PR =Tukang Cuci Piring

PR = Tukang Cuci Piring ?

Apakah benar bahwa tugas seorang Public Relations dapat disamakan dengan tukang cuci piring ?

Apakah karena keberadaan seorang PR di dalam perusahaan masih dianggap kurang penting?

Seorang PR hanya bekerja pada saat perusahaan sedang mengadakan program atau bahkan sedang mengalami krisis saja.

Mengapa pekerjaan PR disamakan dengan tukang cuci piring?

Menurut Silih Agung Wasesa saat menjadi pembicara di dalam seminar mengenai manajemen krisis mengatakan bahwa PR disebut sebagai tukang cuci piring karena PR hanya bertugas membersihkan yang berceceran, dalam hal ini krisis perusahaan tersebut. Orang lain yang berpesta (melakukan kegiatan apa saja hingga membuat kesalahan) namun PR-lah yang mengklarifikasikan. Jika perusahaan mengalami hal yang negatif, pasti PR yang dipandang negatif padahal bukan ia yang membuat perusahaan itu mendapat citra negatif. Namun anda tidak perlu khawatir untuk menjalani profesi PR, meskipun disebut sebagai ‘tukang cuci piring’, tapi profesi PR sangat menjanjikan di Indonesia seiring berkembangnya dunia komunikasi dan meningkatnya kesadaran perusahaan terhadap pentingnya seorang PR yang kompeten. Gaji seorang PR juga berbeda lho dengan tukang cuci piring yang sebenarnya…  Go PR!

4 comments

  1. Anny says:

    Kereennn…menurutku peranan PR dalam satu perusahaan adalah bagian dari tonggak berdirinya perusahaan itu, tanpa PR gimana tau buat nyusun strategi pasar dan antisipasi terhadap serangan kompetitor, ya gak sih mba hihihi

    • mwulan says:

      Kalau strategi pasar sebenarnya udah ada di bagiannya tersendiri, PR di sini sebagai media komunikasi internal-eksternal, transparansi publik, pencitraan dan masih banyak lagi :)))

Leave a Reply