nya. Misalnya saja, saya tidak tahu kalau saya tidak boleh makan garam berlebih. Saya baru tahu ketika suster melihat saya ngemil biskuit dan keripik yang asin, dia hanya bilang “Ibu tidak boleh banyak makan yang asin-asin ya.” Tapi dia tidak menjelaskan alasannya. Selain itu ketika saya banyak berbicara (karena banyak tamu), suster datang ke tempat saya “Kata dokter ibu harus banyak istirahat ya…” dan tidak mengemukakan alasannya. Padalah setahu saya, penderita eklampsia harus ketat dalam menjaga makanan dan waktu istirahat. Intinya: Saya dan keluarga kurang terinformasikan dengan baik. (Inilah gunanya menggali informasi dari seminar, majalah, internet).

Perlu Istirahat Banyak

Mitos: Ibu melahirkan dilarang tidur di pagi hari agar darah putih tidak naik ke atas

Fakta: Ibu melahirkan sangat dianjurkan untuk banyak beristirahat, terlebih bagi ibu yang menderita eklampsia. Ibu harus cukup istirahat demi pemulihan stamina setelah melahirkan (yang membutuhkan energi sangat banyak) dan menunjang kesehatan diri sendiri dan bayi.

Saran saya bagi para keluarga & rekan yang akan mengunjungi bayi dan si ibu, lebih baik menjenguknya ketika sudah di rumah saja, atau jika ingin menengok di RS, diperhatikan waktu kunjungannya disesuaikan dengan jam yang berlaku di RS.

Dua minggu pasca melahirkan wajah saya masih pucat, kulit berwarna kuning hingga obgyn di klinik kantor pun khawatir akan kondisi saya dan merujuk untuk cek darah. (Lagi-lagi saya bandel dan ignore rujukannya).

 

Apakah ada dampak jangka panjang bagi ibu penderia eklampsia?

Dari informasi yang dihimpun, Ibu penderita eklampsia yang telah melahirkan harus tetap rutin check-up kesehatannya. Eklampsia telah membuat organ-organ dalam si ibu terganggu, ada juga yang tekanan darah tingginya berlanjut.

Apakah eklampsia akan memengaruhi kehamilan berikutnya?

Jawabannya, iya akan mempengaruhi. Untuk itu Ibu yang menderita eklampsia di kehamilan pertama wajib memperketat kondisi ibu dan janin di kehamilan kedua. Kehamilan selanjutnya juga harus di bawah pengawasan dokter serta konsumsi makanan sehat, hindari stress, olahraga dan menikmati kehamilan dengan penuh rasa syukur dan berdoa. Di kehamilan kedua ini, penentuan sesar atau normal, dilihat dari kondisi Ibu dan janin. Jika di kehamilan kedua Ibu mengalami eklampsia, maka Ibu akan sesar kembali. Namun jika Ibu bebas dari eklampsia, kemungkinan normal masih ada dengan melihat pertimbangan dokter.

Well, semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi para ibu hamil dan keluarganya. Tulisan ini berdasarkan pengalaman saya disertai pengetahuan yang saya dapat dari berbagai referensi. Mari bersama-sama menyelamatkan Ibu hamil dan menekan angka kematian Ibu hamil di Indonesia!

 

Hasil penelitian (dalam bentuk skripsi) yang bagus mengenai eklampsia :

http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20320037-S-Nanien%20Indriani.pdf

 

 

 

Bertaruh 2 Nyawa Karena Eklampsia

Apa itu eklampsia? Sepertinya nama ini masih asing di masyarakat, di telinga saya pun juga. Namun, siapa sangka nama ini yang bisa merubah takdir seseorang termasuk saya. Saya memang pernah membaca mengenai eklampsia di website-website tentang kehamilan dan kelahiran, pun di majalah parenting seperti Ayah Bunda dll. Saat hamil saya memang senang membaca dan menggali informasi sebanyak mungkin mengenai kehamilan dan kelahiran karena ingin menjadi wanita dan ibu yang cerdas dan tidak percaya dengan mitos-mitos yang selama ini dihembuskan.

Di sini saya tidak akan menjabarkan apa itu eklampsia, namun saya akan sharing pengalaman saya. Simplenya, eklampsia itu adalah penyakit kehamilan, yaitu darah tinggi pada ibu hamil. Ada pre-eklampsia dan eklampsia. Apa bedanya? Ada yang bilang pre-eklampsia itu tekanan darah tinggi sebelum melahirkan (saat hamil) dan eklampsia itu setelah melahirkan. Ada juga referensi yang menyebutkan bahwa eklampsia adalah tingkatan/lanjutan dari pre-eklampsia ditandai dengan kejang-kejang. Penyakit ini adalah salah satu penyakit 3 besar yang menyebabkan kematian.

Menurut Obgyn saya, saya terkena eklampsia karena sampai kejang, dan jika tidak ditangani dengan baik dan cepat bisa menyebabkan tidak sadarkan diri (koma) hingga meninggal (Alhamdulillah saya ditangani dengan tepat sehingga bisa menuliskan ini).

 

Agustus 2014.  (Usia kandungan memasuki 7 bulan)

Setelah melakukan USG, Obgyn menyatakan hasilnya kepada kami “Wah kondisinya bagus, kalau seperti ini Insya Allah Ibu bisa melahirkan normal. Air ketuban bagus dan banyak, bayi tidak besar, plasenta dan tali pusar oke. Semuanya oke ya bu.” dr Meity Elvina, Obgyn saya menjelaskan kondisi saat itu. Wajahnya ceria melihat kemungkinan saya melahirkan normal (karena beliau memang pro-normal). “Bulan depan ukur panggul ya bu, dan bulan depannya lagi ceknya jadi 2 minggu sekali yaa..” lanjutnya.

Kami pun pulang dengan bahagia, ah melahirkan normal adalah impian sejatinya wanita….

 

September 2014. (Usia kandungan memasuki 8 bulan)

Suami selalu ada untuk saya sampai harus izin untuk pulang cepat bahkan izin ngantor. Dukungan suami dan orang-orang sekitar sangat diperlukan di masa-masa seperti ini,

Suami selalu ada untuk saya sampai harus izin untuk pulang cepat bahkan izin ngantor.
Dukungan suami dan orang-orang sekitar sangat diperlukan di masa-masa seperti ini,

Selama hamil kondisi saya memang sempat down, namun tidak parah, hanya mual-mual, bahkan saya masih bisa dinas ke luar kota. Siapa sangka di bulan ini Allah berkehendak lain.

Bulan ini adalah masa-masa yang berat bagi saya yang sedang mengandung 7 bulan menuju bulan ke-8 dan berstatus mahasiswi sekaligus karyawan swasta. Awal September kondisi kehamilan dan kondisi tubuh saya semakin menurun, nafsu makan saya hilang, tidak mau bangun dari tempat tidur, tidak tahan panas namun badan menggigil seperti meriang, mata sering kunang-kunang dan kondisi semakin buruk karena saya tidak bisa tidur. Kalaupun tidur, pasti terganggu dengan ‘acara ke toilet (buang air kecil)’. Selesai dari kamar kecil, saya tidak bisa tidur lagi. Badan saya pun semakin terlihat membengkak, khususnya kaki. Saya pikir ini normal sebagai ibu hamil. Saya tidak tahu sebenarnya ada bahaya yang sedang mengintai kehamilan saya.

Di bulan-bulan ini saya sama sekali tidak makan, hanya minum jus buah (yang banyak gula dan es batunya) sebanyak 2-4 plastik dan menghabiskan 1 botol air mineral (harus Aqua) berukuran sedang 2-3 hari, ditambah 1-3 botol Teh Botol/Teh kotak dingin.

Rumah sakit, jarum infusan, dokter, dan suster bukanlah hal yang asing lagi bagi saya. Awal September kami memeriksakan kandungan di RSIA Aulia (cek rutin) yang waktunya sengaja kami percepat karena khawatir dengan kondisi saya yang melemah. Mengapa di RS Aulia? Karena dari awal memeriksakan kehamilan, saya  memang memilih RSIA Aulia atas rekomendasi orang-orang sekitar saya.

Tibalah saatnya saya diperiksa oleh dr. Meity. Saya menceritakan keluhan-keluhan saya dan beliau menyuruh saya EKG  (periksa detak jantung bayi) dan hasilnya tidak memuaskan karena grafiknya statis, kemudian diperiksa gerakan bayi yang hasilnya tidak ada gerakan janin hingga suster harus berulang-ulang mengetes dan menstimulasi gerakan bayi. Saya mulai cemas karena sebenarnya saya juga sudah lama tidak merasakan tendangan janin.

Setelah melalui beberapa pemeriksaan, saya kembali menemui dr. Meity dan beliau khawatir akan kondisi saya dan janin. Beliau pun melakukan USG untuk saya (FREE) karena kekhawatiran beliau. Raut muka dr. Meity tidak seceria biasanya, saya pun semakin cemas. Sepertinya dr. Meity melihat yang tidak beres dengan kehamilan saya sehingga ia merekomendasikan untuk pergi ke ahli fetamaternal karena ia melihat plasenta saya kurang berfungsi. Akhirnya dr. Meity pun memutuskan untuk memberikan obat penguat paru-paru. Selesai konsultasi, dr. Meity menginfokan agar saya menghadapi kemungkinan terburuk, yaitu bayi saya harus diangkat melalui operasi sesar.

Semenjak itu saya tetap tidak bisa makan dan 2 hari sekali ke RS untuk minta diinfus agar ada asupan nutrisi dan tenaga untuk saya dan janin. Kali ini saya bolak-balik ke RS Jakarta Medical Center (JMC) karena dekat dengan rumah orang tua (semanjak hamil kami tinggal di Pejaten agar dekat ke kantor). Kami pikir kalau untuk minta diinfus, ke JMC saja dekat, tidak usah ke Aulia. Ternyata Allah berkehendak lain. Suatu ketika setelah cek darah ini itu, oleh Obgyn saya harus menginap (opname) di RS untuk diobservasi, sepertinya beliau (dr. Arju Anita) juga  melihat hal yang kurang baik akan kehamilan saya. Akhirnya saya menurut dan 2 hari dirawat. Selama 2 hari itu tekanan darah masih normal, namun memang detak jantung dan gerakan bayi masih statis dan gerakannya jarang. Makan pun masih sedikit sekali. Hari kedua di RS saya merasa baikan dan minta pulang meski dr. Anita sebenarnya belum mengizinkan karena menurutnya saya masih harus diobservasi. Akhirnya kami pulang setelah suami menandatangani surat pernyataan dan saya berjanji untuk menambah asupan makan.

Kembali opname dari RS, kondisi saya tidak ada perubahan, malah semakin memburuk. Mata semakin sering merasa kunang-kunang, pusing dan kaki semakin bengkak. Tidak kuat akan kondisi seperti itu, saya minta diopname lagi di RS (kembali ke JMC karena dekat dengan rumah). Di IGD saya mendapat infusan seperti biasanya, cek detak jantung janin dan gerakannya, lalu Obgyn melalui bidan yang sedang bertugas menyuruh untuk mulai memasang kateter. Ketika cek tekanan darah, hasilnya mulai meninggi >170 dan saya harus cek urin. Setelah cek urin ternyata ada protein di dalam urin saya (ini adalah salah satu ciri pre-eklampsia).

Selama di IGD saya diberikan obat penurun tekanan darah tinggi, bahkan obat yang paling mahal pun di-inject ke infusan saya. Sempat turun namun hanya sedikit dan kembali naik. Puncaknya adalah ketika selesai makan buah, tiba-tiba saya merasa tersengat listrik dari kaki  hingga kepala dan mulai tidak sadarkan diri (inikah rasanya jika dicabut nyawa? Naudzubillah min dzalik), yang saya ingat terakhir adalah suara ibu saya yang memanggil-manggil suster (suami sedang mengurus administrasi).

Setelah sadar, saya dikabari bahwa Senin, 29 September 2014 saya harus dioperasi-sectio pukul 09.00. Bayi di dalam perut saya harus dikeluarkan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Di tengah informasi tersebut, saya masih mencoba untuk mencari 2nd opinion dan suami menghubungi dr. Meity yang rutin menangani saya dari bulan 1 kehamilan namun dr. Meity pun menyatakan bahwa kalau kondisinya seperti ini saya harus disesar “Semua dokter pun akan melakukan tindakan itu (sesar).” Akhrinya saya sudah pasrah jika memang harus melahirkan saat itu juga dengan proses sesar.

 

Mendekati Waktu Melahirkan

Entah hari apa saya di sana, jam berapa saya juga tidak tahu, saya merasa sakit perut, mulas, rasanya seperti ingin buang  air besar dan saya merasakan ada kepala yang akan keluar dari vagina saya (posisi kepala janin sudah di jalan lahir). Saya teriak-teriak di IGD (mungkin mengganggu calon-calon ibu yang akan melahirkan di ruangan itu, maaf ya…) karena tidak tahan dengan mulesnya. Bidan datang dan menyatakan bahwa saya mengalami kontraksi dan sudah pembukaan 3 dan air ketuban sudah keluar. Rasa mules semakin tak terbendung, bidan kembali datang untuk mengecek, ternyata selang beberapa menit sudah pembukaan 5. Bidan langsung menghubungi dokter dan saya diberikan obat anti kontraksi untuk menahan pembukaan dan saya sudah tidak sadar lagi.

Sebagai informasi, ibu hamil penderita eklampsia dilarang keras melahirkan normal (harus melalui persalinan sesar) untuk menghindari resiko kematian Ibu/Janin atau keduanya.

Tekanan darah masih terus tinggi hingga kejang

Tekanan darah masih terus tinggi hingga kejang

 

29 September 2014 pukul 08.30

Jadwal operasi dimajukan 30 menit. Satu-satunya yang saya ingat adalah: saya memasuki ruangan operasi dan disapa oleh dr Anita “Halo, selamat pagi…” sambil tersenyum . Selebihnya saya tidak sadar sama sekali (kata orang-orang disuntik sesaat sebelum operasi sesar sangat sakit, tapi saya tidak merasakan apa-apa karena tidak sadar). Operasi sesar saya sangat beresiko karena dilakukan dengan kondisi saya yang tidak sadar, untungnya dr Arju Anita adalah dokter yang (kata orang-orang) berpengalaman mengalami ibu dengan gawat janin.

Pupus harapan saya untuk melahirkan normal, pupus harapan saya untuk melakukan Inisiasi Menyusui Dini, pupus harapan saya melahirkan ditemani suami di sisi saya, pupus harapan saya memeluk bayi saya setelah dipegang oleh dokter dan suster. Bayi saya harus masuk inkubator dan kurang gula, sedangkan saya baru sadar (itupun belum sepenuhnya) siang menjelang sore. Saya tidak tahu bayi saya selamat atau tidak.

Ketika kelopak mata ini terbuka, saya berharap ada bayi yang bisa saya peluk dan saya cium.. namun yang saya lihat adalah perut saya yang sudah kempes dan melihat suami saya menunjukkan foto anak kami di handphone. “Anak kita sudah lahir…” Ujar suami saya.

Saya juga harus menahan sedih karena anak saya harus mendapatkan donor ASI saat itu juga atau menggunakan susu formula karena ia tidak bisa bertahan lama seperti bayi sehat lainnya. Saat itu juga ia harus diberikan asupan, akhirnya kami memutuskan untuk memberikan susu formula saja. Harapan saya pupus lagi untuk memberikan ASI pertama kali ke tubuh anak kami. Sedih rasanya jika mengingat hal itu, saya baru bisa menemui dan memeluk anak saya 24 jam setelah melahirkan.

Eklampsia 1

Hanya melihat foto anak saya melalui layar smartphone setelah saya sadar dan membuka mata. Pernafasannya masih dibantu selang oksigen dan langsung diberikan gula agar memiliki tenaga.

Dari apa yang saya alami, terselip rasa syukur karena Alhamdulillah anak kami sudah lahir dengan selamat dan saat ini tumbuh menjadi anak yang sehat dan ceria.

Pesan saya dari pengalaman saya ini adalah:

Kepada Ibu hamil,

*Agar lebih perhatian dengan kandungan dan kondisi Anda. Jika ada sesuatu yang tidak beres, jika memungkinkan langsung saja periksa ke bidan atau dokter spesialis kandungan.

*Jujur dengan kondisi Anda. Jujur kepada dokter dan suami apa yang dirasakan

*Percaya dan lakukan anjuran dokter

*Rutin kontrol

*Jangan sepenuhnya mempercayai mitos

 

Kepada para suami,

*Do the best for your wife. Lakukan apa yang istri minta (sepanjang itu untuk kebaikannya), kalau bisa jangan sesekali menyakiti istri Anda dan memaksakan kehendak Anda. Sungguh,  mengandung dan melahirkan itu sulit.

 

Kepada orang-orang di sekitar ibu hamil.

*Agar lebih perhatian dengan ibu hamil, memberikan tempat duduk di transportasi umum dan sebagainya.

 

Note:

Penyakit pre-eklampsia dan eklampsia ini belum diketahui pasti penyebabnya (masih diteliti oleh para ahli), jadi hati-hati. Tolong perhatikan ibu hamil sekitar Anda.

Jika Anda divonis pre-eklampsia atau eklampsia, bersabarlah dan berdoa kepada Allah. Serta pasrah dengan apa yang terjadi.

 

Ada artikel bagus, singkat dan mudah dimengerti mengenai eklampsia yang ditulis oleh dr. Aldi. SpoG. Klik di sini.

 

 

Merawat Diri, Apresiasi Diri Sendiri

Apresiasi dibutuhkan untuk kita dalam eksistensi di dalam kehidupan ini. Apresiasi untuk diri sendiri tidak hanya dari faktor luar (orang lain) lho, kita sendiri pun bisa mengapresiasikan diri sendiri dengan berbagai macam cara. Kalau bahasa mudahnya sih, me-time. Apalagi ibu-ibu bekerja+berstatus mahasiswi seperti saya, membutuhkan me-time untuk diri sendiri.

Biasanya dalam 1 bulan sekali, sepulang kuliah di weekend days, saya menyempatkan diri untuk melakukan perawatan diri di salon, mulai dari hair-mask, manicure-pedicure, lulur/body scrub, dan mandi susu/rempah. Perawatan yang saya lakukan tidak hanya sekedar kecantikan dan relaksasi, tapi juga memberikan nutrisi untuk tubuh. Ini merupakan gift untuk saya sendiri atas kegiatan sehari-hari untuk pekerjaan, pendidikan dan keluarga.

Pentingnya merawat diri untuk Nutrisi Tubuh

Kesehatan Rambut

Saya biasanya hair-mask dengan coklat agar rambut halus, lembut, dan berkilau. Selain itu Kandungan tembaga, seng, dan besi dan beberapa mineral dalam dark chocolate juga merangsang pertumbuhan rambut.

Kesehatan Tubuh

Saya suka sekali lulur dengan strawberry karena Buah yang satu ini banyak mengandung asam salisilat (salah satu jenis asam beta-hidroksi) yang membantu mengencangkan kulit, serta vitamin B, C, E, dan K untuk mengencangkan kulit juga menyehatkan dan meremajakan kulit.

Lulur strawberry untuk relaksasi dan kesehatan tubuh

Lulur strawberry untuk relaksasi dan kesehatan tubuh

Setelah itu saya menyayangi badan+kulit dari pundak sampai ujung kaki dengan mandi susu. Didalam susu mengandung berbagai nutrisi yang baik untuk kulit, diantaranya adalah Vitamin A yang membantu menjaga kulit kita kenyal, Asam amino esensial untuk kesehatan yang baik dari kuku dan rambut, serta Asam laktat yang bermanfaat untuk melembabkan kulit dan melembutkan kulit.

bath-milk menutup paket perawatan-apresiasi-diri saya.

bath-milk menutup paket perawatan-apresiasi-diri saya.

Yuks, Apresiasi Diri Sendiri untuk kehidupan yang lebih baik 🙂

*Tulisan ini disertakan dalam lomba blog Nutrisi Untuk Bangsa #MengapresiasiDiriSendiri

b8b496341057df6608bcda6ef2b8d784

Menelusuri Gizi Gado-Gado

Jika ditanya apa makanan Indonesia yang paling mendunia, pasti kebanyakan yang menjawab rendang, sate ayam, nasi goreng, maupun bakso (kesukaan Presiden Obama). Tapi tahukah Anda bahwa gado-gado adalah makanan yang saat ini juga mendunia dan dicari orang, lho! Perlombaan memasak internasional di Napoli pada tahun 2010, menjadi pembuktian gado gado bukan sembarang makanan. Di ajang ini gado gado menjadi juara pertama kategori tampilan sajian estetika.

Tidak ada yang tahu persis asal muasal salad asli Indonesia ini, namun sebagian besar referensi cenderung mengasosiasikan Gado-Gado sebagai hidangan asli dari Betawi. Asal usul nama pun nampaknya senasib dengan asal muasalnya.

Selfie sama gado-gado :D

Selfie sama gado-gado :D

Alasan saya mengulas gado-gado di dalam perlombaan blog Jelajah Gizi adalah :

  1. Gado-gado (menurut saya) harganya murah, jadi bisa berhemat deh J
  2. Gado-gado mudah ditemui, khususnya di lingkungan rumah dan perkantoran.
  3. Saya yang kurang suka dengan nasi, bisa makan gado-gado menggunakan lontong
  4. Gado-gado banyak sayurannya (untuk saya yang suka makan sayur)
  5. Makan gado-gado tidak membuat feeling guilty
Gado-gado pesanan saya sedang dibungkus. Bukti bahwa Gado-gado mudah dicari di mana saja.

Gado-gado pesanan saya sedang dibungkus. Bukti bahwa Gado-gado mudah dicari di mana saja.

Gado-gado yang dijual biasanya berisikan tempe, tauge, tahu, kentang, pare, timun, dan kangkung. Nah, masing-masing bahan makanan yang ada di Gado-gado ini banyak khasiatnya. Kandungan gizi yang ada pada makanan khas Betawi tersebut bermanfaat bagi perkembangan metabolisme tubuh karena campuran sayuran yang memiliki banyak kalori dan karbohidrat. Berikut adalah gambar kandungan gizi yang ada pada 1 porsi makanan Gado-Gado (yang biasanya saya makan, karena biasanya berbeda-beda isinya tiap penjual):

  1. Tauge = Meningkatkan Kesuburan

Tauge ini, meski kecil tapi dipercaya meningkatkan kesuburan (mungkin saya langsung punya anak setelah menikah karena sering makan gado-gado yang banyak tauge-nya kali ya hehe). Di dalam tauge ini terdapat vitamin A,B kompleks, C,E, serta mineral seperti kalsium, zat besi, magnesium, kalium, serat, folat, asam amino dan protein.

  1. Kentang = Bagus untuk Kulit

Kentang ini mengandung karbohidrat. Jika saya sedang tidak mau pakai lontong, biasanya kentang menjadi alternatifnya. Kentang mengandung nutrisi lengkap karena memiliki kandungan vitamin C, B-Kompleks, kalium, magnesium, zinc serta fosfor, dan ini bagus untuk kulit.

  1. Kangkung = Kaya Zat Besi

Kangkung itu kaya akan zat besi dan ini sangat bermanfaat bagi orang yang terkena anemia serta wanita hamil yang membutuhkan zat besi.

  1. Tahu = Protein Nabati Terbaik

Tahu memiliki protein nabati terbaik karena mempunyai komposisi asam amino paling lengkap dan diyakini memiliki daya cerna tinggi (sebesar 85% – 98%). Dengan harga yang lebih murah, masyarakat cenderung mengonsumsi tahu sebagai makanan pengganti protein hewani. Pada tahu terdapat protein, lemak, karbohidrat, kalori dan mineral, fosfor, vitamin B-kompleks seperti thiamin, riboflavin, vitamin E, vitamin B12, kalium dan kalsium.

  1. Tempe = Sumber Protein Si Binaraga

Tempe mengandung sekitar 18 jenis protein dan asam amino yang mudah dicerna tubuh, sangat cocok untuk mereka yang menjalani diet dan weight loss seperti para atlet bianraga dan fitness mania.

  1. Telur = Bagus untuk Otak

Telur mengandung 74 kalori, protein, lutein dan zeaxanthin, dan vitamin D. Kuning telurnya merupakan salah satu sumber nutrisi kolin yang bagus untuk perumbuhan otak janin dan fungsi otak pada orang dewasa.

  1. Timun = Menjaga Tekanan Darah

Timun juga mengandung kalori yang rendah, kalium yang tinggi, antioksidan, tinggi air rendah natrium untuk mencegah dehidrasi, dan mengandung vitamin K

  1. Pare = Pahit di Lidah Tapi Manis Khasiatnya

Pare mengandung zat lesichin untuk menangkal sel kanker, adanya kandungan protein alpha-momocharin atau MAP 30 membatasi perkembangan HIV, serat, vitamin C, kalium dan karoten bagus untuk pencernaan, vitamin C-nya dapat memelihara kecantikan dari efek buruk sinar ultraviolet

Gado-gado untuk makan siang

Gado-gado untuk makan siang

Nah, banyak sekali ya manfaat memakan gado-gado yang sudah mendunia ini. Asalkan ketika makan gado-gado diusahakan jangan terlalu banyak dicampur bumbu kacang dan kerupuknya. Mari kita jadikan makanan Indonesia yang bergizi ke kancah internasional!

Video tentang Gado-gado bisa dilihat di sini:

(Sumber:Movie Coupon Indonesia / Courtesy : YouTube)

*Tulisan ini diikutsertakan ke dalam Blog Writing Contest “Jelajah Gizi” @Nutrisi_Bangsa persembahan dari Sari Husada

poster-jelajah-gizi

 

Kecewa Pelayanan IGD RS Graha Permata Ibu Depok

Disclaimer: Sebelumnya saya sudah submit keluhan melalui websitenya namun sampai saat ini tidak ada follow up sama sekali dari pihak RS sehingga saya terpaksa menuliskannya di sini. Oh ia, saya telepon ke RS tidak ada yang menjawab telepon saya ketika saya bilang mau complain.

Depok, 14 September 2015

23.00

Izzan demam lagi.

Ketika diminumkan obat demam, tiba-tiba matanya mengarah ke atas dan ketika dipeluk badannya kejut-kejut sebentar.

Panik, bangunin pengasuh Izzan, gak ganti baju, gak bawa apapun, bahkan gak sempat pakai kacamata, yang penting harus ke RS segera! Untungnya suami izin pulang cepat dan kami akhirnya ke RS Graha Permata Ibu Depok karena paling dekat dengan rumah kami.

Di dalam mobil, Izzan diam saja namun mata tetap ke atas, ditepuk-tepuk tidak bereaksi dan tiba-tiba di tengah perjalanan terdengar suara “grooook” dan habis itu tidak bersuara lagi (tambah panik). Pengasuh Izzan di jok belakang sudah menangis dan memanggil-manggil Izzan, saya yang berusaha mengatasi panik malah tambah panik.  Tiba di RS, saya sempat salah turun karena tidak pakai kacamata, sambil lari-larian saya pun mencari UGD dan akhirnya ada security yang datang membantu.

Sampai di UGD, saya langsung membaringkan Izzan dan Izzan langsung dipasangi selang oksigen. Setelah itu dokter jaga keluar dari kamar untuk memeriksa Izzan. Selesai diberikan obat, Izzan sudah bersuara, mengigau dan menggesekkan gigi-giginya satu sama lain (greget-gregetin gigi), saya langsung lapor dokter dan suster, kemudian mereka bilang “Gak apa-apa, itu efek dari demamnya” (dalam hati: kok kayaknya saya harus melakukan sesuatu, tapi apa saya tidak tahu?). Ternyata itu adalah efek dari stip dan mulutnya harus diganjal sesuatu agar lidahnya tidak tergigit (saya baru tahu setelah keluar dari RS dan dapat bbm dari ibu dan tetangga).Di sini saya sudah mulai kesal “KENAPA DOKTER/SUSTER TIDAK MEMBERITAHU SAYA UNTUK MENYUMPAL SESUATU DI MULUT IZZAN. KALAU KENAPA-KENAPA MEMANGNYA MEREKA MAU BERTANGGUNG JAWAB?”

Setelah itu Izzan dikompres pakai air dingin, tapi setau saya jika sedang demam, kompres menggunakan air hangat. Kok mereka pakai air dingin yang sepertinya air keran? Kemudian ketika Izzan BAB, mereka hanya memberikan tisu dan sama sekali TIDAK MEMBANTU kami membersihkannya, padahal di RS JMC (RS langganan kami) mereka akan membantu pasien/keluarga pasien jika pasien BAK/BAB di kasur.

Ketika menunggu perkembangan Izzan, dokter menghampiri saya sambil berdialog dan dia berdialognya dengan MUKA JUDES dan OMONGAN yg KERAS sambil BENTAK (mungkin istirahatnya terganggu atau entahlah) :

Dokter: Ibu tahu dari mana kalau anak ibu panas?

Me: Ya tahu lah dok, suhu badannya kan panas! (Gak penting banget lah saya lagi panik gini diceramahin. Harusnya dokter ikut menenangkan saya)

Dokter: Ibu harusnya cek pakai termometer! (Ya iyalah itu juga saya tahu!) Trus sekarang Ibu gak bawa minum?

Me: Enggak dok (Wong saya buru-buru ke RS). Gampang kok, kami bisa beli minum di kantin RS atau minimarket deket sini

Dokter: Ya udah, kasih minum dia! Air putih atau susu (sambil melengos ke dalam ruangannya)

Ketika saya ingin meminumkan Izzan, datanglah suster.

Suster: Ibu! Jangan diberi minum!

Me: Lho kenapa sus? Kata dokter tadi anak saya harus dikasih minum

Suster: Kalau lagi kayak gini gak boleh dikasih minum, bla bla bla (dia menceramahi saya) nanti anak ibu bisa lewat . Kalaupun Ibu mau kasih dia minum, posisinya gak gitu, harus dibangunkan!

(Kok bisa-bisanya suster bisa ngomong kaya gitu di tengah kepanikan kami)

Me: Diam saja daripada marah-marah di UGD. (Padahal tadi saya juga akan membangunkan posisi Izzan, hanya saja si suster-sok-tahu ini tidak melihatnya.)

Setelah saya mengalami sendiri, ternyata benar apa kata orang-orang bahwa RS ini SANGAT TIDAK DIREKOMENDASIKAN. Dokter dan susternya judes, pelayanannya payah, bahkan suster pun tidak mau bantuin membuang diapers ketika kami bersiap pulang dan saya paling tidak suka omongannya yang ngawur. RS ini juga terkenal dengan mahalnya, tapi tidak sebanding dengan pelayanannya.

Pagi harinya saya langsung membawa DSA langganan Izzan di Jakarta Medical Center dan sesudah bertemu dengan dr Rebeca Izzan berangsur membaik, dr Rebeca pun dengan sabar menjelaskan demam dan kejang pada anak.

Jika ada yang kenal dengan manajemen RS Graha Permata Ibu, tolong sampaikan keluhan saya demi pelayanan RS yang lebih baik sehingga kesehatan masyarakat juga terjamin. Saya sudah berusaha menyampaikan langsung kepada mereka tapi hasilnya NIHIL.

Keberuntungan Bisa Diciptakan

Minggu lalu saya beruntung sekali dapat bertemu dengan motivator terkenal secara personal, yaitu Bapak Jamil Azzaini. Sebenarnya pertemuan kami ini dilandasi pertemuan bisnis, namun saya tetap bersyukur dapat bercakap-cakap di tengah padatnya jadwal Pak Jamil.

Di pertemuan itu Pak Jamil memotivasi saya dengan kata-katanya yang luar biasa, jadi gini yang saya tangkap:

“Keberuntungan itu sebenarnya tidak ada. Jika orang itu disebut beruntung, berarti itu adalah energi positif/energi baik yang ia kumpulkan.”

Selama ini kita selalu berpikir bahwa kehidupan orang lain itu enak sekali dan menyenangkan daripada kita dan kita berpikir bahwa orang itu sangat beruntung, padahal ‘keenakan’ dia itu adalah balasan dari sikap dia selama ini yang baik dan energinya dia yang positif.

Jadi kalau disimpulkan, karma does exist dan hukum kekekalan energi bisa berlaku di sini. Jika orang itu berbuat baik, maka kebaikan itu akan membalas dengan sendirinya melalui apa saja.

Jadi jika teman-teman merasa hidupnya kurang beruntung, coba deh berbuat baik dengan tulus, Insya Allah kebaikan itu akan berkumpul membantu Anda.

Nah, bagaimana dengan orang yang minim ibadah namun hidupnya bahagia? Kalau menurut saya, berbuat baik itu harus vertikal dan horizontal, vertikal di sini berarti beribadah kepada Tuhan YME dan horizontal berarti baik terhadap sesama. Nah, jika vertikal ini tidak dilakukan, maka bisa saja kebahagiaan yang-kita-lihat-dari-orang-lain-itu adalah ‘down payment’ dari Tuhan. Jadi orang itu diberikan kebahagiaan yang semu dan sewaktu-waktu akan diambil oleh-Nya misalnya sakit keras, kehilangan orang yang disayang, dan masih banyak lagi.

Intinya kita harus: Cerdas, Keras, iklhas.

Berfoto bersama Pak Jamil Azzaini, Kiyadon Pacific Place, 9 Oktober 2015

Berfoto bersama Pak Jamil Azzaini, Kiyadon Pacific Place, 9 Oktober 2015

 

Target Umur Menikah ?

Seamat Idul Fitri dari Wulan, Fikri, dan Dedek bayi dalam perut ^_^

Seamat Idul Fitri dari Wulan, Fikri, dan Dedek bayi dalam perut ^_^

Halo pembaca,

Sudah lama juga ya saya tidak menyapa Anda melalui blog ini. Sebelumnya saya beserta keluarga mengucapkan Selamat Idul Fitri 1435H, Mohon maaf lahir dan batin. Bagaimana dengan lebarannya?Pasti teman-teman ada yang mudik dan yang tidak. Kemudian bagaimana dengan ‘status’-nya? Apakah masih sendiri? Sudah punya ‘gandengan’, sudah menambah 1 anggota keluarga (hamil/punya anak lagi)? Hm, sepertinya masalah relationship ini cukup sensitif ya kalau masa lebaran gini…

Menjelang perayaan idul fitri, sudah banyak di antara kita atau mungkin Anda yang update status mengenai ‘pertanyaan-pertanyaan sensitif’ seperti mana calonnya ? Mayoritas yang ditanyakan kepada orang dewasa memang pasangan yaa…

Untungnya saya tergolong orang tidak pernah mendengar kalimat seperti itu karena di umur 22,5 sudah punya pasangan (suami) dan sedang hamil juga. Jadi saya tidak pernah merasakan ditanya “kapan menikah?”, “kapan pasangannya dikenalin?”, “Udah isi belum?”.

Kalimat yang saya terima dari saudara atau rekan-rekan orang tua adalah: “Duh, putrinya ‘Neng’ (ibu saya) udah besar ya, cepet hajatan/mantuan (menikah) dong….” Dan saya selalu menanggapi dengan santai sambil nyeletuk : “Ah, mana mungkin secepat itu. Minimal umur 25 tahun lah, sudah mapan bekerja, menjadi wanita karir, beli rumah, mobil dll.” Wah, baru sekarang saya berpikir mengapa saya bisa berbicara demikian ya? Saat itu saya seperti ‘jaga jarak’ dengan menikah (mungkin saat itu belum bertemu pria yang tepat). Seharusnya saya mengatakan “Insya Allah, doakan saja yaaa..” .

Ternyata sebelum umur 25 tahun dan belum mapan, saya sudah bertemu dengan pria yang tepat dan sudah menikah. Duh, saya jadi malu sendiri sama omongan saya terdahulu. Memang betul ya apa kata orang tua bahwa kita harus menjaga omongan, tidak boleh sembarangan, bisa jadi kita menelan ludah sendiri.

Akhir-akhir ini saya mendengarkan beberapa yang terdekat saya berbicara apa yang dulu saya katakan, bahwa belum ingin menikah jika bla bla bla atau ada pula yang menargetkan umur ke sekian. Hm, tidak salah juga sih, mungkin orang tersebut memiliki target atau tujuan lainnya. Namun berdasarkan  pengalaman saya, ucapan seperti itu patut dipikir ulang karena konon katanya wanita itu ‘pamali’ untuk menargetkan umur untuk menikah. Jadi, jika ada yang bertanya “kapan menikah?” mungkin lebih baik dijawab dengan ucapan meminta doa kepada orang yang bertanya, biar terlihat diplomatis juga 🙂 .

Selain itu kita sebagai wanita juga harus pandai-pandai menjaga omongan biar ga ‘ngelantur’ . Hehe….

Well, percaya atau tidak, itulah pengalaman saya pribadi.

Selamat berlebaran temans… Semoga Allah selalu menuntun kita di jalan-Nya. Amiinn…

 

 

Tips Memotret Pantai

Beberapa waktu lalu saya ‘mencuri’ ilmu dari Barry Kusuma, seorang fotografer terkemuka di tanah air dan say akan share tips yang saya dapat di blog pribadi saya. Here we go..

  1. Untuk memotret lansekap pantai, waktu terbaik adalah antara pukul 05.00 –  08.00 atau 16.00 – 19.00 (Kalau saya sih biasanya motret sunset karena terlalu ngantuk untuk motret sunrise. Hehe..).
  2. Bawa filter circular polarizer (CPL) untuk menghilangkan pantulan matahari di air laut, selain untuk memperbaiki warna langit jika cuaca kurang cerah.
  3. Matikan flash dan gunakan mode “Sunset” untuk kamera saku jika ingin membuat foto siluet aktivitas di pantai. Untuk DSLR, gunakan mode “Manual” dan ukur eksposur di area terang di belakang objek.
  4. Ukuran megapiksel bukan fitur terpenting dari sebuah kamera; tapi ukuran sensorlah yang perlu dipertimbangkan.
  5. Baca buku manual kamera untuk memastikan penggunaan fitur yang ada.
  6. Sebelum memotret, periksa kembali setting kamera. Misalya ISO rendah untuk memotret lansekap pantai di pagi dan sore hari, dan ISO tinggi untuk memotret sunset atau sunrise (jika tidak menggunakan tripod).
  7. Gunakan setting ISO serendah mungkin. Meski ada fitur noise reduction, namun ISO tinggi tetap akan mengurangi detail foto secara keseluruhan.
  8. Format memory card hanya di kamera, jangan di komputer. Sebelum memformat, pindahkan foto ke media lain seperti DVD atau external hardisk.
  9. Pilih file RAW untuk kualitas foto yang lebih baik daripada JPEG.
  10. Cara paling tepat meningkatkan kemampuan fotografi adalah dengan terus memotret. (oke, siap Om Barry!)

Semoga tips yang saya share dari Om Barry ini berguna ya bagi teman-teman yang sedang belajar fotografi!

Alhamdulillah Masih ada Orang Jujur dan Sudah Ada Sistem yang Canggih!

Siapa di sini yang pernah kehilangan ‘gadget’? Atau mungkin kehilangan barang kesayangan? Pasti di antara pembaca yang budiman pernah ada yang merasakan kehilangan-kehilangan. Kehilangan pacar, sampai kehilangan file buat skripsi atau tugas. Pastinya nyesek banget, kan? Itulah yang saya rasakan ketika iPad saya tercinta (karena satu-satunya) ketinggalan di taksi. Pasti teman-teman langsung nanya taksi apa? Jawabannya Blue Bird! Daaaannn teman-teman saya yang mendengarnya langsung tidak peduli karena mereka tahu jika barang tertinggal di Blue Bird, mayoritas aman dan selalu kembali kepada yang punya, ada lagi yang tidak peduli karena saya adalah karyawan Blue Bird yang mana mereka tidak khawatir barang saya hilang di ‘taksi sendiri’.

Jadi kejadiannya begini, Selasa 17 Februari 2013 sekitar pukul 8 malam lebih sedikit, saya menggunakan taksi Blue Bird (tentunya) dari Mampang ke rumah (Pejaten Barat), lalu saya menyimpan iPad di sebelah saya (tidak dimasukkan ke dalam tas karena penuh). Ada yang aneh pada malam itu,

Apa yang aneh, Lan? Pengemudinya berubah jadi Superman?

Bukaaaannn…. Jadi, selama dalam perjalanan, saya sama sekali tidak menyentuh iPad, padahal biasanya saya selalu ‘menyentuh’ iPad saya yang tidak pernah mati (kecuali ketika saya sakit parah). Sesampainya di rumah, saya langsung ke kamar dan masuk toilet karena ada ‘urusan pribadi’ yang tidak bisa ditahan lagi. Sesudah ‘urusan-yang-sangat-penting’ itu selesai, saya mau update status nih ceritanya… Eh, si iPad ga saya temukan di tas hitam saya. Saya panik dan mengobrak-ngabrik seluruh isi kamar, bahkan saya mereka  kejadian ketika saya masuk rumah sampai saya ke toilet.

Saya cek rak pot tanaman, ah mana mungkin ada di sini, nanti disiram sama ibu..

Saya cek di kompor, ah tambah gak mungkin, nanti dijadiin penggorengan sama ayah..

Saya cek di kolong meja, mungkin juga siih.. Siapa tahu saat itu saya sedang khilaf.

Setelah dipikir-pikir, oh iya! Kemungkinan tertinggal di taksi yang tadi saya naiki. Naasnya saya tidak hafal nomor taksi tersebut, yang saya hafal nomor depannya saja,yaitu “BJ” yang poolnya di Warung Buncit (Satu tempat dengan kantor pusat, dan kebetulan pacar saya supervisor-nya. Hehhe….). Langsung saya menghubungi pacar saya yang kebetulan pada saat itu sedang istirahat karena sakit. Pacar saya menghubungi bagian operasi pool dan customer care Blue Bird Group untuk melacak nomor taksinya terlebih dahulu.

Saya senewen dan meminta ayah untuk mengantarkan saya ke kantor. Sesampainya di kantor, saya langsung menghampiri bagian checking sampai-sampai petugasnya keheranan. Harapan saya hilang karena mereka tidak menemukan adanya iPad berwarna putih. Harapan saya tumbuh kembali ketika berada di ruang operasi meter, saya dibantu oleh pembina pengemudi untuk mengecek pengemudi yang membawa saya dengan menyebutkan ciri-cirinya, tapi ternyata tidak ketemu.Harapan saya pecah lagi.. Dengan langkah-tidak-lebih-dari-seribu, saya menuju ke tempat customer care. Mereka mempunyai sistem yang bisa melacak taksi yang membawa saya, bahkan saya tidak ingat dengan nomornya. Hebaaattt kaaan…?! *promosi terselubung*. Sesampainya di sana, saya bertemu dengan petugas Customer Care bernama Mba Dian dan beliau mengabarkan bahwa iPad saya sudah ditemukan dan diamankan oleh Pak Mukhlis (pengemudi)dengan nomor lambung taksi BJ 5382 yang posisinya sudah berada di sekitaran Semanggi.

Tuh kaaan jauhnya Pejaten - Semanggi (9.8 km)

Tadinya saya menyuruh Pak Mukhlis untuk datang ke kantor saat itu juga karena saya tidak bisa tidur tanpa iPad saya (ini beneran sedikit lebay), namun keadaan tidak memungkinkan karena saat itu ia baru saja menaikkan penumpang dan kondisi sedang macet. Akhirnya setelah saya pamit-pamitan dengan tim customer care, lalu tim operasi, dan mengabari pacar saya, saya pulang ke rumah dengan hati tenang. Alhamdulillah Wa syukurillah…

Sebenarnya saya tidak meragukan Blue Bird dan pengemudinya, hanya saja saya takut sebelum pengemudi yang menemukan barang, ada penumpang naik dan dia mengambil barang tersebut. Untungnya selama dari Pejaten hingga Semanggi (yang jaraknya mencapai puluhan km), taksi dalam keadaan kosong dan pengemudi sudah ngeh kalau ada iPad saya yang tertinggal.

Akhirnya saya ke ruang operasi meter di pagi hari dan bertemu dengan Pak Jati (Supervisor Shift 1 yang sedang bertugas) untuk serah terima barket. Ahh,, akhirnya saya tanda tangan di atas kertas tanda terima barket, dan nanti pengemudi dan iPad saya ada di daftar barket yang ada di majalah Mutiara Biru :D.

Tanda Terima Barang Ketinggalan :)

Terima kasih untuk:

Mas Fikri, Supervisor Operasi Meter Pool Warung Buncit, merangkap pacar yang saya cintai, yang sudah saya bentak-bentak karena ga hapal pengemudinya yang rambutnya udah ubanan semua :p *peace*

Mba Dian dan tim Cust Care yang sigap mengatasi masalah

Pak Santoso, Pak Heru, dan ops meter pool Buncit yang ikut kerepotan atas complain barket (barang ketinggalan) dengan nomor B-38 ini.. hehe :p

Petugas checking yang membantu mencari data nomor mobil yang sudah masuk ke pool

Ayah yang mengantarkanku balik ke kantor

Pak Mukhlis dengan nomor taksi BJ 5362 yang sudah mengamankan iPad saya

Tips untuk teman-teman:

  1. Usahakan untuk naik taksi terpercaya seperti taksi dari Blue Bird Group
  2. Selalu mencatat nomor lambung taksi
  3. Jangan lengah di dalam taksi
  4. Ketika turun dari taksi, cek barang bawaan

(sumpah ini bukan advertorial!) :p

Sekian dan terima kasih ya para pembaca yang budiman… Semoga teman-teman tidak akan kehilangan apapun itu yang berarti. Jika memang harus hilang, ikhlaskanlah.. (Sok jadi motivator :p)